Waspada Difteri Di Negara Berkembang
Senin, 27 Agustus 2018 - 13:50 WIB > Dibaca 3963 kali Print | Komentar
Waspada Difteri Di Negara Berkembang
Berita Terkait



(RIAUPOS.CO) - Beberapa waktu lalu, difteri sempat booming. Korban akibat penularan penyakit satu ini mulai berjatuhan. Banyak di antaranya adalah para anak. Gejalanya yang kadang tidak terdeteksi membuat seseorang yang terserang dan lingkungannya tak menyadari adanya penyakit satu ini. Namun, diam-diam, difteri yang ia miliki, menyebar kepada orang-orang di sekitarnya.

Ladies wajib banget deh waspada dengan penyakit satu ini. Difteri merupakan salah satu penyakit yang cukup mudah penularannya. Apalagi di kalangan anak-anak moms. Lebih lanjut, dr Dewi Anggraini SpMK menjelaskan, bahwa difteri merupakan jenis penyakit infeksi yang menular.

“Difteri adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Dengan manifestasi penyakit pada saluran napas dan kulit. Sebagian orang yang terinfeksi bakteri ini, tidak memperlihatkan gejala. Namun bisa menularkan kepada orang lain,” ujarnya.

Dokter spesialis mikrobiologi Klinik lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini memaparkan bahwa, pada awal abad ke-20, sebelum vaksin difteri ditemukan, penyakit ini merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama pada anak usia di bawah 15 tahun di seluruh dunia.

Saat ini, di negara maju penyakit ini relatif jarang. Namun, di negara berkembang yang berada di Afrika, Asia, termasuk Indonesia, Timur Tengah dan sebagian Eropa, penyakit ini masih menjadi masalah serius. Dikarenakan cakupan vaksin yang tidak menyeluruh.

“Permasalahan negara berkembang salah satunya adalah, vaksin yang tidak merata. Kita harus menilai dari pelaksanaaan program vaksin dari pemerintah. Namun, adanya paham antivaksin yang berkembang belakangan ini, sangat mengkhawatirkan. Golongan antivaksin membawa isu agama ke dalamnya. Edukasi yang terus menerus harus kita lakukan agar vaksin ini bisa menyeluruh diberikan. Dengan begitu, angka korban difteri bisa ditekan,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Riau ini.

Ia melanjutkan,  bakteri C diphteriae memproduksi toksin yang dapat menyebabkan kematian sel. Penyakit difteri ditularkan melalui kontak erat dengan material infeksius dari penderita.  Berupa titik-titik  ludah atau sekret dari kulit yang terkena.

Penyakit difteri paling sering menimpa anak usia kurang dari 15 tahun. Penyakit difteri yang tersering mengenai saluran napas. Gejalanya dimulai dengan demam, lemas, nyeri saat menelan dan pembengkakan pada kelenjar getah bening di leher. Kemudian, akan terbentuk lapisan keabu-abuan di tenggorokan. Lapisan ini bisa dibilang yang paling khas untuk penyakit ini.

“Lapisan ini dapat meliputi seluruh tenggorokan yang disertai pembengkakan area tersebut. Sehingga, dapat menyebabkan kesulitan atau sumbatan saluran napas yang dapat menyebabkan kematian. Toksin difteri yg menyebar ke seluruh tubuh juga dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem syaraf yang juga menyebabkan kematian,” terangnya.

Wah, bahaya juga nih kalau dibiarkan. Lebih lanjut, dokter spesialis RSUD Arifin Achmad ini kembali menekankan, bahwa penderita difteri dapat diobati dengan memberikan anti toksin untuk menetralisir toksinnya dan antibiotik untuk mematikan kumannya. Di samping juga pengamanan saluran napas, pemantauan jantung dan sistem syaraf.

Jika dibiarkan, angka kematian akan meningkat jika pasien tidak segera diberikan anti toksin. Apalagi, jika yang terserang adalah sang buah hati yang belum bisa mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

So, Mommy harus lebih waspada lagi akan tumbuh kembang dan kesehatan sang buah hati. Mengingat difteri ini rentan menyerang anak usia di bawah 15 tahun. Jangan sampai, gejala yang sudah ada justru terabaikan karena kurangnya kepekaan kita pada anak. Vaksin difteri juga perlu diberikan sesuai dengan jadwalnya. Menurut dokter Dewi, hal ini menjadi penting. Sebab, vaksin mampu mencegah anak dari difteri. Sehingga, tubuhnya bisa menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang dari penyakit mematikan ini Ladies.(azr/aga)
KOMENTAR
Berita Update

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo
Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi
Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib

Bupati Puji Kepala BPN
Selasa, 25 September 2018 - 15:30 wib

Museum Ganja Tampilkan Bong Tertinggi di Dunia
Selasa, 25 September 2018 - 15:30 wib

Narkoba Adalah Tiket ke Neraka
Selasa, 25 September 2018 - 15:00 wib
BPN Riau Gelar Apel Hari ATR
34 Pegawai Terima Satya Lencana
Selasa, 25 September 2018 - 14:40 wib
Schneider Electric Garap Pasar Rumah Sakit Indonesia

Schneider Electric Garap Pasar Rumah Sakit Indonesia
Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib

Semarakkan HPI, Penyair Riau Hadir di Pasaman Sumatera Barat
Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib
Waspadai Penipuan Seleksi CPNS

Waspadai Penipuan Seleksi CPNS
Selasa, 25 September 2018 - 14:30 wib

Komunitas BR-V Meriahkan Showroom Event Honda Soekarno Hatta
Selasa, 25 September 2018 - 14:26 wib
Cari Berita
Ladies Terbaru
Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Senin, 24 September 2018 - 16:08 WIB

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 WIB

OOTD Jadi Inspirasi Fashion Bagi Banyak Orang

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 WIB

Perbaiki Tampilan Estetika Wajah Dengan Suntik Filler

Senin, 17 September 2018 - 17:09 WIB

Nude Color Look, Sentuhan Kesederhanaan

Jumat, 14 September 2018 - 18:00 WIB

Sagang Online
loading...
Follow Us