Berkunjung ke Komplek Makam Raja-raja Indragiri

Tanpa Narasinga II, Sejarah Berkata Lain

3 Februari 2013 - 00.30 WIB > Dibaca 9979 kali | Komentar
 
Tanpa Narasinga II, Sejarah Berkata Lain
Foto: Fedli azis/riau pos
Komplek Pemakaman Raja-raja Indragiri seluas 16,19 hektare di kampung Kota Lama, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, secara keseluruhan memerlukan perhatian khusus. Kawasan yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Indragiri itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa di masa lampau, Indragiri merupakan salah satu negeri yang mencatat sejarah kebesaran Melayu.

Laporan FEDLI AZIS, Rengat

Siang, Ahad (27/1) sekitar pukul 12.00 WIB cuaca cukup cerah. Perjalanan dari Kota Rengat menuju Kampung Kota Lama, tidaklah terlalu jauh. Bisa ditempuh selama 20-25 menit saja. Kondisi jalan dari gerbang kampung menuju Komplek Makam Raja-raja Indragiri juga tidak terlalu buruk. Hanya di beberapa bagian yang mengalami kerusakan. Jalan yang membelah perbukitan kecil itu seperti mengisyaratkan sebuah perjalanan menuju masa lalu. Barangkali kondisi itu hampir sama dengan banyak kawasan bersejarah di negeri ini.

Kunjungan Riau Pos ke Kampung Kota Lama sebenarnya tidaklah direncanakan sebelumnya. Keinginan itu terbit saat bertandang ke rumah seorang kawan yang memang menyukai petualangan. Ditambah lagi, kawan itu termasuk orang yang peduli pada pelestarian hal-hal yang berbau masa lalu, baik benda maupun non benda. Bahkan si kawan adalah salah seorang pelaku seni dan Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Indragiri Hulu, H Mailiswin SSos.
Ini yang namanya Desa Kota Lama itu. Di depan sana ada Danau Meduyan dan di bagian atas sini, kawasan cagar budaya Komplek Makam Raja-raja Indragiri. Di sinilah letak puing-puing istana, benteng dan makam Sultan Narasinga II yang terkenal itu, ungkapnya menunjuk dua kawasan bersejarah tersebut.

Kawasan yang telah dipagar dan dibuatkan gerbangnya itu, dipandang dari luar  memang terlihat kurang terawat dengan baik, namun jalan-jalannya telah di aspal untuk mempermudah para wisatawan menuju makam Sultan Narasinga II dan lainnya. Seorang kawan bergumam, kita sedang berwisata makam, ujarnya berseloroh. Pernyataan itu di sambut gelak tawa semua orang yang ikut serta dalam perjalanan itu.

Dalam kawasan itu terasa nyaman dan teduh. Pohon-pohon besar dan rindang di tepian jalan komplek itu menghalangi orang di sana dari sengatan matahari yang panas mencenting di siang itu. Setelah memarkirkan kendaraan, tak jauh dari kediaman juru kunci makam, Mailiswin langsung mengarahkan ke makam Sultan Narasinga II yang bergelar Paduka Sri Sultan Alaudin Iskandarsyah Johan Zikrullah Fil Alam (1473-1532).

Kondisi makam-makam dalam kawasan seluas kurang lebih 15x15 meter itu cukup terawat. Selain di tepi pagar besi tumbuh beberapa pohon besar, juga terdapat tempat berteduh dari panas dan hujan. Ada beberapa makam di sana seperti makam Sultan Narasinga II di bagian tengah, makam anaknya Sultan Usuluddin Hasansyah (1532-1557) dan makam seorang tawanan yang akhirnya menjadi sahabat Sultan Narasinga II, Jenderal Portugis Frederico Marlos serta kerabat-kerabat lainnya.

Selain itu, tak jauh dari makam Sultan Narasinga II, terdapat pula makam Sultan Jamaluddin Keramatsyah (1599-1658), makam Tun Usman Fadillah, makam Raja Serdang, makam Syeh Abdul Kadir dan makam Andi Muhammad Juksi Besi. Khusus makam Andi Sumpu Muhammad bergelar Panglima Jukse Besi terbilang unik karena ukurannya yang tidak biasa. Makam panglima terbaik Sultan Narasinga II dan Sultan Usuluddin Hasansyah itu di tempatkan tersendiri dengan panjang berkisar 12-13 meter dan lebar dua meter.

Menurut cerita orang tua-tua panglima ini memiliki tubuh tinggi dan besar karena itu makamnya seperti ini, tambah Mailiswin.

Kawasan komplek tersebut berada di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Indragiri Hulu. Pembangunan dan pengembangan kawasan telah dimulai sejak lama dan penataan secara baik dilakukan sejak 1995 hingga sekarang lewat anggaran kabupaten, provinsi dan pusat. Dijelaskannya, untuk kawasan ini dianggarkan sebesar Rp300.000.000 pada 2011 dan 2012 hanya mendapat anggaran pemeliharaan Rp50 juta saja. Anggaran itu meningkat drastis pada 2013 ini lewat sebesar Rp1,5 miliar dari anggaran provinsi dan Rp50.000.000 dari kabupaten. Bahkan untuk pengembangan Danau Meduyan dibantu provinsi sebesar Rp3,5 miliar.

Jumlah ini rasanya lumayan besar untuk pengembangan dan pemeliharaan dua kawasan yakni komplek makam dan danau Meduyan. Kami juga selalu berupaya menggali potensi lain yang barangkali masih terkubur di kawasan Kota Lama ini, jelas Mailiswin menegaskan.

Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar yang bertugas di Indragiri Hulu, tepatnya di kawasan Makam Raha-raja Indragiri Kota Lama Saharan mengatakan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memaksimalkan kawasan tersebut. Saat ini, untuk kawasan Kota Lama yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional hanya dua yakni makam Sultan Narasinga II dan makam Kesedangan Sultan Indragiri atau Ahmad Alamsyah Putra. Sedang yang lainnya diharapkan agar pemda membuatkan peraturan daerah (perda) atau ketetapan Bupati Inhu agar benda-benda bersejarah itu memilki payung hukum yang kuat.
Selama ini kita masih demam cagar budaya saja. Upaya yang dilakukan pun baru inventarisasi dan masih sebatas pengenalan makanya kawasan cagar budaya ini belum semuanya terkelola dengan baik. Kondisi ini, juga disebabkan keterbatasan anggaran. Namun ke depan, kita berharap kawasan ini ditetapkan pemda sebagai kawasan cagar budaya yang berfungsi sebagai pusat penelitian karya ilmiah, bidang arkeologi, tutur Saharan.

Dipaparkannya lebih jauh, Kota Lama sebagai kawasan cagar budaya diduga sebagai daerah yang menyimpan struktur cagar budaya antara lain benda-benda bekas bangunan kuno seperti benteng dan makam serta benda-benda sejarah lainnya. Selain itu, di kawasan itu terdapat berbagai keramik peninggalan Dinasti Ming, Cang serta keramik asal Vietnam berbentuk gerabah. Karenanya, dalam mengurus kawasan ini dituntut tenaga profesional yang melakukan perlindungan, pemeliharaan, pelestarian dan pemanfaatan secara baik. Perlindungan di sini, dalam arti kata, upaya pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota berdasarkan UU No 11 Tahun 2010. Karenanya untuk tahun ini target kami cenderung pada registrasi nasional untuk memacu ketetapan Bupati Inhu terhadap cagar budaya daerah dengan langkah-langkah seperti identifikasi benda, inventarisasi, dokumentasi dan aksi (pemanfaatan), tegasnya.

Selama ini, memang sudah ada upaya mengarah ke sana seperti melakukan penelitian dengan berbagai pihak seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang membagi Kota Lama dalam tiga zona yakni zona inti, zona pendukung dan zona pengembangan. Diharapkan agar pemerintah, masyarakat dan elemen masyarakat lainnya memahami arti penting melestarikan nilai budaya daerah, baik nilai budaya benda (tangible) maupun non benda (intangible). Kedua objek ini disebut culture haritage baik bentuk aslinya ataupun nilai sejarahnya sesuai data dan faktanya.

Kampung Kota Lama
Kerajaan Indragiri dimulai sejak 1298 dan berakhir pada 1945 setelah mengakui dan bergabung bersama Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). Kerajaan yang berlangsung selama kurang lebih tujuh abad tersebut diperintah sebanyak 25 sultan/raja. Dalam berbagai catatan sejarah dijelaskan, awalnya kerajaan itu bernama Kerajaan Keritang dengan sultan pertama Raja Kecik Mambang bergelar Raja Merlang (1298-1337). Tampuk kekuasan dilanjutkan Raja Iskandar bergelar Narasinga I (1337-1400) dan Raja Merlang II bergelar Sultan Jamaluddin Inayat Syah (1400-1473). Sultan keempat Keritang yakni Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zukrullah Fil Alam bergelar Narasinga II (1473-1532).

Kerajaan Keritang yang dipimpin Raja Kecik Mambang atau Raja Merlang pernah menjadi wilayah taklukkan Kerajaan Majapahit. Namun seiring masukkan ajaran Islam, kerajaan tersebut dikuasai pula oleh Kerajaan Melaka. Sejak itu, raja Keritang pertama hingga keempat yakni Narasinga II tidak diperbolehkan tinggal di negerinya sendiri dan dibawa serta menetap di Melaka. Selama penguasa Kerajaan Keritang menetap di Melaka, roda pemerintahan dijalankan dua orang pembesar di sana yakni Datuk Patih dan Datuk Temenggung Kuning, namun keduanya kerap berselisih karena berbeda keyakinan. Datuk Temenggung memeluk Islam sedang Datuk Patih tetap bertahan dengan keyakinan lamanya yakni Buddha.

Konflik internal tersebut dimanfaatkan Narasinga II untuk menyusun siasat untuk pergi ke Keritang. Dengan alasan hendak mencari hiburan bersama permaisurinya Dang Purnama, Narasinga II bertolak ke Keritang dan bersama pengikutnya beliau langsung memindahkan pusat pemerintahan dari Keritang ke Pekan Tua (tak jauh dari Sungai Indragiri). Di Pekan Tua, Narasinga II dinobatkan sebagai sultan pertama Kerajaan Indragiri. Setelah itu, beliau kembali memindahkan pusat kerajaan dari Pekan Tua ke Mudoyan yang dikenal dengan nama Kota Lama untuk menghindari serangan tentara Portugis dan perompak. Belum ada kepastian kapan persisnya pusat kerajaan dipindahkan ke Kota Lama namun diperkiran sekurang-kurangnya pada 1532 (wafatnya Narasinga II). Dan 1765 pusat kerajaan kembali dipindahkan, kali ini ke Raja Pura atau Japura. Barulah pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim, 5 Januari 1815 pusat pemerintahan dipindahkan ke Rengat dan berlanjut hingga akhir usia kerajaan yang dikenal dengan nama Kerajaan Negeri Mahligai tersebut.

Tiga sultan Kerajaan Indragiri dimakamkan di Masjid Raja Kota Rengat yakni Sultan Ibrahim (1784-1815), Sultan Isa Mudayat Syah (1883-1902) dan raja terakhir Sultan Mahmud Syah (1912-1963). Tercatat bahwa Sultan Ibrahim lah yang telah memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Indragiri ke Rengat dari Kota Lama pada 1786 dan membangun Masjid Raya Rengat pada 1787. Sultan Ibrahim juga ikut terlibat langsung dalam peperangan merebut Kota Melaka dari Belanda bersama Raja Haji Fisabilillah yang wafat dalam pertempuran tersebut. Dalam berbagai catatan sejarah Narasinga II merupakan penguasa pertama yang mendirikan Kerajaan Indragiri. Semangat untuk berdiri sendiri dan lepas dari belenggu penjajahan Melaka membuatnya tetap dikenang sebagai orang yang pantang menyerah dan berani mengambil resiko. Perjuangan Narasinga II tidak bisa dipandang sebelah mata sebab tanpa jasa beliau sejarah tentu berkata lain.***  

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 11 Desember 2018 - 09:00 wib

Fisik RSD Madani Hampir 90 Persen

Senin, 10 Desember 2018 - 20:23 wib

Pekerja Berhak Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

Senin, 10 Desember 2018 - 20:20 wib

Telkomsel Gandeng eFishery dan Japfa Hadirkan Kampung Perikanan Digital Di Indramayu

Senin, 10 Desember 2018 - 19:26 wib

Satker PBL Riau Laksanakan Workshop Simulasi SIMBG

Senin, 10 Desember 2018 - 15:02 wib

KTP-el Tercecer Lagi, Langsung Muncul Desakan Audit

Senin, 10 Desember 2018 - 14:00 wib

1.019 Nelayan Diasuransikan

Senin, 10 Desember 2018 - 13:50 wib

Prabowo-Sandiaga Bidik Suara Jateng

Senin, 10 Desember 2018 - 13:30 wib

Gali Potensi Daerah

Follow Us