Riaupos.co

PEKANBARU CLEAN
TPS Ilegal Wadah Sortir Sampah
2017-10-12 10:26:13 WIB
 
TPS Ilegal Wadah Sortir Sampah
 
KOTA (RIAUPOS.CO) - Penanganan sampah yang kurang maksimal masih banyak dikeluhkan sebagian masyarakat Kota Pekanbaru. Beberapa tempat penampungan sementara (TPS) ilegal bahkan dipergunakan sebagai lokasi sortir sampah oleh pengemis.

Seperti di Jalan Soekarno-Hatta, TPS sementara yang berada tepat di depan salah satu kantor asuransi itu, merupakan satu dari puluhan titik lokasi sampah yang kerap dijadikan sebagai tempat penyortiran sampah sisa-sisa makan yang diperuntukkan untuk ternak.

Bahkan saat Riau Pos menghampiri ke lokasi mereka, Rabu (11/10), pukul 10.00 WIB, masih terlihat beberapa masyarakat yang sibuk mengais  sisa - sisa makanan yang ada di dalam kantong plastik sampah yang dibuang warga.

Sampah sisa buah-buahan mereka pisahkan dengan cara memotong-motong hingga menjadi ukuran kecil sedangkan sampah botol air mineral mereka bersihkan dari logo produk yang masih tertempel.

Inong (43), salah seorang warga menuturkan, ia berada di lokasi TPS ini dari pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB. Disaat tumpukan sampah kian menggunung dan belum terlalu banyak diangkat oleh petugas pengangkut sampah.

Saat ditanya terkait jadwal mobil pengangkutan sampah oleh petugas, ia menuturkan pengangkutan sampah di lokasi ini terjadi dua kali dalam sehari, di pagi dan sore hari. Namun kadang jika sampah di ruas jalan ini terlalu banyak, petugas pengangkut sampah bisa tiga kali. “Tadi pukul 09.00 WIB ada mengangkat sampah, nanti sekitar pukul 16.00 WIB ada lagi pengangkut sampah yang datang,” terangnya.
Ia yang sudah belasan tahun memulung sampah di lokasi ini memang sempat dilarang oleh satgas yang berjaga. Namun semenjak satgas pengawas sampah sudah tidak lagi ditempatkan di lokasi ini, ia dan beberapa pengemis lainnya kembali datang untuk menyortir sampah.

“Bulan dulu memang ada petugas, makanya kami nggak bisa nyari sampah di sini. Tapi sekarang karena petugasnya nggak ada, iya kami berani lah. Kalau petugas yang pengangkut sampah, kami ya biasa aja, kadang kalau pas mereka datang sampah yang sudah kami bongkar ini, kami pisahkan jadi mereka ngambil yang sudah kami sortir,” terang Inong yang terlihat tengah asik memotong-motong buah semangka busuk ke dalam bungkusan plastik merah.

Farman (36) pemilik warung kopi di pinggir Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Sidomulyo Timur, Marpoyan Damai ini mengatakan, setiap hari ia terpaksa harus menahan aroma bau busuk yang keluar dari tumpukan sampah yang hanya sekitar 80 meter dari tempat jualannya.

Apalagi para pengemis yang terus mengorek-ngorek sampah semakin menambah aroma busuk yang keluar jika terik matahari tengah melambung tinggi.

Ia sudah pernah melarang para pengemis untuk tidak mengobrak-abrik sampah yang ada di sana. Namun para pengemis tidak mendengarkan ocehannya dan bahkan ia sempat beradu argumen dengan salah seorang pengemis yang malah menantangnya saat dilarang.
“Kita sudah malas mau melarang, sudah pernah dilarang tapi macam dia pula yang punya tempat ini. Kita minta baik-baik mereka malah ngajak berantem, jadi ya sudahlah biarkan petugasnya aja yang melarang. Tapi sekarang petugasnya malah nggak ada, kami juga nggak bisa berbuat apa-apa cuma pasrah aja lah dulu.  Asal sampahnya tidak ikut beterbangan ke tempat usaha kami,” kata Farman.

Iswadi, staf Bidang Pengawasan Peningkatan dan Kapasitas DLHK Pekanbaru membenarkan ketidakadaan satgas pengawas sampah di lokasi TPS sementara itu.

Ia mengatakan satgas yang baru akan diturunkan bulan depan sebanyak dua orang untuk kembali mengawasi pembuangan sampah yang kerap terjadi di luar jadwal dan juga keberadaan pengemis yang mengais-ngais sisa sampah di sana.

Dulu memang ada satu orang petugas yang berjaga di sana, namun setelah insiden pelemparan alat komunikasi milik petugas yang dulu berjaga dilakukan oleh pelaku pembuang sampah di luar jadwal, makanya untuk sementara ini dipindahkan ketempat yang lain menunggu ada satgas yang bisa lebih aktif lagi bertugas di sana.

“Di sana itu memang sulit untuk kami kendalikan, baik pemulung dan warga yang kedapatan membuang sampah di luar batas waktu juga sama bandel dan kerasnya. Sudah kayak preman di sana itu, makanya kami juga sedang mempersiapkan satgas yang bisa mengimbangin semua itu,” ucapnya.Dikatakan Iswadi, pihaknya tidak melarang pengemis untuk mengais sampah di sana. Hanya saja, kegiatan penyortiran itu dilakukan sesuai jadwal pembuangan sampah dari pukul 18.00 WIB hingga 05.00 WIB.

Sehingga warga juga tidak ikut-ikutan membuang sampah di luar ketentuan yang telah berlaku.

Untuk pemberlakuan sanksi bagi para pelanggar kini sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui DLHK dan berbagai instansi terkait lainnya. Sehingga mulai 1 Oktober ini sanksi tindak pidana ringan (Tipiring) sudah diberlakukan. Hanya saja petugas di lapangan yang belum mendapatkan surat terkait sanksi ini belum berani bertindak.

“Sanksi sudah diberlakukan mulai 1 Oktober ini, cuma karena surat yang untuk satgas di lapangan masih belum turun, mereka jadi belum berani bertindak tanpa surat itu. Makanya karena baru beberapa hari ini disahkan, nanti kami akan berikan kepada petugas di lapangan, agar mereka bisa bertindak kalau memang sudah tidak bisa lagi diberikan peringatan,” jelas Iswadi.(cr2/ade)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=164095&kat=1

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi