Wonderful Indonesia
Konflik Harimau dengan Manusia di Indragiri Hilir (1)
Hari-hari Mencekam Diteror ’’Kucing Besar”
Jumat, 12 Januari 2018 - 10:49 WIB > Dibaca 3974 kali Print | Komentar
Hari-hari Mencekam Diteror ’’Kucing Besar”
UMPAN HARIMAU: Seekor kambing dijadikan umpan untuk menangkap harimau yang menewaskan warga di Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Inhil, beberapa waktu lalu. Foto kanan, tim PKHS memasang kamera trap untuk memantau aktivitas harimau. FOTO : (SARIDAL/RIAU POS/RPO)
Advertorial Indragiri Hilir
“Kata orang, dia dimakan karena melanggar pantangan harimau,” kata Zaini.

Sejak kejadian itu, banyak juga ternak yang menjadi korban harimau. Seperti ayam, kambing, kucing dan anjing. Salah satu yang menjadi pantangan harimau, kata dia, ketika salah cara dalam membuka lahan. Paling tidak boleh hutan dijadikan kebun ketika langsung ke tengah. Harusnya dari pinggir hutan dulu dibuka untuk kebun.  

“Misalnya di pinggir hutan sudah dijadikan kebun. Lalu, kita buka lagi kebun dengan melangkahi kawasan hutan yang belum disentuh. Itu jadi pantangan bagi datuk belang (istilah harimau, red),” kata dia.

Warga, katanya, mempercayai harimau sebagai penunggu kampung. Ada semacam pemikiran, harimau itu adalah peliharaan, yang menjaga etika dalam membuka lahan hutan, dan mengawasi warga yang berbuat salah. Saat ditanya apa sebab kemunculan harimau akhir-akhir ini? Dengan logis dia menjawab karena “si kucing besar” meminta makanan. Harusnya, kata dia, manusia paham dengan itu. Sebab, rumah yang menjadi tempat tinggal harimau sudah dikuasai manusia.

“Kita harus kasih makan,” ujar­nya.
Dalam masyarakat, ada juga tradisi dalam membuka lahan hutan untuk dijadikan kebun. Harus meminta permisi dulu kepada penunggu hutan.

“Rumah dia kita ambil, kita harus minta dia pindah. Kita permisi. Begitu etikanya,” kata Zaini.

Sejak dahulu kala atau sebelum dia lahir, tradisi semah ini sudah ada. Menyemah ini semacam ritual yang dilakukan warga secara bersama-sama dengan memanjatkan doa. Ritual ini dilakukan ketika membuka lahan dan mengusir harimau. 

“Untuk menolak bala juga,” katanya.
Kegiatan ini ada yang dilakukan sekali lima tahun. Ada pula yang dilakukan pada setiap pergantian tahun. Semah yang dilakukan itu melibatkan semua warga dan para tokoh di kampung itu. Baik tokoh agama, maupun tokoh adat.

“Kami membaca Surat Yasin, berzikir dan berdoa agar dijauhi dari gangguan harimau. Kami minta kepada Yang di Atas, agar warga dan ternaknya dijauhkan dari bahaya terkaman harimau,” kata dia.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Bupati Rita Mengaku Suka Tas KW
Sabtu, 20 Januari 2018 - 13:15 wib
POLITIK
KPU Pekanbaru dan Rohul Disidangkan Pekan Depan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 12:12 wib

Februari, Jokowi Replanting Sawit ke Riau
Sabtu, 20 Januari 2018 - 11:24 wib
Agnez Mo
Tak Ada Masalah dengan Anggun
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:50 wib

’’Dari Awal Sudah Begitu’’
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:23 wib

Bupati Hibahkan Tanah Pembangunan Rutan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:08 wib

Datsun Cross Tampil dengan Gaya Baru
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:06 wib
KAB ROKAN HULU
Pemprov Diminta Surati Kemendagri
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:04 wib

Tersangka Pembakar Istana Siak Jalani Tes Kejiwaan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:03 wib

Pemprov Diminta Surati Kemendagri
Sabtu, 20 Januari 2018 - 09:58 wib
Cari Berita
Begini Ceritanya Terbaru
Salahkan Google Map

Sabtu, 20 Januari 2018 - 09:06 WIB

Suami Tewas Tersengat Listrik

Jumat, 19 Januari 2018 - 12:36 WIB

Terkecoh Polisi Berjaket

Jumat, 19 Januari 2018 - 09:33 WIB

Iseng, Lampu Meledak

Kamis, 18 Januari 2018 - 10:03 WIB

Punya Istri Cantik, Baik, dan Pengertian Kok Dianggurin, Beginilah Jadinya...
sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us