Home » Berita

Desain dan Hasil Akhir Jalan Layang SKA Berbeda

Rabu, 20 Maret 2019 - 09:36 WIB | Dibaca 1007 Klik
DITUTUP: Pengendara motor lewat di antara celah water barrier yang diletakkan untuk menutupi terowongan jalan layang Simpang SKA, Jalan Soekarno-Hatta, beberapa hari lalu. MHD AKHWAN/RIAUPOS

KOTA (RIAUPOS.CO) - Anggota Komisi IV DPRD Riau Abdul Wahid mengkritisi terowongan yang ada di jalan layang Simpang SKA. Pasalnya, selain belum digunakan, sampai saat ini desain terowongan yang dibuat juga dinilai salah. Karena posisinya tepat pada pintu keluar Living World.

Hal itu dirasa cukup berbahaya bagi pengendara jika terowongan itu jadi digunakan.

Ia juga mempertanyakan mengapa desain awal jalan layang yang dipaparkan ke DPRD berbeda dengan hasil jadi saat ini. Saya enggak tahu mengapa desainnya bisa berbeda. Dulu waktu ekspos di DPRD, setahu saya desainnya enggak begitu. Modelnya kupu-kupu, sebut Wahid kepada Riau Pos, Selasa (19/3).

Ia kembali merincikan soal terowongan yang ada saat ini. Kata Wahid, secara cost atau biaya terowongan yang dibuat menggunakan anker blok itu sangat menghemat pengeluaran. Ia belum tahu pasti apakah budget yang dibayarkan pemprov juga menyesuaikan cost yang lebih murah. Padahal seharusnya jika membuat terowongan, kontraktor menggunakan pilar penyangga. Bukan angker blok yang ada saat ini. Sehingga lebih safety dan bentuknya juga lebih melengkung.

Jadi, menurut saya yang pertama mereka meletakkan angker blok itu salah. Pas di depan Living World. Gimana orang mau keluar Living World? Dari awal sudah kami tegur juga desainnya. Apakah memang begitu? Cara mereka bikin terowongan juga ga sesuai. Seharusnya angker blok ga begitu. Harusnya lengkung. Bukan seperti sekarang, tutur Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Riau itu.

Diakui dia, pembuatan terowongan dengan metode saat ini sangat menguntungkan kontraktor. Karena lebih murah. Maka dari itu pihaknya akan mempertanyakan masalah tersebut ke Dinas PUPR. Tidak hanya sampai di sana, untuk pemanfaatan terowongan pihaknya juga merencanakan pemanggilan Dinas Perhubungan. Karena jangan sampai pemanfaatan terowongan justru menjadi biang kecelakaan.

Dalam waktu dekat akan kami panggil keduanya. Kalau Dishub kami ingin tau pemanfaatan terowongan itu seperti apa. Jangan sampai setelah dibuat akhirnya tidak berfungsi. Masyarakat juga buat belok juga jauh dan tidak efektif apa yang ingin kita capai, pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, pengamat perkotaan Mardianto Manan menilai kurangnya perencanaan yang matang pada pembangunan flyover. Sehingga keberadaan terowongan yang sejatinya untuk akses U-turn itu tidak difungsikan. Terkait hal tersebut, Dinas PUPR Riau dan Dinas Perhubungan Pekanbaru seakan buang badan terkait hal tersebut.