Home » Berita

Yayasan Sagang Gelar Dialog Kebudayaan

Meneroka Posisi budayaan Melayu Riau

Minggu, 05 Mei 2019 - 10:36 WIB | Dibaca 1307 Klik
Wakil Gubernur Riau Edy Natar (tengah), Ketua Yayasan Sagang Kazzaini Ks (empat dari kiri) bersama nara sumber memukul kompang sebagai tanda dimulainya Dialog Kebudayaan.

(RIAUPOS.CO) -- Yayasan Sagang, Senin (29/4/2019), menyelenggarakan Dialog Kebudayaan. Tema yang diusung: Menimbang Posisi Kebudayaan Melayu dalam Kemajuan Riau ke Depan (Meneroka Riau Tahun 2045). Acara yang berlangsung sehari penuh di Balai Pauh Janggi, Kediaman Gubernur Riau. Peserta dari berbagai elemen hadir memenuhi jemputan dari panitia, baik dari kalangan budayawan, sastrawan, seniman, pelajar, tokoh masyarakat, penggerak dan pelaku kebudayaan, dan masih bayak lainnya.  

Dialog Kebudayaan ini menghadirkan para pembicara yang terdiri atas tokoh-tokoh budaya, tokoh politik, akademisi, juga para pelaku sejarah. Tidak tanggung-tanggung, Yayasan Sagang juga mengundang pembicara pakar dari Malaysia dan Thailand. Mereka adalah UU Hamidy (akademisi), Dr Chaidir MM (mantan Ketua DPRD Riau), Prof Dr Ashaluddin Jalil MS (mantan Rektor Universitas Riau), Datuk Sri Al azhar (Ketua Majelis Kerapatan Adat LAM Riau),  Prof Dr Datuk Zainal Kling (Malaysia) dan Ass Prof Dr Phaosan Jehwae (Thailand).

Dialog Kebudayaan ini diawali dengan sambutan sekaligus pidato kebudyaan oleh Wakil Gubernur Riau H Natar Nasution. Awalnya, kegiatan ini memang akan dihadiri langsung oleh Gubernur Riau, H Syamsuar Msi sesuai dengan rencana panitia dan Gubernur saat pertemuan-pertemuan sebelum acara dilaksanakan. Tapi karena ada hal yang tak bisa ditinggalkan, kehadiran Syamsuar diwakilkan ole Edy Natar dengan membacakan pokok-pokok pemikiran tentang kebudayaan Riau ke depan yang dikonsep langsung olah Syamsuar.

“Berbicara soal kebudayaan adalah berbicara tentang hal yang sangat penting. Kebudayaan suatu daerah atau negeri, sangat mementukan kemajuan daerah atau negeri tersebut. Dengan demikian, kebudayaan memiliki peran sangat penting dalam kemajuan Riau ke depan. Tidak bisa dipisahkan. Pembanguan di Riau tidak terlepas dari pembangunan kebudayaan itu sendiri,’’ kata Edy Natar saat membacakan pidato kebudayaan.

Kegiatan Dialog Kebudayaan ditandai dengan pemukulan kompang oleh H Edy Natar, Ketua Yayasan Sagang Kazzaini Ks, Ketua Dinas Kebudayaan Yoserizal Zein dan seluruh nara sumber. Dilanjutkan dengan Dialog Kebudayaan sesi pertama

yang dimoderatori Fakhrunnas MA Jabbar dengan pembiacara UU Hamidy (akademisi), Dr Chaidir MM (mantan Ketua DPRD Riau), Prof Dr Ashaluddin Jalil MS (mantan Rektor Universitas Riau). Sedangkan pada sesi kedua menghadirkan pembicara Datuk Sri Al azhar (Ketua Majelis Kerapatan Adat LAM Riau), Prof Dr Datuk Zainal Kling (Malaysia) dan Ass Prof Dr Phaosan Jehwae (Thailand).

Berbagai pemikiran tentang posisi kebudayaan di Riau saat ini dan akan datang bermunculan dari narasumber. Datuk Seri Al azhar misalnya, dengan tegas ia mengatakan, “Posisi kebudayaan di Riau harus dirancang sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Tapi jujur, majunya kebudayaan di Riau saat ini, terutama melalui sni budaya, masih jauh dari keterlibatan  pemerintah. Bisa dikatakan belum ada campur tangan pemerintah secara nyata. Gegap gempita, lebuk lebaknya kesenian, kesusasteraan yang menjadi bagian dari kebudayaan itu sendiri lebih banyak digerakkan oleh komunitas. Mereka berjuang dan bergerak sendiri.’’

Sementara itu, Dr H Chaidir menyebutkan, menempatkan posisi kebudayaan pada tempat yang layak dalam kemajuan dan pembangunan Riau saat ini maupun akan datang, harus dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai elemen. “Kerja kebudayaan ini bukan kerja ringan, tapi tidak juga berat asal dilakukan bersama-sama. Pemerintah adalah pemegang kebijakan dan kewenangan, laksanakan fungsi itu sesuai dengan perencanaan yang matang. Begitu juga dengan berbagai pihak lain, dari berbagai elemen sampai akar paling bawah, guru dan siswa misalnya, harus mendukung gerakan kebudayaan tersebut,’’ kata Chaidir pula.