Home » Berita

Bersih di Kota, Pinggiran Terbengkalai

Selasa, 13 Februari 2018 - 10:52 WIB | Dibaca 199 Klik
Bersih di Kota, Pinggiran Terbengkalai


BANGKINANG (RIAUPOS.CO)---Sampah masih menjadi salah satu permasalahan di Kabupaten Kampar. Hal ini menghambat semangat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar yang ingin meraih Adipura pada tahun ini. Ketika Kota Bangkinang begitu terjaga kebersihannya sepanjang hari, namun sejumlah kawasan perbatasan justru terlihat sampah terbengkalai. Terutama wilayah Kampar yang berbatasan dengan Kota Pekanbaru.

Banyaknya warga yang tinggal di perbatasan dengan Pekanbaru, Kecamatan Siak Hulu dan Kecamatan Tambang menjadi puncak masalah. Maka tidak heran, di jalan-jalan seperti jalan raya Pekanbaru-Bangkinang, terutama Jalan Kubang Raya, sampah berserakan menjadi pemandangan biasa. Serakan sampah yang tidak terangkut paling parah berada di Jalan Kubang Raya. Mulai dari persimpangan jalan raya Pekanbaru- Lipat Kain hingga perbatasan Desa Tarai Bangun dan Kelurahan Tuah Karya.

Tidak kurang dari 20-an titik tumpukan sampah sepanjang Jalan Kubang Raya. Setengah tumpukan itu berada di wilayah Kampar. Beberapa lokasi tumpukan yang cukup banyak sampah sudah dipasang peringatan larangan membuang sampah oleh Pemkab Kampar. Tapi peringatan dengan tulisan dicetak tebal, berlogo Kampar dengan latar belakang kuning tersebut tidak dihiraukan.

 Menurut M Firdaus (29), warga Kubang, tumpukan sampah di sana memang tidak dijemput mobil pengangkut sampah. Tidak dari Pembak Kampar, apalagi truk sampah dari Pemerintah Kota Pekanbaru. Beberapa tumpukan itu menurut Firdaus bahkan sudah berlama tertahan di sana. ‘’Makanya bau busuk di sana menyengat,’’ kata Firdaus.

 Terkait tumpukan sampah tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar Cokroaminoto menyebutkan, Pemkab Kampar sudah menitipkan setidaknya tiga truk pengangkut sampah di wilayah perbatasan dengan Kota Pekanbaru. Diantaranya di Rimbo Panjang, Tarai dan Pandau Jaya. Tiga truk di kawasan tersebut menurut Cokro dititipkan ke kepala desa masing-masing.

  ‘’Memang harus diakui, untuk perbatasan seperti tiga wilayah itu kami masih kekurangan infrastruktur. Baik itu armada maupun personel, makanya kami meminta partisipasi semua pihak, terutama kepala desa, RW, RT dan masyarakat setempat untuk menjalankan pola hidup sehat,’’ sebut Cokro.

  Cokro menyebutkan, pada tahun ini akan dilakukan penambahan dua unit truk pengangkut sampah baru. Selain itu, juga akan dbeli sebanyak 13 unit becak motor untuk mengangkut sampah.(mng)
ke wilayah yang tidak terjangkau oleh truk. Menurut Cokro, saat ini proses lelang yang dilakukan lewat kalatog-el tersebut sudah masuk tahap administrasi.

     ‘’Memang sedang diperkuat untuk armada dan personel. Dari tiga wilayah yang masuk perbatasan itu, Alhamdulillah di Rimbo Panjang sudah mulai terkendali. Maka nanti penempatan armada pengangkut baru ini akan dikaji betul,’’ sebut Cokro.

     Cokro yakin, tidak ada penundaan pengadaan armada angkut sampah baru tersebut. Karena selain sudah dianggarkan dalam APBD, sebagain pengadaan juga mendapat alokas dari dana alokasi khusus (DAK) yang diusulkan langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup.(mng)