Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM HARY B KORIUN
Pram (1)
Minggu, 10 Januari 2016 - 00:55 WIB > Dibaca 946 kali Print | Komentar
Pram (1)
JAKARTA, April 1999. Lelaki tua itu masuk ke dalam ruangan, duduk di antara pembicara yang lain dan sejenak kemudian langsung berbicara. Meski keriput terlihat di sana-sini, namun dia masih kelihatan kokoh dan berotot. Dia memang terlambat, moderator sudah lebih dulu membuka acara diskusi itu sebelum lelaki itu sampai. Kemudian sang moderator, Hilmar Farid, memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.

“Saya senang berada di sini, di antara anak-anak muda yang seharusnya patriotik dan membebaskan diri dari pengaruh kapitalisme-imperialisme yang lama membelenggu kita...” dan kemudian terdengar suaranya yang lantang dan kuat yang membuat seluruh yang ada menjadi diam, memperhatikan setiap ucapannya.


Lelaki itu Pramudya Ananta Toer, yang telah wafat pada 30 April 2006 lalu. Dialah pengarang Indonesia paling terkenal di dunia, yang karya-karyanya sudah diterjemahkan dalam lebih 50 bahasa dan orang Indonesia yang paling dekat dengan penghargaan Nobel, meski hingga akhir hayatnya, Nobel itu tak pernah sampai kepadanya. Pram dianggap sebagai simbol perlawanan oleh banyak anak muda dan dia memang selalu membakar semangat anak-anak muda di setiap acara yang diikutinya, termasuk ketika itu saat menjadi pembicara dalam peluncuran Majalah Jaringan Kerja Budaya yang dibidani Hilmar Farid (kini Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan),  Arswendi Nasution dan yang lainnya. Di kalangan anak-anak muda yang suka kekiri-kirian, Pram dianggap pahlawan, dan itu terlihat ketika itu. Saya yang baru datang ke Jakarta dan belum banyak kenal orang, melihat bagaimana anak-anak muda itu hormat kepada Pram. Mereka diam dan takzim mendengarkan Pram yang sedang bicara.


Terus terang, saya bukan pengagum setia Pram. Seperti Rosihan Anwar, saya tidak suka dengan bahasa Pram yang lambat dalam karya-karyanya. Beberapa buku Pram saya miliki, namun hanya beberapa yang selesai saya baca. Tetralogi yang terkenal Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca dan Jejak Langkah, sudah lama saya baca ketika buku itu masih dilarang oleh penguasa Orde Baru, secara sembunyi-sembunyi.  Namun, saya selalu membaca cerita tentang lelaki kelahiran Blora ini. Pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan termasuk penderitaan-kemiskinan sebelum dia masuk Lekra/PKI atau setelah keluar dari Buru, memunculkan empati tersendiri, bahwa Pram memang seorang laki-laki yang kuat, hebat, kokoh meski di beberapa bagian dia sebenarnya lelaki yang rapuh yang pantas dipahami dan dimaklumi sebagia manusia.


Seperti dikisahkan oleh Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Bokor Hutasuhut dan Rosihan Anwar (Horison, Agustus 2006), Pram pada dasarnya bukan orang yang konsisten dengan pandangan dan pilihan politiknya: marxisme-komunisme. Dia korban yang terjerumus dan tak ditolong oleh teman-temannya. Pram seorang yang individualistis, dan ini sangat bertentangan dengan marxis-komunis yang mengutamakan sama rata sama rasa. Seperti dikisahkan Ajip, kemiskinan telah menjerumuskan Pram ke dalam ideologi kiri yang kini terbukti hancur di mana-mana itu (kecuali Cina, Kuba, Vietnam, Kamboja, Laos, Korea Utara dan beberapa negara kecil lainnya).


Pram pernah mengalami masa buruk sekitar tahun 1956, yakni tak makan beberapa hari dan kemudian datang ke rumah Ajib untuk meminta nasi. Isu yang yang muncul bahwa Pram tengah didekati oleh orang-orang komunis membuat tak ada penerbit yang mau menerbitkan novelnya, surat kabar tak ada yang mau menerima cerpen-cerpennya lagi yang membuatnya mengalami krisis keuangan. Kondisi inilah yang dimanfaatkan betul oleh komunis ketika itu. Pram ditawari untuk pergi ke Cina menghadiri peringatan 20 tahun meninggalnya pengarang besar Cina, Lu Hsun, bersama penulis naskah drama Utuy Tatang Sontani.


Beberapa waktu kemudian Pram ditawari menerjemahkan novel pengarang Rusia, Maxim Gorki, Ibunda. Tak lama setelah itu, bersama Utuy juga, Pram menjadi delegasi Indonesia menghadiri Konferensi Pengarang Asia di Tashkent, Uni Soviet (sekarang Turkmenistan). Hal inilah yang membuat para seniman anti-komunis menganggap bahwa Pram dan Utuy memang benar-benar sudah masuk dalam aliran kiri-komunis. Imbasnya, karya-karya Pram benar-benar ditolak di penerbitan manapun, salah satunya Majalan Star Weekly pimpinan PK Ojong yang sebelumnya banyak memuat karya Pram.


Menurut Ajip, sikap inilah salah satunya yang menjerumuskan Pram semakin jauh ke dalam aliran kiri. Jika saat itu ketika orang kiri baru berusaha mendekatinya dan teman-temannya melakukan pendekatan untuk “mempertahankannya”, Pram tidak akan menjadi orang kiri. Individualisme Pram tidak akan sepaham dengan komunisme, dan menurut banyak orang, jika saja PKI berhasil dalam kudeta, orang seperti Pram juga bakal dihabisi karena dianggap tidak segaris dengan kebijakan partai. Seorang individualis tidak penting dalam garis partai seperti PKI.


Pram kemudian benar-benar terjerumus dalam ide komunisme ketika ia diberi keleluasaan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan menjadi editor halaman budaya “Lentara” di Harian Bintang Timur. Dengan dua pisaunya itu, Pram benar-benar berseberangan dengan mereka yang kemudian menandatangani Manifes Kebudayaan seperti HB Jassin, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, Bakdi Soemanto, Mochtar Lubis dan yang lainnya termasuk Buya HAMKA. Menurut Taufik Ismail, dengan pemahaman marxisme-komunisme yang dipaksakan dan tak mengakar, Pram dengan bahasa kasar dan propaganda, selalu mengajak pembacanya untuk memusuhi kelompok Manifes Kebudayaan dengan kata-kata “ganyang”, “hancurkan”, “pembabatan total” dan lain sebagainya.@harybkoriun

 

Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
AKIBAT MELAWAN PETUGAS
Densus 88 Tembak Mati Teroris di Cilegon, Ternyata Perannya...
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:42 wib
ENGLISH PREMIER LEAGUE
Wenger Pergi, Arsenal Kehilangan Identitas
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:37 wib
WARGA SALING MENOLONG USAI KEJADIAN
Saksi Teror London: Orang-orang Terbang di Udara setelah Ditabrak
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:32 wib
MELAWAN SAAT PENANGKAPAN
Dua Bandar Narkoba Ditembak Mati Bareskrim dan Polda Sumut
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:25 wib
KASUS PENCEMARAN NAMA BAIK
Terkait Kasus Sandiaga, Polisi Sebut Masyarakat Boleh Saling Lapor
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:18 wib
TERKAIT BANTAHAN DARI MIRYAM
Kubu Terdakwa E-KTP Minta Saksi Dikonfrontir soal Penerimaan Uang
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:06 wib
RUU MASIH DALAM PEMBAHASAN
Saran Fadli Zon Terkait Masa Jabatan Anggota KPU dan Bawaslu saat Ini
Kamis, 23 Maret 2017 - 18:02 wib
PILGUB DKI 2017
Bantah Gelar Kampanye, Ahok Sebut Jenguk Timses
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:57 wib
JELANG PUTARAN KEDUA
Tito Bandingkan Polisi Belanda dan Indonesia Terkait Pilgub DKI
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:52 wib
TERKAIT NAMANYA YANG DISEBUT DI PERSIDANGAN
Fahri Hamzah Sebut KPK Langgar UU Pajak
Kamis, 23 Maret 2017 - 17:48 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Siska Noviana Dewi Ukir Prestasi di Cabang Olahraga Panahan
9 Sekolah di Pelalawan Lumpuh

Jumat, 17 Maret 2017 - 10:50 WIB

Anomali Leicester

Kamis, 16 Maret 2017 - 16:09 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us