Wonderful Indonesia
TRADISI
Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi
Minggu, 13 Agustus 2017 - 00:03 WIB > Dibaca 7039 kali Print | Komentar
Filosofi Hidup dalam Permainan Tradisi
Di Riau juga demikian. Lomba gasing yang dilaksanakan sempena hari jadi Provinsi Riau beberapa hari lalu, memang dimaksudkan untuk pelestarian budaya. Tapi, nisa juga menjadi daya tarik wisatawan yang datang, yakni wisata budaya. Lomba tersebut diikuti banyak rpia dewasa dari 12 kabupaten/kota yang ada di Riau.

‘’Permainan tradisi seperti gasing, laying-layang dan congkak, harus dilestarikan. Selain permainannya memang asyik, penuh tantangan, strategi dan cara khusus untuk memainkannya, permainan ini juga mengandung filosofi kehidupan yang luar biasa. Alhamdulillah lomba yang kita laksanakan sempena hari jadi Provinsi Riau, banyak peminatnya,’’ ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Riau, Yoserizal Zein.

Jika layang-layang dan gasing dimainkan oleh lelaki anak-anak dan dewasa, lain halnya dengan congkak yang hanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Congkak merupakan permainan tradisi Melayu yang unik. Tidak diketahui pasti kapan congkak ini ditemukan dari mana bermula. Konon, ada yang mengatakan dari Pulau Jawa, tapi ada juga yang mengatakan dari Malaka, Malaysia. Yang jelas, congkak merupakan permainan puteri-puteri raja di dalam istana. Saat waktu senggang, mereka memainkan congkak tersebut. Lambat laun, congkak menjadi permaianan masyarakat luas. Anak-anak perempuan memainkan congkak kapan saja.

Seperti gasing, congkak juga mengandung filosofi kehidupan. Layaknya sebuah kompetisi, dalam memainkan congkak juga perlu cara dan tradisi supaya memperoleh kemenangan. Buah congkak yang biasanya kerang atau siput, diletakka di setiap lubang dalam congkak, selain lubang induk. Ada 16 lubang pada papan congkak ini. Satu orang memiliki tujuh lubang yang berisi siput sebagai alat permainan, dan satu lubang kosong sebagai lubang induk di awal permainan.Siapa yang berhasil mengumpulkan siput terbanyakt di lubang induk, dialah pemenang.

Bagaimana pula dengan laying-layang. Tentu  lebih unik. Terdapat berbagai tipe layang-layang permainan. Di Sunda dikenal istilah maen langlayanga. Yang paling umum adalah layang-layang hias. Dalam bahasa Betawi disebut koang dan layang-layang aduan laga. Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angina/ Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena kuatnya angin berhembus pada saat itu.

Di beberapa daerah, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu, kemudian diikat dengan seratrotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga beberapa bentuk layang-layang tradisional asal Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.

Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian cuaca telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik. Sungguh laying-layang merupakan permainan tradisi yang juga penuh dengan filosofi kehidupan. Layang-layang tidak akan terbang jika tidak terjadi tarik ulur tali kendali yang baik, jika tidak bisa memahami kekuatan angin sebagai alat pengangkut layang-layang hingga bisa terbang ke udara. (fiz)
 





Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
JADI TUAN RUMAH DJARUM SIRNAS LI-NING RIAU OPEN 2018
PBSI Riau Bahas Teknis Persiapan sebagai Panitia Lokal
Kamis, 22 Februari 2018 - 17:06 wib
BEKERJA SAMA DENGAN DISPORA RIAU, PLN DAN PT ARARA ABADI
Sabtu, PWI Riau Tanam Pohon di Stadion Utama
Kamis, 22 Februari 2018 - 16:56 wib

Syamsuar Akan Angkat Ekonomi Riau yang sedang Terpuruk
Kamis, 22 Februari 2018 - 16:14 wib
DAMPAK LETUSAN GUNUNG SINABUNG
Pasokan Sayur ke Medan Terancam
Kamis, 22 Februari 2018 - 15:43 wib
NIKITA MIRZANI
Ingin Cepat-cepat Nikah
Kamis, 22 Februari 2018 - 15:17 wib

PSMS Medan Dapat Hadiah Rp550 Juta dari Piala Presiden
Kamis, 22 Februari 2018 - 13:57 wib

Proyek Zona I Lelang Ulang
Kamis, 22 Februari 2018 - 13:26 wib
Cari Berita
Feature Terbaru
Membuang Asam, Menjaga Payau

Minggu, 18 Februari 2018 - 11:25 WIB

Bangunan Rusak dan Rumput Semakin Meninggi

Selasa, 06 Februari 2018 - 10:18 WIB

Negeri yang Tak Pernah Disentuh Ban Mobil

Minggu, 04 Februari 2018 - 12:16 WIB

KTP-el Dibuatkan, Lahan Diperjuangkan

Sabtu, 03 Februari 2018 - 11:51 WIB

Relokasi 5.000 Jiwa atau Lepaskan Status Lahan

Jumat, 02 Februari 2018 - 15:57 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us