Riaupos.co

AKTIVITAS PETANI SEMANGKA DI JALAN MELATI, PANAM (1)
Sekali Panen Raup Rp52,5 Juta
2018-04-28 12:35:10 WIB
 
Sekali Panen Raup Rp52,5 Juta
 
Petani bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Kuncinya hanya perlu ketelatenan dan kesabaran. Latif sudah membuktikannya. Pria 44 tahun ini sukses menjadi petani semangka. Sekali panen, ia bisa meraup Rp52,5 juta.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Latif sudah enam tahun menggeluti profesi sebagai petani semangka. Dia tak punya lahan sendiri. Tetapi menyewa lahan seluas satu hektare di Gang Kayu Putih, Jalan Melati, Kecamatan Tampan. Harga sewa Rp1 juta per musim panen. Setahun, Latif bisa panen empat kali.

Saat Riau Pos mendatangi kebunnya, Kamis (26/4), terlihat tiga pondok kayu kecil berukuran dua kali dua meter, dua lantai. Satu pondok di ujung kanan, satu di ujung kiri, dan satunya lagi tepat di tengah area perkebunan semangka.

Latif sedang seorang diri duduk di pondok yang ada di tengah. Ia sedang bersantai sambil menelepon. Sesekali ia melempar pandangan ke area perkebunannya.

Setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB, Latif sudah ada ada di kebun semangkanya. Saat siang, ia pulang ke rumahnya di Jalan Naga Sakti. Dan kembali di sore hari.

Riau Pos melihat buah-buah semangka berukuran besar muncul di antara daun-daun yang merambat di tanah. “Semangka itu termasuk tanaman yang gampang untuk dirawat. Kuncinya harus telaten, rutin dan sabar. Karena masa-masa awal tanam itu lah yang harus perawatan rutin. Sering mengecek ke kebun tiap hari. Tapi, kalau sudah mau masuk masa panen seperti saat ini, itu sudah bisa santai,” kata Latif ramah.

Ia mulai bercocok tanam semangka sejak enam tahun lalu. Sebelumnya, Latif hanya bekerja serabutan.  


Ia memulai bertani dari nol. Latif banyak belajar dari seorang temannya yang sudah lebih dahulu bercocok tanam semangka. Menurut Latif, ia memilih bertani semangka karena di tahun-tahun pertama prospeknya sangat bagus.

“Dulu awalnya memilih bertani semangka karena di tahun-tahun pertama itu prospeknya sangat bagus,’’ sebutnya.

Tapi, setahun terakhir, ia mengaku cukup kesulitan. Tapi hal itu lebih dipengaruhi karena cuaca yang tak menentu.

‘’Satu tahun terakhir ini mulai susah. Permasalahannya itu ada di cuaca yang semakin tak menentu akhir-akhir ini. Kadang hujan kadang tidak. Musim sudah semakin tidak menentu. Cuaca ekstrem sekali sekarang, kadang hujan selebat-lebatnya, kadang panas, kadang ada hujan buatan juga kan? Sementara semangka ini baiknya mendapat cuaca yang stabil. Tidak panas terik, tidak juga berlebih air. Lebih baiknya saat musim kering, karena kalau banyak air justru bisa rusak bahkan busuk. Jadinya, kualitas panen juga tak bisa diperkirakan,” ungkap Latif.

Dari berkebun semangka, ayah tiga anak ini mampu menopang keperluan rumah tangga. Anak sulungnya kuliah semester dua di Universitas Negeri Lampung, anak keduanya di SMP dan anak bungsunya berusia tiga tahun. Istrinya membuka kedai kelontong.

“Keuntungan sekali panen per tiga bulan bisa mencapai 15 ton. Tergantung cuaca. Harga jual Rp3.500 rupiah per kilogram. Jadi bisa mendapat keuntungan sampai Rp52,5 juta. Kemudian dikeluarkan biaya bibit dan perawatan Rp15 juta. Sewa lahan per sekali musim panen Rp1 juta dan sisanya menjadi keuntungan pribadi. Bersihnya dapat Rp36,5 juta,” ujar Latif.(cr8-bersambung)



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=181474&kat=12

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi