Wonderful Indonesia
Konflik Harimau dengan Manusia di Indragiri Hilir (1)
Hari-hari Mencekam Diteror ’’Kucing Besar”
Jumat, 12 Januari 2018 - 10:49 WIB > Dibaca 3975 kali Print | Komentar
Hari-hari Mencekam Diteror ’’Kucing Besar”
UMPAN HARIMAU: Seekor kambing dijadikan umpan untuk menangkap harimau yang menewaskan warga di Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Inhil, beberapa waktu lalu. Foto kanan, tim PKHS memasang kamera trap untuk memantau aktivitas harimau. FOTO : (SARIDAL/RIAU POS/RPO)
Advertorial Indragiri Hilir
Sejak Jumiati (30) tewas diterkam harimau, karyawan PT Tabung Haji Indo Pantation (THIP) yang tinggal di Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir (Inhil), semakin  ketakutan. Siang tak berani ke kebun, malam takut keluar rumah. Teror harimau membuat kampung menjadi sepi.

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Tim I penanggulangan konflik harimau bergerak dari Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan, menuju kawasan perkebunan sawit PT THIP, Jumat (5/1), sekitar pukul 14.00 WIB. Ada sekitar 10 orang. Tim ini terdiri dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, World Wide Fund for Nature (WWF), Penyelamat dan Konsesi Harimau Sumatera (PKHS), dan PT Arara Abadi sebagai pemegang konsesi HTI. Termasuk Riau Pos yang berangkat bersama setelah sebelumnya bertemu dengan tim ini di Pulau Muda.

Ada tiga mobil yang berangkat siang Jumat itu. Dua untuk membawa rombongan. Termasuk Riau Pos yang menumpang dan satu mobil lagi untuk membawa kerangkeng atau perangkap harimau. Sebenarnya di Desa Pulau Muda mobil tak boleh melintas. Sebab, jalan semenisasi yang dibangun oleh pemerintah desa berukuran kecil. Hanya boleh dilewati sepeda motor. Peraturan yang ketat. Biasanya kalau ada mobil yang melintas, warga akan menghentikannya, dan menyuruh berbalik arah. Tapi tiga mobil tim ini bebas lewat.

Di sepanjang jalan, penduduk beramai-ramai melihat tiga mobil itu melintas. Mata mereka fokus kepada kerangkeng yang dibawa. Ada juga yang mengintip dari balik jendela rumah.  

“Untuk menangkap harimau ya, Pak,” tanya seorang pria paruh baya di kiri jalan yang dianggukkan oleh salah seorang dalam rombongan.

Kedatangan tim ini seolah memberi harapan kepada mereka. Meski bukan warga Desa Pulau Muda yang menjadi korban terkaman harimau, tapi kampung itu bersebelahan dengan PT THIP, sehingga bisa saja harimau memasuki desa mereka, mengancam nyawa manusia dan ternak. Warga ingin betul harimau itu bisa ditangkap. Sekitar satu jam rombongan melintas di desa itu. Di pengujung desa, jalan semeni­sasi pun tak ada lagi. Hanya jalan tanah dan mulai masuk wilayah perkebunan PT THIP. Di sepanjang jalan, sepi. Hanya beberapa orang saja yang dijumpai. Bisa dihitung dengan jari. Itupun hanya sekadar lewat dengan kendaraan. Rata-rata kendaraan yang lewat adalah kendaraan roda dua. Tidak hanya satu kendaraan, tapi ramai.

Sekitar satu jam kemudian, rombongan berhasil melintas di wilayah perkebunan sawit itu. Pukul 16.00 WIB, tim sampai di pengujung jalan, tepatnya di Kebun Eboni Afdeling IV. Di sini, banyak rumah karyawan PT THIP berdiri. Ada sekitar 30 rumah. Di sini juga menjadi tempat penginapan rombongan selama berada di sana. Sesampainya di lokasi, kerangkeng diturunkan dan dibawa ke tempat menginap. Di salah satu rumah yang disediakan perusahaan itu, ternyata sudah ada tim I penanggulangan konflik harimau. Mereka terdiri dari Polres Inhil, Polres Pelalawan, pihak PT THIP dan BBKSDA Riau.

Saat tim II sampai di rumah itu, tim  langsung menerima kabar yang disampaikan Ketua Tim I Muhamad Hendri SH, bahwa Kamis malam, mereka dikejutkan dengan kemunculan yang diduga harimau di belakang rumah mereka menginap tersebut.  

“Semalam ada yang melihat dua ekor di belakang ini (di dalam kebun sawit, red). Tapi itu belum bisa dipastikan, karena gelap. Tak terlihat begitu jelas,” ujarnya.

Hal ini membuat semua rombongan yang baru sampai tersentak. Betapa tidak, lokasi mereka menginap cukup jauh dari tempat kejadian penerkaman harimau. Jaraknya sekitar 2 km. Tim I menyampaikan hasil pengamatannya di lokasi sejak Rabu (3/1). Mereka juga sibuk menyusun strategi untuk memasang perangkap, menentukan lokasi dan jadwal pemasangannya. Alhasil, Jumat malam itu, diputuskan untuk memasang perangkap esok harinya. Tempatnya juga sudah ditentukan. Sekitar 500 meter dari lokasi kejadian penerkaman.

Dari puluhan rumah yang berada di tengah kebun sawit itu, hanya rumah tempat menginap rombongan yang paling ramai. Bukan tak ada penghuninya, tapi mereka memilih berdiam di dalam rumah. Semua pintu  tertutup rapat. Tak ada suara dari dalamnya. Sunyi. Padahal hari masih sore. Kondisi ini ditambah kabar atas kemunculan harimau di dekat pemukiman tersebut. Rasa takut karyawan untuk keluar rumah semakin menjadi-jadi. Petugas jaga yang ada di sekitar lokasi itu saja, hanya berdiam di ruangannya. Tidak berkeliling dan memantau keamanan sekitar lokasi seperti biasanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Semua rombongan memilih untuk beristirahat. Tim II mulai meninggalkan rumah tempat tim I berada. Mereka menginap di rumah lain, yang jaraknya hanya 20 meter.

“Sebelum berjalan, hidupkan senter. Lihat kiri kanan. Kalau ra­sanya sudah aman, baru berjalan,” pesan Wildlife Mitigasi Konflik WWF Riau Zulfahmi kepada Riau Pos.

“Kita juga harus berhati-hati di sini, walaupun banyak rumah warga,” sambungnya.

Saat berjalan, ada sebuah baya­ngan di antara pohon sawit di dalam kebun yang gelap tersebut. Terdengar pula suara pelepah sawit di tanah dan seperti diinjak makhluk hidup.

“Mungkin itu hanya monyet atau babi,” kata Zulfahmi berusaha menenangkan.

Akhirnya, rombongan sampai di tempat penginapan. Tak mau ambil risiko, pintu rumah langsung dikunci dari dalam. Jendela juga ditutup rapat.

Pasang Perangkap
Sabtu pagi (6/1), matahari bersinar terang. Para anggota tim terlihat bersemangat. Sesuai de­ngan rencana malam sebelumnya, mereka akan memasang perangkap harimau. Sekitar pukul 08.00 WIB, mereka sudah mulai bekerja. Perangkap yang sudah tersedia, tak langsung dibawa ke lokasi, melainkan dipreteli terlebih dahulu. Sebab, untuk menuju lokasi kejadian, harus menggunakan perahu mesin. Tak mungkin kerangkeng bulat-bulat yang dinaikkan ke dalam perahu. Untuk memperkecil muatan, din­ding-dinding kerangkeng dipisah dulu. Ada sekitar 1 ton berat total kerangkeng yang terbuat dari besi ini. Panjangnya 3 meter, lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter.

Perahu yang membawa tim dan kerangkeng menyusuri kanal di belahan kebun sawit. Di tepian sungai, hanya pohon-pohon sawit yang terlihat. Ada sekitar 1 jam perjalanan di atas perahu mesin itu. Dari tempat pemberhentian perahu, perangkap diangkut dengan berjalan kaki oleh tim. Perangkap ini dipasang sekitar 500 meter di lokasi kejadian. Lokasi ini sengaja dipilih karena dinilai sebagai tempat perlintasan harimau. Itu terbukti dari jejak-jejak kaki harimau yang melintas di sekitar itu. Jejak itu masih basah.

Pemasangan perangkap ini cukup lama. Sekitar 2 jam. Selama itu pula, semua anggota tim yang jumlahnya 15 orang selalu bersiaga. Mereka melihat-lihat kiri dan kanan, me­ngawasi setiap sudut perkebunan dan memastikan tidak ada harimau di sekitar lokasi itu. Memang dari kejauhan, “kucing besar” itu tidak kelihatan.

Di antara 15 orang itu, dua di antaranya anggota kepolisian, lengkap dengan senjata api laras panjang. Kemudian dua anggota BBKSDA Riau juga bersiaga dengan senjata bius. Senjata ini akan ditembakkan jika harimau tiba-tiba muncul dan 15 menit setelah itu, harimau tidak sadarkan diri. Di dalam perangkap itu, diikatkan seekor kambing betina hidup. Ini dijadikan umpan bagi harimau. Kambing dipilih karena suaranya nyaring. Sehingga akan mampu memancing harimau untuk datang dan masuk dalam perangkap. Di sekitar perangkap, dipasang pula tiga kamera trap. Satu dipasang oleh WWF dan dua lagi dipasang oleh PKHS.

Setelah perangkap dipasang, tim juga sempat melihat lokasi kejadian penerkaman. Di lokasi itu, masih terlihat jejak-jejak kaki harimau. Tampak juga sepatu boots korban yang tercecer. Di pohon tempat kor­ban memanjat, juga tampak bekas cakaran harimau.

“Kemungkinan akan kami tambah perangkap atau memindahkannya,” kata Ketua Tim Penanggulangan Konflik Harimau di PT THIP Muhamad Hendri SH. Dia menyebut, perangkap ini akan dipasang hingga tertangkapnya harimau.

Untuk selanjutnya, tim akan terus memantau perkebunan itu. Mereka mengecek lokasi-lokasi lain yang menjadi tempat perlintasan harimau.

“Nanti di situ akan kita pasang lagi. Kita lihat dua tiga hari ini dulu,” kata pria yang juga ASN BBKSDA Riau ini.

Dari informasi terakhir yang di­terima Riau Pos, pada Rabu (10/1), telah ditambah dua perangkap lagi. Perangkap yang disediakan pihak PT THIP ini, diletakkan di dua lokasi yang berbeda. Jaraknya sekitar 300 meter dari perangkap pertama. Diberi umpan kambing juga. Tapi, harimau itu belum tertangkap.
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Bupati Rita Mengaku Suka Tas KW
Sabtu, 20 Januari 2018 - 13:15 wib
POLITIK
KPU Pekanbaru dan Rohul Disidangkan Pekan Depan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 12:12 wib

Februari, Jokowi Replanting Sawit ke Riau
Sabtu, 20 Januari 2018 - 11:24 wib
Agnez Mo
Tak Ada Masalah dengan Anggun
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:50 wib

’’Dari Awal Sudah Begitu’’
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:23 wib

Bupati Hibahkan Tanah Pembangunan Rutan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:08 wib

Datsun Cross Tampil dengan Gaya Baru
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:06 wib
KAB ROKAN HULU
Pemprov Diminta Surati Kemendagri
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:04 wib

Tersangka Pembakar Istana Siak Jalani Tes Kejiwaan
Sabtu, 20 Januari 2018 - 10:03 wib

Pemprov Diminta Surati Kemendagri
Sabtu, 20 Januari 2018 - 09:58 wib
Cari Berita
Begini Ceritanya Terbaru
Salahkan Google Map

Sabtu, 20 Januari 2018 - 09:06 WIB

Suami Tewas Tersengat Listrik

Jumat, 19 Januari 2018 - 12:36 WIB

Terkecoh Polisi Berjaket

Jumat, 19 Januari 2018 - 09:33 WIB

Iseng, Lampu Meledak

Kamis, 18 Januari 2018 - 10:03 WIB

Punya Istri Cantik, Baik, dan Pengertian Kok Dianggurin, Beginilah Jadinya...
sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us