Wonderful Indonesia
TRADISI
Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:03 WIB > Dibaca 3906 kali Print | Komentar
Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi
Di Riau juga demikian. Lomba gasing yang dilaksanakan sempena hari jadi Provinsi Riau beberapa hari lalu, memang dimaksudkan untuk pelestarian budaya. Tapi, nisa juga menjadi daya tarik wisatawan yang datang, yakni wisata budaya. Lomba tersebut diikuti banyak rpia dewasa dari 12 kabupaten/kota yang ada di Riau.

‘’Permainan tradisi seperti gasing, laying-layang dan congkak, harus dilestarikan. Selain permainannya memang asyik, penuh tantangan, strategi dan cara khusus untuk memainkannya, permainan ini juga mengandung filosofi kehidupan yang luar biasa. Alhamdulillah lomba yang kita laksanakan sempena hari jadi Provinsi Riau, banyak peminatnya,’’ ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zein.

Jika layang-layang dan gasing dimainkan oleh lelaki anak-anak dan dewasa, lain halnya dengan congkak yang hanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Congkak merupakan permainan tradisi Melayu yang unik. Tidak diketahui pasti kapan congkak ini ditemukan dari mana bermula. Konon, ada yang mengatakan dari Pulau Jawa, tapi ada juga yang mengatakan dari Malaka, Malaysia. Yang jelas, congkak merupakan permainan puteri-puteri raja di dalam istana. Saat waktu senggang, mereka memainkan congkak tersebut. Lambat laun, congkak menjadi permaianan masyarakat luas. Anak-anak perempuan memainkan congkak kapan saja.

Seperti gasing, congkak juga mengandung filosofi kehidupan. Layaknya sebuah kompetisi, dalam memainkan congkak juga perlu cara dan tradisi supaya memperoleh kemenangan. Buah congkak yang biasanya kerang atau siput, diletakka di setiap lubang dalam congkak, selain lubang induk. Ada 16 lubang pada papan congkak ini. Satu orang memiliki tujuh lubang yang berisi siput sebagai alat permainan, dan satu lubang kosong sebagai lubang induk di awal permainan.Siapa yang berhasil mengumpulkan siput terbanyakt di lubang induk, dialah pemenang.

Bagaimana pula dengan laying-layang. Tentu  lebih unik. Terdapat berbagai tipe layang-layang permainan. Di Sunda dikenal istilah maen langlayanga. Yang paling umum adalah layang-layang hias. Dalam bahasa Betawi disebut koang dan layang-layang aduan laga. Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angina/ Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena kuatnya angin berhembus pada saat itu.

Di beberapa daerah, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu, kemudian diikat dengan seratrotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga beberapa bentuk layang-layang tradisional asal Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.

Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian cuaca telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik. Sungguh laying-layang merupakan permainan tradisi yang juga penuh dengan filosofi kehidupan. Layang-layang tidak akan terbang jika tidak terjadi tarik ulur tali kendali yang baik, jika tidak bisa memahami kekuatan angin sebagai alat pengangkut layang-layang hingga bisa terbang ke udara. (fiz)
 





Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DAPAT PERHATIAN KHUSUS
Tak Ingin Ada Konflik di Pemilu 2019, Kapolri Ambil Langkah Ini
Jumat, 19 Oktober 2017 - 21:00 wib
UNTUK NAIKKAN ELEKTABILITAS
Isu Pribumi Harus Terus Dimainkan Anies? Ini Penjelasan Pengamat
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:45 wib
MASUKI TAHUN POLITIK
Pengamat Ungkap Tiga Tokoh yang Berpeluang Bertarung di Pilpres 2019
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:30 wib
MASUKI TAHUN POLITIK
Fahri Tantang Prabowo Segera Deklarasi Sebagai Capres, Alasannya...
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:15 wib
SAMBUT BAIK USAHA PEMBERANTASAN KORUPSI
Terkait Pembentukan Densus Tipikor, Begini Sikap MUI
Jumat, 19 Oktober 2017 - 20:00 wib
MASA JABATAN BERAKHIR
Akhir Tahun Ini, KPK Kembalikan Dua Penyidik dari Polri
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:30 wib
SOAL ISTILAH PRIBUMI
Mabes Polri Pastikan Kaji Semua Laporan Terkait Pidato Anies
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:20 wib
PASCA-PEMBUBARAN
HTI Jelaskan Khilafah di DPR karena Merasa Dizalimi Pemerintah
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:10 wib
UNTUK SATU POSTINGAN INSTAGRAM
Soal Endorse Rp100 Juta, Syahrini Akui Hanya Bercanda
Jumat, 19 Oktober 2017 - 19:00 wib
PILPRES 2019
Saingi Jokowi, Apa yang Sudah Diperbuat Prabowo?
Jumat, 19 Oktober 2017 - 18:45 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Setiap Hari dapat Kiriman Air Limbah

Minggu, 10 September 2017 - 13:34 WIB

Nyala Hari Puisi Ini Pun Tak Akan Pernah Padam

Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:08 WIB

Oppss! Ini Via Vallen Lho, Bukan Ayu Ting Ting atau Isyana Sarasvati...
Lama Waktu Mengemudi Maksimal Tiga  Jam

Minggu, 11 Juni 2017 - 11:05 WIB

Berkah dari Sang Penyengat

Minggu, 11 Juni 2017 - 10:59 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us
Populer hari ini