Riaupos.co

TERUS LAKUKAN SERANGKAIAN UPAYA
Kominfo Blokir 1.285 Akun Pascabom Gereja Surabaya, Ini Rinciannya
2018-05-16 17:30:39 WIB
 
Kominfo Blokir 1.285 Akun Pascabom Gereja Surabaya, Ini Rinciannya
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Sebanyak 1.285 akun media sosial sejak terjadinya pengeboman sejumlah Gereja di Surabaya, Jawa Timur, telah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

Menurut Staff Ahli Kominfo Donny BU, ribuan akun itu diblokir sejak 13-16 Mei 2018. Adapun dari situs, forum dan file sharing terblokir 22 konten, sementara Facebook dan Instagram 562 akun.

Adapun dari Twitter 113 akun, Telegram 113 channel. Bahkan, YouTube Dan Google Drive 301 akun. Donny menyebut, dalam prosesnya, data itu didapat dari 3-4 hari proses blokir dilakukan.

“Sesungguhnya, proses yang sudah dilakukan oleh kami jauh-jauh hari dilakukan terus-menerus dan saat kejadian lebih diintensifkan dan dipercepat prosesnya,” terangnya.

Di antara upaya yang dilakukan Kominfo, yakni membuka aduan konten, internet sehat, siber kreasi dan lainnya.

“Isinya dengan melakukan literasi digital, kami lakukan untuk menghindari paham radikal,” terangnya.

Kini, ada 143 juta pengguna medsos yang berpotensi terkena virus radikal. Bersamaan dengan itu, propaganda kelompok radikalisme dan terorisme kerap bergerilya di dunia maya atau media sosial (medsos).

“Sekitar dua tahun yang lalu tanpa sengaja saya bersama teman-teman tim sedang masuk ke Youtube. Tiba-tiba ada video yang baru di-upload. Menurut saya bagus sekali. Judulnya, “Ayahku Teladanku”. Kami sempat download,” bebernya.

Itu, kata dia, merupakan video dokumenter yang bagus karena digarap secara profesional sinematografinya. Video itu diawali sekumpulan anak yang tengah latihan baris-berbaris dan latihan bela diri.

“Ternyata, ini video ISIS. Menariknya, sudah ada terjemahan bahasa Indonesianya. Di film itu, seorang anak memberikan testimoni, ‘Saya mengikuti teladan ayahku, ayahku dibunuh oleh kafir dan sekarang saya harus membunuh kaum kafir’,” paparnya mengutip kalimat dalam video itu.Dalam pandangannya, film itu jelas memiliki tujuan untuk mendorong orang menjadi radikal melalui sosial media. Dengan kemasan yang menarik, sangat memungkinkan membuat anak-anak dapat menonton dan menjadi terpengaruh.

“Jika film ini ditonton oleh anak-anak, sudah bisa dipastikan akan terpengaruh. Karena menurut saya, kemasan dalam film ini dibuat secara profesional dan mudah dicerna anak-anak,” ungkapnya.

Di film itu, kata dia lagi ada adegan anak-anak yang berkelompok disatukan dalam satu rumah, ruangannya gelap. Mereka bergerak seperti pasukan dengan menggunakan infrared, mengejar sesosok musuh yang mereka kejar.

“Ternyata, musuh yang dikejar mereka adalah warga negara asing yang sedang diikat matanya. Kemudian di adegan berikutnya musuh yang mereka kejar itu dieksekusi. Terlihat sangat real,” sambunganya.

Namun, beruntung, film ISIS itu tidak lama ada di youtube karena langsung di-takedown. Itu karena memang harus ada ketegasan atas audiovisual di media sosial yang berisi agitasi propaganda yang berbahaya.

“Kami dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mendorong penggunaan platform media sosial secara baik, sehat dan positif. Jelas sekali film itu sangat berbahaya karena itu harus di-takedown,” tuntasnya. (rgm)

Sumber: JPG
Editor: Boy Riza Utama



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=182624&kat=14

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi