Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM HARY B KORIUN
Pram (2)
Minggu, 17 Januari 2016 - 12:16 WIB > Dibaca 1233 kali Print | Komentar
Pram (2)

ORANG yang paling merasakan keganasan propaganda Pramudya Ananta Toer adalah Mochtar Lubis yang masuk penjara selama 10 tahun di masa Orde Lama tanpa pernah diadili karena finah itu. HAMKA juga demikian. Harus mendekam di penjara selama 2,5 tahun dan fitnahan sebagai plagiator, yakni novelnya Tenggelamnya Kapal Van der Wijk yang dituduh plagiasi dari karya Al-Manfaluthi.

Propaganda Pram dkk lewat Lekra dan halaman budaya “Lentera” di Bintang Timur, benar-benar telah jauh memisahkan Pram dari teman-temannya sendiri, bahkan dari dirinya sendiri. Sebab, pada awalnya, Pram bukanlah penganut marxisme-komunisme, dan ketika dia berada di ideologi itu, Pram juga tidak fasih dan terkesan memaksakan diri (atau dipaksa?) untuk kepentingan partai (PKI).

Taufik Ismail mencontohkan, bersedianya Pram menerima Magsaysay Award dari Filipina tahun 1995, telah menunjukkan bahwa Pram bukanlah pribadi yang konsisten dan terlihat sangat oportunis dengan berpikir keuntungan pribadi (ini bukan cermin orang yang teguh dengan sama rata sama rasa dan anti kapitalis-imperalis). Padahal Pram tahu, hadiah itu didanai oleh sebuah lembaga dari Amerika Serikat (negeri kapitalis-imperialis) yakni Rockefeller Foundation, namun dia tetap mau menerimanya. Kalau Pram seorang yang berprinsip teguh dengan marxis-komunis, dia tidak akan mau menerimanya.


Inilah yang membuat Mochtar Lubis kemudian mengembalikan penghargaan yang sama yang didapatnya sepuluh tahun sebelumnya. Mochtar Lubis marah, sebab yayasan dari Manila itu memberinya penghargaan karena upaya kerasnya memperjuangkan kemanusiaan dari penindasan, sementara Pram adalah seorang penindas kemanusiaan. Namun, orang secara nyata bisa melihat bagaimana sebenarnya pribadi seorang Pram dalam hal ini. Pram ternyata bukan seorang yang hebat seperti karya-karyanya. Ketika dia masuk komunis, alasan utamanya adalah karena kehidupannya terjamin (materi) dan dia menerima Magsaysay Award juga dengan alasan itu (materi).


Padahal selama ini kita selalu yakin bahwa Pram adalah seorang yang kukuh pada pendirian, garis hidup, juga garis idealismenya. Pantaskah seorang Pram mendapatkan hadiah Magsaysay atau Nobel, sementara dia pengagum dan “murid” seorang Vladimir Ilich Ullyanov Lenin yang menjagal 40 juta rakyat Rusia (Uni Soviet) selama dia berkuasa (1925-1953)? Pantaskah dia untuk itu semua sementara dia tetap mengatakan bahwa marxisme-komunisme adalah paham yang memahami kemanusiaan, padahal telah membantai 50 juta rakyat Cina ketika Mao Tse Tung (Mao Zedong) berkuasa (1947-1976), 2 juta rakyat Kamboja melalui Pol Pot dengan Kmer Merah-nya (1975-1979) dan puluhan juta lainnya di puluhan negara lainnya seperti di Eropa Timur atau Amerika Latin?


Tercatat, paham marxisme-komunisme yang terbukti gagal, telah membunuh lebih 120 juta orang di 76 negara selama 74 tahun (1917-1991) sebelum keruntuhan Tembok Berlin (Jerman Bersatu) dan reformasi yang dilakukan Michael Gorbachev di Uni Soviet yang kemudian meruntuhkan komunisme secara internasional (Uni Soviet kemudian terpecah-pecah menjadi banyak negara hingga kini).


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
AKIBAT MELAWAN PETUGAS
Densus 88 Tembak Mati Teroris di Cilegon, Ternyata Perannya...
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:42 wib
ENGLISH PREMIER LEAGUE
Wenger Pergi, Arsenal Kehilangan Identitas
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:37 wib
WARGA SALING MENOLONG USAI KEJADIAN
Saksi Teror London: Orang-orang Terbang di Udara setelah Ditabrak
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:32 wib
MELAWAN SAAT PENANGKAPAN
Dua Bandar Narkoba Ditembak Mati Bareskrim dan Polda Sumut
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:25 wib
KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK
Terkait Kasus Sandiaga, Polisi Sebut Masyarakat Boleh Saling Lapor
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:18 wib
TERKAIT BANTAHAN DARI MIRYAM
Kubu Terdakwa E-KTP Minta Saksi Dikonfrontir soal Penerimaan Uang
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:06 wib
RUU MASIH DALAM PEMBAHASAN
Saran Fadli Zon Terkait Masa Jabatan Anggota KPU dan Bawaslu saat Ini
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:02 wib
PILGUB DKI 2017
Bantah Gelar Kampanye, Ahok Sebut Jenguk Timses
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:57 wib
JELANG PUTARAN KEDUA
Tito Bandingkan Polisi Belanda dan Indonesia Terkait Pilgub DKI
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:52 wib
TERKAIT NAMANYA YANG DISEBUT DI PERSIDANGAN
Fahri Hamzah Sebut KPK Langgar UU Pajak
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:48 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Siska Noviana Dewi Ukir Prestasi di Cabang Olahraga Panahan
9 Sekolah di Pelalawan Lumpuh

Jumat, 17 Maret 2017 - 10:50 WIB

Anomali Leicester

Kamis, 16 Maret 2017 - 16:09 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us