Riaupos.co

Nakhoda Sunrise Glory Suruhan Sindikat
2018-02-13 11:23:00 WIB
 
Nakhoda Sunrise Glory Suruhan Sindikat
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Penyeludupan sabu seberat 1 ton 30 kg kapal MV Sunrise Glory dipastikan terhubung dengan penyeludupan 1 ton sabu kapal Wanderlust. Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya Achmad Taufiqoerrochman memastikan kedua kapal itu berasal dari satu jaringan.

Mantan Panglima Armada Barat (Pangarmabar) TNI AL tersebut menjelaskan, nakhoda Sunrise Glory ternyata merupakan mantan nakhoda Wanderlust, yang ditangkap di Cirebon oleh Polri. Nakhoda ini beberapa kali menggunakan Wanderlust untuk masuk ke Indonesia.

”Nakhoda ini suruhan dari sindikat, tiap awak kapal tidak saling kenal,” paparnya ditemui di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kemarin.

Jumlah sabu yang dibawa kapal Sunrise Glory ini awalnya mencapai 3 ton. 1,3 ton diturunkan di Perth, Australia. Lalu, 1 ton 30 kg berhasil diamankan TNI AL dan BNN. Sisanya, 670 kg itu masih dalam pencarian.

”Yang pasti ada sebuah kapal lain yang diduga terhubung dengan kapal Sunrise Glory,” ungkapnya.

Menurutnya, kapal lain ini sedang dianalisa posisinya berada di mana. Ada tujuh perwira TNI AL yang saat ini sedang bekerja untuk mencari kapal tersebut. ”Kelihatannya kapal lain ini sama sindikatnya,” terangnya.

Dari modus kapal Sunrise Glory, diketahui rentannya kejahatan terjadi menggunakan kapal laut. Kapal Sunrise Glory ini diketahui memiliki surat izin penangkapan ikan (SIPI) yang diduga palsu. ”SIPI-nya hanya fotokopian yang tertera berlaku 2017 hingga 2018,” paparnya.


Sementara Menteri KKP Sui Pudjiastuti menjelaskan, SIPI palsu itu menggunakan tanda tangan mantan dirjen yang sudah pensiun sejak 2009. Dengan modus ini, dapat diartikan bahwa di balik kejahatan ini merupakan sindikat yang terkoordinir dengan rapi. ”Ini sindikat besar,” paparnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, kapal asing dari Taiwan sebenarnya tercatat sudah ratusan kali masuk ke Indonesia. Hampir semuanya dengan cara ilegal. ”Kerugian Indonesia jelas sangat besar,” terangnya.

Sebab, kapal asing yang melakukan illegal unreported unregulated fishing itu kerap kali tidak hanya melakukan kejahatan mencuri ikan, namun juga melakukan berbagai kejahatan lain. Seperti penyeludupan narkotika, membawa hewan langka dan perdagangan manusia.

”Dulu ada kapal yang mencuri ikan di dalamnya ada hewan langka,” tuturnya.

Dengan begitu dapat diartikan kapal asing yang melakukan pencurian itu juga melakukan kejahatan internasional antarnegara. ”Jelas motifnya untuk semakin mendapatkan untung,” paparnya.

Sementara itu, Central Narcotics Bureau (CNB) Singapura kemarin memberikan klarifikasi terkait kapal penyeludup satu ton sabu yang menggunakan bendera Singapura. Lembaga pemberantasan penyalahgunaan narkoba di Singapura itu menyebut bendera yang dikibarkan kapal Sunrise Glory itu palsu.

Melalui keterangan resmi yang dirilis website CNB, otoritas Singapura menyatakan jika kapal itu aslinya teregister di Kaoshiung, Taiwan dengan nama “Shun De Man No.66”.(idr/jpg)


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=172980&kat=14

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi