Riaupos.co

Pasukan Pemukul Reaksi Cepat
Seluruh Giant Bow Ditarik Mundur
2017-05-19 10:35:57 WIB
 
Seluruh Giant Bow Ditarik Mundur
 
NATUNA (RIAUPOS.CO) - Investigasi insiden yang menyebabkan empat prajurit Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Divisi Infanteri 1 Komando Strategis Angkatan Darat berlanjut. Polisi Militer TNI AD (Pomad) masih berusaha menggali data mengenai insiden tersebut. Berdasar laporan terakhir meriam giant bow yang mengalami gangguan dalam kondisi baik.

Insiden itu sendiri terjadi ketika latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (17/5) lalu. Latihan tahunan itu akan diresmikan Presiden Joko Widodo hari ini. Berdasar informasi yang diterima Jawa Pos (JPG) di lokasi kejadian, sejumlah perubahan dilakukan pascakejadian. TNI AD tidak hanya mengerahkan petugas untuk mengidentifikasi insiden tersebut. Melainkan juga turut menarik mundur seluruh meriam giant bow yang semula turut serta dalam latihan.

Total ada sembilan giant bow yang ditarik. Selain giant bow yang mengalami gangguan, delapan lainnya juga turut ditarik mundur. Namun demikian, Mabes TNI AD memastikan alutsista tersebut tetap siap siaga.

“Yang diidentifikasi hanya satu,” terang Kadispen AD Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh kemarin.
Dia pun menekankan kembali bahwa alutsista itu dalam kondisi baik. Sebab, Yon Arhanud 1/Divisi Infateri 1 sudah memeriksa peralatan tersebut sebelum dibawa ke Natuna. Denny menjelaskan, secara teknis meriam giant bow yang mengalami gangguan itu masih dalam keadaan baik.

“Dipelihara dengan baik di satuan Yon Arhanud 1/Divisi Infateri 1 Kostrad,” ungkap dia kepada JPG, kemarin (18/5).

Namun demikian, perwira tinggi TNI AD yang akrab dipanggil Denny itu belum bisa memastikan insiden tersebut bersumber dari malfungsi alutsista atau kesalahan prajurit.

Berkaitan dengan hal itu, POM TNI AD mendapat tugas mendalami insiden itu melalui investigasi. “Tim dari TNI AD masih, sedang, dan terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” terang Denny.

Hasil investigasi tersebut bakal dihimpun dan dilaporkan langsung kepada Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sebagai pemegang komando PPRC TNI.

Senada dengan Mulyono, Denny memastikan TNI AD memastikan setiap korban yang terdampak insiden di lokasi latihan PPRC TNI diurus dengan baik. Itu merupakan bentuk tanggung jawab TNI AD terhadap para korban peristiwa tersebut.

Denny menjelaskan, jenazah empat prajurit yang gugur dalam latihan yang puncaknya diselenggarakan hari ini (19/5) sudah berada di tengah-tengah keluarga masing-masing. Mereka diserahkan kepada keluarga tidak lama pascainsiden yang juga menyebabkan delapan prajurit TNI AD mengalami luka-luka terjadi. “Rabu malam (17/5), jenazah empat prajurit TNI AD yang menjadi korban dalam insiden kecelakaan latihan di Natuna telah diberangkatkan menuju daerah asal masing-masing,” beber Denny. Mereka dibawa terbang menggunakan pesawat TNI. Lebih lanjut Denny menuturkan bahwa penerbangan empat jenazah prajurit terbaik TNI AD itu dilaksanakan mulai pukul 19.55 WIB. Jenazah Danrai Kapten Arh Heru Bayu dibawa pulang ke kediaman keluarganya di Padang, Sumatera Barat.

Sedangkan, jenazah Pratu Marwan dibawa ke Pekanbaru.  “Jenazah almarhum Praka Edy ke Palopo dan jenazah almarhum Pratu Ibnu Hidayat ke Semarang,” jelasnya.

Seluruhnya dimakamkan secara militer sebagai bentuk penghormatan dari TNI AD kepada prajurit mereka. Sementara itu, kondisi delapan korban luka terus dipantau. Laporan terakhir menyebutkan bahwa kondisi empat korban luka ringan terus membaik. Mereka terdiri atas Pratu Ridai, Pratu Didik, Praka Edi Sugianto, dan Pelda Dawid. “Mereka berobat jalan,” kata Denny.

Kapenrem 031 Mayor Aprizal Sain menyebutkan memang salah seorang korban meninggal sempat transit di Bandara SSK II Pekanbaru. Akan tetapi, kampung halaman korban bukan di Riau. Melainkan di wilayah Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara.(syn/byu/jpg)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=152019&kat=14

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi