Riaupos.co

Kemendagri Proses setelah Eksekusi
2017-11-14 11:15:11 WIB
 
Kemendagri Proses setelah Eksekusi
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kementerian Dalam Negeri Sumarsono menyampaikan prosedur pemberhentian Bupati Rokan Hulu (Rohul) Suparman SSos. Ini terkait putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan kasasi yang diajukan JPU KPK terhadap vonis di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru yang membebaskan Suparman dari tuntutan atas kasus dugaan korupsi suap APBD 2014 dan APBD-P 2015 Provinsi Riau.

Dikatakan Sumarsono, prosedur ini sudah diatur dalam Undang-undang 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda). Ketika putusan kasasi MA dieksekusi JPU KPK, maka mekanisme pemberhentian politikus Golkar itu sudah bisa dijalankan.

“Prinsip, segera diproses pemberhentiannya melalui prosedur, paripurna DPRD untuk pemberhentian bupati. Dan sekaligus pe­ngusulan wakil bupati sebagai bupati definitif ke gubernur,’’ ujar Sumarsono di Jakarta, Senin (13/11).

Selanjutnya, gubernur mengusulkan dokumennya kepada Menteri Dalam Negeri untuk diterbitkan surat keputusan (SK). Proses ini menurut pejabat yang akrab disapa Soni itu, memerlukan waktu.

“Masih perlu waktu administrasinya. Bila semua lancar, paling cepat dua mingguan,” ujar mantan Plt Gubernur DKI Jakarta ini.

Menyikapi statement Dirjen Otda Kemendagri, DPRD Rohul akan segera menyiapkan agenda pemberhentian Suparman melalui rapat paripurna. Ketua DPRD Rohul Kelmi Amri SH saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya secara prinsip siap melaksanakan apa yang menjadi tupoksi lembaga legislatif dalam menyikapi putusan MA terhadap persoalan yang menimpa Suparman.
“Kami secara prinsip siap melaksanakan semua proses yang dimaksud Dirjen Otda. Ini kan amanah Undang-undang Pemerintah Daerah. Dan semua pihak memaklumi hal itu,’’ sebutnya.

Namun, karena sampai saat ini DPRD Rohul belum menerima surat dan salinan amar putusan MA tersebut, maka pihaknya masih tetap menunggu.

’’Kami masih menunggu salinan putusan MA,’’ ujarnya.

Selanjutnya, Gubernur Riau akan mengusulkan proses itu ke Mendagri untuk diterbitkan SK Bupati Rohul definitif. Politisi Partai Demokrat Rohul itu tidak serta merta harus melaksanakannya, tanpa harus mempelajari secara teknis  dan administrasi.

“Bila salinan amar putusan MA itu sudah diterima DPRD Rohul, tentu kami akan segera tindaklanjuti sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku,’’ tambahnya.

Sementara terkait proses eksekusi terhadap Suparman, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku belum bisa melakukan. Karena sampai sekarang pihaknya belum menerima salinan putusan resmi dari MA tersebut.
“Putusan MA nenunjukkan bahwa seluruh tuntutan KPK benar adanya. Kami mengapresiasi putusan itu. Namun KPK sendiri belum bisa mengambil langkah eksekusi karena salinan resmi (putusan) MA belum kami terima,” sebut Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada Riau Pos di Jakarta, Senin (13/11).

Ia hanya bisa memastikan eksekusi akan segera dilaksanakan setelah petikan putusan diterima.

”Setelah putusan kami terima, langsung kami eksekusi. Lihat saja nanti,” tambahnya.    

Bapak Perlu Istirahat, Menenangkan Diri
Sementara itu, Suparman belum mau mengomentari putusan MA yang menerima kasasi JPU KPK. Dia memilih menenangkan diri dan memikirkan langkah yang akan diambilnya.

Beberapa hari usai kasasi diputuskan, Suparman dikabarkan berada di Pekanbaru. Riau Pos coba mendatangi kediamannya di Jalan Sri Indra IV, Palas, Rumbai, Senin (13/11). Rumah Suparman terletak di ujung jalan yang sedikit mendaki. Kondisi jalan sendiri sampai saat ini belum diaspal.

Saat ke sana, jalan menuju rumahnya sedang dikerjakan. Terlihat dari alat berat yang masih bekerja. Luas lahannya diperkirakan lebih kurang 1 hektare. Di bagian depan tak jauh dari jalan masuk ke rumah, tepatnya di sisi kanan berdiri musala dan ruang pertemuan di sisi kiri. Kedua bangunan ini seluruhnya terbuat dari kayu. Dua bangunan ini mengapit gerbang yang mengarah pada rumah utama di dalam. Di depan rumah utama terparkir dua mobil, satu unit Toyota Land Cruiser berwarna hitam dan satu unit Honda CRV berwarna silver. Saat tiba di depan musala terlihat tiga orang tukang sedang bekerja. Salah satu dari mereka datang menghampiri. Saat mencoba menjelaskan maksud kedatangan ingin mewawancarai Suparman, tukang ini pergi ke dalam dan menyampaikan maksud kedatangan. Tak lama berselang, dari dalam keluar ajudan Suparman bernama Rambe. Dia kemudian menyampaikan, Suparman belum bisa ditemui.

“Bapak belum mau mengomentari. Bapak perlu istirahat, menenangkan diri,” katanya.

Dia melanjutkan, pada saatnya nanti Suparman akan menyampaikan tanggapan terhadap perkara yang menderanya.

’’Nanti kalau bapak sudah tenang, akan berkomentar dan akan disampaikan. Saat ini hargai dulu keinginan bapak belum berkomentar,” ujarnya.

Kepada Rambe, Riau Pos sempat menanyakan kabar adanya penggeledahan yang dilakukan di rumah tersebut oleh KPK. Ini dibantahnya.

“Tidak mungkin ada penggeledahan. Kalau penggeledahan harusnyakan saat awal-awal dulu,’’ katanya.(fat/epp/nda/ali)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=166562&kat=14

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi