Wonderful Indonesia
CERPEN YEYEN KIRAM
Ibu dan Senja
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:35 WIB > Dibaca 2099 kali Print | Komentar
Ibu dan Senja
Waktu itu aku masih muda sekali, berumur belasan tahun. Aku sama sekali tidak menyadari, kalau kesalahan yang sedikit itu adalah awal yang membenamkan Ibu ke nerakanya. Peristiwa yang mengantar Ibu pergi untuk selama-lamanya.

Suatu siang sepulang sekolah, iseng aku membuka pesan-pesan yang terdapat pada handphone milik Ibu. Padahal aku sudah tahu, di keluarga kami sangat tidak dibenarkan untuk lancang mengetahui privacy setiap anggota keluarga. Tidak boleh ada yang seenaknya membuka dan menggunakan perangkat HP atau dompet milik siapapun, tanpa seizin yang punya. Tetapi entah kenapa, kesepakatan tersebut aku langgar. Iseng, aku membukanya, lalu menemukan ada seseorang bernama Fay mengungkapkan kata-kata sayang yang indah dan romantis itu kepada Ibu.

Aku merasa cemburu. Tiba-tiba, aku tidak suka jika ada lelaki lain dalam hidup Ibu...Aku tidak mau jika Ibu meninggalkan kami semua nanti, lalu pergi bersama lelaki yang mencintainya itu, seperti mama temanku di sekolah. Kecemasan yang tak bernama tersebut mendorongku melaporkan kepada Bapak, bahwa Ibu sekarang   berselingkuh dengan lelaki, bernama Fay. Bukti perselingkuhan itu, adalah pesan-pesan cinta yang tertera di HP Ibu. Aku memang jadi benci pada Ibu yang selama ini kukagumi, ternyata bukan istri yang setia dengan perkawinanya.

Setelah pengaduan tersebut, aku sungguh tidak tahu tentang apa yang terjadi kemudian di antara mereka berdua. Namun yang jelas, Ibu makin sunyi. Selentingan aku mengetahui dari saudara-saudara Ibu, bahwa Bapak telah menghajar Ibu habis-habisan. Sungguh aku tak menduga, sebegitukah akibat yang harus ditanggung Ibu, hanya karena pandangan kekanakanku yang dangkal? Bukankah aku telah menyadari, bahwa sesungguhnya Ibu sudah hidup dalam neraka yang disimpanya sendiri, selama bertahun-tahun membesarkan dan merawat kami. Dan pengaduanku kepada Bapak, menyempurnakan kobaran neraka itu. Dimana apinya kusulut sendiri, membakar Ibu. Sungguh, takkan termaafkan kesalahanku ini, ya Rabbi!

“Azel, tidak ada yang salah denganmu, karena kau tidak  tahu apa yang terjadi sebetulnya dengan Ibumu, Nak. Ketahuilah, Ibumu telah ada dalam neraka perkawinannya sejak kalian dilahirkan. Menahan perih api dan lukanya sepanjang umur, demi menjaga kalian semua. Mengorbankan karir, pekerjaan, dan masa mudanya, demi anak-anaknya. Jika mau, Ibumu bisa saja kabur, atau meminta cerai dari Bapakmu. Tetapi ia tidak melakukan, karena sadar bahwa ada tiga orang anak yang harus diselamatkanya. Meski Ibumu harus mencium wangi lukanya sepahit apapun, dalam keadaan apapun sepanjang hari. Ia mengulum empedunya sendiri. Dan ia kuat, menahanya berpuluh tahun...”, ujar lelaki itu dengan senyum kelu.
Akupun ingat, bagaimana hampir tiap hari Bapak selalu pulang pada saat adzan Subuh mengumandang. Sekalipun bulan Rhamadhan, malam takbiran, Bapak tetaplah pulang pada dini pagi. Entah apa yang dikerjakan Bapak di luar sana, meninggalkan ribuan malam Ibu yang panjang sendirian. Tidak jarang, Bapak pulang dalam keadaan mabuk. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang keras. Ibu tak marah, atau menegur kelakukan Bapak tersebut. Malah sabar membersihkan muntahan, dari akibat mabuknya Bapak.

Aku teringat lagi,  bagaimana Ibu harus bekerja keras sepanjang harinya. Bangun sebelum semua orang membuka mata, agar sempat mengurus rumahtangganya. Lalu setelah cucianya terjemur, maka barulah Ibu akan ke luar rumah, bekerja melakukan apapun untuk dapat memenuhi kebutuhan rumahtangga. Karena ternyata, Bapak tidak saja ingkar memberi nafkah bathin pada Ibu, juga nafkah lahir. Bapak lebih suka menghamburkan penghasilanya, dari satu kafe ke kafe lainya. Dari satu pangkuan malam, ke malam lainya dengan bebas. Tetapi Ibu menyimpan semua cerita malamnya dengan  serapat mungkin. Mungkin dengan maksud, melindungi kami dari akibat negatif kelakuan Bapak tersebut. Bahkan ketika Ibu meminta kami untuk melaksanakan ibadah wajib, shalat lima waktu ternyata tak ada satupun diantara kami yang berkenan memenuhinya. Mungkin karena kami tak pernah memiliki Imam, yang akan memimpin mengajak shalat berjamaah di rumah.

“Menginginkan Imam bagi hidup dan ibadahnya, itulah yang selalu dirindukan Ibumu. Ia ingin selalu bersama dengan orang yang dicintainya, untuk menjalankan  ibadah berjamaah....Itulah alasan kenapa Ibumu diam-diam dan sembunyi memilih aku sebagai kekasihnya, Nak. Karena dia hanya ingin menemui Allah dan akhiratnya, bersama imam yang dicintai...,” ujar Fay menceritakan tentang siapakah Ibu sebenarnya.

“Tetapi hingga akhir hayatnya sekalipun, ternyata keinginan luhur dan mulia dari Ibumu, tidak pernah dapat terpenuhi. Allah memanggil Ibumu lebih cepat, sebelum aku sempat menemuinya...,’’ tutur Fay memandang nisan Ibu, seolah tak pernah lelah.

“Ibumu selalu menyampaikan keinginannya, jika kalian telah mandiri dan siap ditinggalkan, maka barulah dia akan pergi meninggalkan nerakanya itu. Aku memang menawarkan kepadanya, pernikahan  suci berlandaskan sakinah, mawaddah dan rahmah. Aku ingin membebaskan Ibumu dari semua luka dan rasa sakitnya, meski aku tahu langkah ini salah, dan tidak pada tempatnya. Tetapi aku tak bisa menahan rasa dan kekuatan cinta yang selalu memberi harapan, bagi kesempatan indah tersebut semasih kami memiliki sisa umur....Ibumu, perempuan terbaik dan mulia yang pernah aku temui. Karena itu, kurasa ia berhak rasakan kebahagiaan hati terbaik melalui kemuliaan sajaddahnya....”

Akhirnya aku mengerti, kenapa Ibu selalu menangis setiap selesai shalatnya. Karena Fay selalu mengajarkanya tentang makna katabahan, kesabaran, kekuatan, dan keimanan kepada Ibu. Maka layaklah, jika Fay yang sanggup dan mampu  menjadi imam bagi Ibu. Imam bagi hati dan jiwa Ibu. “Tetapi, kenapa malah anak-anaknya sendiri, yang merengut kesempatan menemukan  sendiri kehangatan dan kasih sayangnya yang tak pernah dirasakan, nyaris di sepanjang usia Ibumu ? Untuk kau ketahui, Nak,...hanya kepadakulah, Ibumu bisa tertawa lepas sesukanya. Sehingga masih punya tenaga untuk bertahan menghadapi neraka yang disediakan Bapakmu. Nak, sebetulnya saat kami bertemu, Ibumu sudah tidak bisa menangis lagi. Air matanya telah dikuras oleh sakitnya. Namun dia perempuan hebat, mampu menyembuhkan lukanya sendiri, melalui ibadahnya yang khusuk’, dan doanya yang indah. Aku selalu membangunkanya, melalui telphon untuk selalu mengisi malamnya yang sepi, agar  menunaikan ibadah sunnah Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, dan ibadah lainya. Memandu doa, menenangkan hatinya melalui harapan-harapan kami...Meski kami berjarak sangat jauh. Waktu itu aku masih berkerja di sebuah proyek LNG, Sulawesi...,’’ ujar Fay sambil tak hentinya mengusap batu nisan Ibu.

Sekarang, aku makin mengerti lagi, kenapa Ibu menjadi sunyi. Pengaduan bodohku itu telah merengut Ibu dari kekhusukan ibadah dan doanya kepada Sang Khalik. Pemukulan dan kekejaman Bapak, tanpa kami tahu kapan terjadinya telah meruntuhkan ruang kebahagiaan Ibu, yang dimilikinya diam-diam bersama Fay. Fisik Ibu agaknya sudah tidak tahan lagi, penyakit jantung yang sudah lama diindapnya, namun tak pernah dipedulikan Bapak, tiba pada akhir perjalanan. Ibu menghembuskan nafas terakhir, disaat Fay tengah membimbingnya berdoa, bermunajat memohon ampun dan ridho kepada Allah. Juga memohonkan ampun dan maaf, atas semua kesalahan dan kelakuan Bapak sebelumnya.

Sekarang kusadari perihnya rasa sakit itu, Ibu. Betapa indah warnanya senja, gradasinya menjabat erat kesedihanmu. Aku mengerti kini, kenapa Ibu setiap sore menyukai beranda itu dan duduk berlama-lama di sana. Karena selain bisa tenang berkomunikasi dengan Fay, Ibupun dapat menikmati senjanya. Hanya dengan itu, Ibu bisa membasuh luka.***

Padang, 5 mei 2012

 
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Pemberantasan Korupsi Tidak Jalan di Tempat
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:22 wib

DKV SMKN 4 Pekanbaru Unjuk Gigi dengan Karya
Rabu, 17 Oktober 2017 - 15:00 wib

PKS Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Danau Lancang
Rabu, 17 Oktober 2017 - 14:53 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Verifikasi Kebenaran Informasi Media Sosial
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:51 wib
Kabupaten Indragiri Hilir
Komisi II Banyak Terima Aduan Konflik Agraria
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:34 wib
EKONOMI BISNIS
Dukung Pemerintah Registrasi Pelanggan Prabayar
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:28 wib

Buruh Melawan Suarakan Aspirasi, Cabut Permen LHK 17
Rabu, 17 Oktober 2017 - 12:01 wib

Akom Beri Sinyal Setnov Terlibat Kasus Proyek KTP-el
Rabu, 17 Oktober 2017 - 11:39 wib
Cari Berita
Kebudayaan Terbaru
Gubri Dijadwalkan Hadiri Haul 100 Tahun Ma’rifat Mardjani
Istri Pangkostrad Kagumi  Oleh-oleh Khas Riau

Rabu, 11 Oktober 2017 - 10:26 WIB

Ratusan Seniman Gelar Aksi untuk Rohingya

Jumat, 06 Oktober 2017 - 10:01 WIB

Kerajinan Khas Daerah Terus Dipopulerkan

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:50 WIB

Tanjak Semakin Digemari Masyarakat

Minggu, 01 Oktober 2017 - 12:35 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini