Riaupos.co

Polda Telusuri Donatur 2 Terduga Teroris di Pekanbaru
2018-05-16 12:07:01 WIB
 
Polda Telusuri Donatur 2 Terduga Teroris di Pekanbaru
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Dua terduga teroris yang ditangkap di Sumatera Selatan (Sumsel) Senin (14/5) lalu berasal dari Pekanbaru. Yakni HR alias AR (38) dan HS alias AA (39). Mereka hendak melakukan aksi teror di Mako Brimob Kelapa Dua pascakerusuhan yang dilakukan para narapidana teroris.

Informasinya, aksi yang akan dilancarkan kedua orang ini didanai salah seorang warga Pekanbaru yang bernama Da. Sang donatur disebut-sebut bekerja pada salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Pekanbaru. Pihak Polda Riau pun akan mengambil sikap atas informasi tersebut.

“Nanti kami selidiki dan kami dalami (pendana terduga teroris),” kata Kapolda Riau Irjen Pol Nandang saat ditemui di Pekanbaru, Selasa (15/5) siang.

Dalam hal penanganan ini, Polda Riau juga dibantu Detasemen Khusus (Densus) 88. Tindakan yang diambil pihak kepolisian yakni melakukan penyelidikan, pengamatan, dan pengamanan. 

“Kami bersama-sama Densus 88 melakukan penyelidikan, pengamatan dan pengawasan, supaya tidak melakukan aktivitas (teror, red) di wilayah Riau,” sebut Nandang.

Saat ditanya apakah masih banyak jaringan teroris ini di Riau, Nandang menjawab bahwa masih dalam penyelidikan. Namun Nandang tak mengelak jaringan teroris ini ada di Riau. Buktinya, terduga teroris yang berasal dari Riau ditangkap Polda Sumsel. “Kalau dibilang nggak ada, jelas sudah ditangkap di sana (Sumsel, red). Ya, mudah-mudahan tidak bertambah,” ujarnya.

Pihaknya, kata Nandang, juga akan memeriksa keluarga dan kerabat terduga teroris yang tertangkap ini. Termasuk siapa-siapa yang tergabung dalam jaringan itu.


“Akan ditindaklanjuti juga penanganannya,” kata mantan Kapolda Sulawesi Barat ini.

Terkait dengan alamat rumah terduga teroris yang tertangkap tersebut, Nandang enggan memberi tahu. Namun, pihaknya juga melakukan penggeledahan di rumah itu.  “Tadi (kemarin, red) dari Polresta apakah sudah melakukan penggeledahan atau nggak,” sebutnya.

Nandang juga tak mau menjelaskan dua terduga teroris yang tertangkap di Sumsel tersebut tergabung dalam jaringan apa. “Yang menangkap kan dari Palembang. Pemeriksaan di Palembang. Kami belum bisa buat kebijakan karena yang memproses di sana. Saya belum bisa nyatakan jaringan mana,” ujarnya.

Nandang mengklaim pihaknya sudah mengantongi sejumlah jumlah terduga teroris yang ada di Riau. Pergerakan jaringan teroris ini terus dipantau pihak kepolisian. Hanya saja, Nandang tak mau menyebut berapa jumlah jaringan yang ada di Riau.

“Belum bisa kami sampaikan kepada teman-teman,” sebutnya.

Untuk mencegah aksi teror ini, kata dia, perlu dipererat persatuan dan kesatuan. Apa pun agama yang dipeluk, kebersamaan, toleransi, kepekaan terhadap lingkungan adalah hal mutlak yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat.  “Sesama kelompok agama rukun, ini sudah menjadi kontribusi yang sangat besar untuk menjaga keamanan dan ketertiban itu,” sebutnya.

Kapolda juga meminta masya­rakat tidak takut secara berlebihan atas aksi teror ini. Masyarakat diminta beraktivitas seperti biasa. Namun, masyarakat juga perlu peka terhadap lingkungan sekitar. “Jalin silaturahmi sesama warga di sekitar lingkungan juga penting,” ujarnya.

Sementara itu Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan kedua terduga teroris yang ditangkap di Palembang merencanakan untuk menyerang Mako Brimob Polda Sulsel. Sebelumnya, mereka juga sudah menyusun rencana untuk menyerang Mako Brimob di Depok. Namun, rencana itu urung terlaksana.


Rencana menyerang Mako Brimob Polda Sulsel, sambung Setyo, direncanakan oleh kedua terduga teroris itu ketika kondisi dan situasi Mako Brimob di Depok masih panas. Rencana itu bahkan disusun lebih dari dua terduga teroris.

”Ingin saya katakan bahwa sebetulnya tidak hanya dua (terduga teroris),” imbuhnya.

Berdasar data yang sudah dikantongi oleh Setyo, jumlah total terduga teroris yang turut menyusun rencana bersama AR dan AA ada delapan orang.  ”Tapi, yang tertangkap baru dua,” kata dia. ”Yang enam masih melarikan diri,” tambah dia.

Untuk itu, petugas yang bekerja di lapangan masih memburu enam terduga teroris lainnya.

Seluruhnya, sambung Setyo, merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). ”JAD juga, JAD Sumsel,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan teroris yang melibatkan keluarganya dalam aksi bom bunuh diri paling sulit dideteksi. Lantaran semua yang dilakukan oleh para teroris itu tidak wajar dan tidak masuk akal. Misalnya dalam pelibatan anak-anak para pelaku dalam aksi kejam itu. Apalagi dengan membonceng anak dengan sepeda motor sehingga petugas pun tak menduga bakal jadi korban.

”Saya sampai sangat bersedih. Saya bayangkan, apa yang dia bilang kepada anaknya sebelum pergi, mesti dia bilang ”Nak, ya kita ketemu di surga lah” bayangkan itu?” ujar JK dengan lirih di Kantor Wakil Presiden, kemarin (15/5).

Dia menuturkan, paham radikalisme itu berasal dari negara-negara gagal. Misalnya Al Qaeda yang berasal dari Afghanistan yang dilanda perang. Begitu pula dengan ISIS yang datang dari Syiria dan Iraq. Para simpatisan dari Indonesia itu pun pulang dan membawa paham itu.  ”Pulang membawa virus, membawa ilmunya, membawa kemauannya yang ditentukan seperti itu,” imbuh dia.

JK pun cenderung sepakat untuk melibatkan TNI dalam penanganan terorisme. Lantaran militer seperti TNI AD punya personel hingga di level kelurahan. Mereka bisa bekerja sama dengan polisi.

”Polisi punya Kapolsek. TNI punya Koramil. Jadi itu kalau dilibatkan semua kan bagus,” tambah dia.

Nah, pengeboman di Surabaya dan kerusuhan di Depok itu akan menjadi pendorong percepatan revisi Undang-undang tentang terorisme. diharapkan pada Mei atau Juni sudah bisa selesai. Meskipun, menurut JK, tidak perlu terlalu terpaku dengan rumusan-rumusan definisi terorisme.(dal/jun/syn/jpg)




 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=182603&kat=1

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi