Home » Berita

BERITA INDRAGIRI HILIR

Trauma, Saksi Mata Takut Melihat Kucing

Sabtu, 13 Januari 2018 - 11:16 WIB | Dibaca 1689 Klik
BERCERITA: Fitriyani (kanan) bercerita soal pengalamannya menyaksikan penerkaman harimau yang menewaskan Jumiati di areal kebun sawit PT THIP, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Inhil, beberapa waktu lalu. (FOTO : SARIDAL/RIAU POS/RPO)

Jumiati (30), tewas diterkam harimau di areal perkebunan sawit PT Tabung Haji Indo Pantation (THIP), Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir (Inhil), Rabu (3/1). Kejadian itu disaksikan oleh Yusmawati (33) dan Fitriyani (40).

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Yusmawati, Fitriani dan korban Jumiati adalah karyawan tetap Eboni Estate PT THIP. Mereka bekerja mendata pohon kelapa sawit yang terserang hama ganoderma. Pekerjaan ini sudah lama mereka tekuni. Banyak pekerja lainnya yang sama dengan mereka. Semua perempuan. Jumlahnya 16 orang, khusus di kebun dengan luas 643 hektare.

Sistem pekerjaan ini menuntut mereka harus menetap di wilayah perkebunan sawit. Pihak perusahaan menyediakan tempat tinggal untuk mereka dan keluarganya. Tepatnya di Afdeling I. Ini masih di dalam areal perkebunan milik PT THIP yang luasnya sekitar 80.000 hektare itu.

Banyak rumah karyawan di sini, sekitar 50 unit. Rata-rata berbentuk panggung. Dibuat dari kayu dan papan dengan desain sederhana. Ukurannya juga tak terlalu besar. Sekitar ukuran rumah tipe 36. Rumah-rumah ini berdiri di tepi kanal yang sengaja dibuat sebagai jalur transportasi di dalam kebun.

Ahad (6/1) siang, Riau Pos mendatangi rumah korban. Namun, rumah itu terkunci. Tak ada penghuni. Kata warga, suami dan anak-anak korban sedang berada di kampungnya, Medan, Sumatera Utara. Di sana korban dimakamkan. Sementara, di rumah Yusmawati yang lokasinya tak jauh dari rumah korban, ramai didatangi warga. Ada yang duduk di teras, ada pula yang sedang bersimpuh di dalam rumah. Di ruang tamu rumah itu, terlihat Yusmawati terbaring tak berdaya. Dia begitu lemah. Bibirnya pucat. Matanya sayu. Tak bersemangat.

“Alhamdulillah sehat,” jawab Yus saat ditanya terkait kondisinya. Nampak  jelas dia menutupi rasa pilu yang dialaminya. “Sekarang sudah agak mendingan dari kemarin,” sahut Eriono (37), suami Yus yang duduk di sampingnya.

Perlahan Yus bangkit dari tempat tidurnya. Ia kesulitan menegakkan kepala.