Depan >> Kolom >> Chaidir >>

Devide et Impera

Senin, 03 Feb 2014 - 07:53 WIB > Dibaca 22123 kali | Komentar

Masih ingat pelajaran sejarah di sekolah dasar tempoe doeloe? Istilah devide et impera pasti tidak asing. Politik devide et impera selalu dikaitkan dengan penjajah Belanda.

Dulu, sebutlah Belanda tentu terbayang politik devide et impera. Dengan politik itulah Belanda memperluas tanah jajahannya.

Maka terkenal pula sebuah perumpamaan "Seperti Belanda minta tanah." Belanda selalu memiliki syahwat besar untuk memperluas tanah jajahannya; diberi sejengkal minta sehasta, diberi sehasta  minta sedepa.

Belanda tak boleh marah dengan merek dagang buruk yang lengket pada namanya. Kenyataannya, semenjak VOC didirikan pada 20 Maret 1602, Belanda mulai mengeruk hasil bumi Indonesia.

Pada mulanya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) hanyalah sebuah serikat dagang. Uniknya, VOC memiliki hak istimewa, perusahaan ini layaknya sebuah negara, memiliki tentara yang dipersenjatai.

Devide et impera merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan politik adu domba. Devide et impera merupakan kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan.

Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.

Devide et impera dalam pemahaman kita seringkali diringkas dalam istilah politik pecah belah atau politik adu domba (KBBI).

Beberapa puluh tahun pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia, citra buruk Belanda sebagai penjajah itu diperbaiki oleh Van Basten, Ruud Gullit, Giovanni van Bronckhorst, Arjen Robben, Robin Van Persie, dan lain-lain para bintang sepakbola Belanda.

Maka kemudian, ketika Timnas Belanda berkunjung ke Indonesia untuk melakukan pertandingan persahabatan pada 2013 lalu, Belanda pun dielu-elukan. Dan politik devide et impera Belanda pun dilupakan.

Tapi, siapa sangka cara-cara politik devide et impera Belanda itu ternyata masih berurat berakar dalam masyarakat Indonesia.

Cara Belanda memecah belah rakyat Indonesia melalui provokasi, tipu muslihat, fitnah, bahkan menyuap agar sebagian berkhianat terhadap yang lainnya, sekarang dapat kita saksikan hampir setiap hari melalui media cetak dan elektronik.

Praktik devide et impera bahkan semakin subur. Ada pihak-pihak tertentu demi kekuasaan, berusaha memecah belah dan mengadu domba. Intrik-intrik politik dilakukan secara piawai oleh elit politik dan penguasa.

Sama seperti Belanda, cara yang dipakai adalah dengan memainkan sentimen antarkelompok, sentimen antarkampung, antarsuku, antaragama, antarpartai, antardaerah, sentimen politik uang, dan lain sebagainya.

Tanggal  28 Januari 2014 beberapa hari lalu misalnya, Satpol PP Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar bentrok akibat sengketa tapal batas kedua kabupaten.

Adakah politik devide et impera dalam bentrokan tersebut? Entahlah. Terasa ada terkatakan tidak. Tapi kalau misalnya ada, siapa Belandanya?***
KOMENTAR
BERITA TERBARU

Perbaikan Jalan Ditimbun Kerikil

21 Februari 2018 - 10:10 WIB

Retail Sales Daihatsu Tembus 15.896 Unit

21 Februari 2018 - 10:08 WIB
Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

21 Februari 2018 - 10:05 WIB

Outdoor Class, SD Cendana Duri Belajar ke Riau Pos

21 Februari 2018 - 10:00 WIB
Buat Surat Pengganti KTP-El

Buat Surat Pengganti KTP-El

21 Februari 2018 - 09:55 WIB

Biaya Operasional Tak Tertutupi

21 Februari 2018 - 09:50 WIB
Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan  dan Pedagang Kurang Mampu

Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan dan Pedagang Kurang Mampu

21 Februari 2018 - 09:47 WIB

Dua Pelaku Curanmor Pasrah Digiring

21 Februari 2018 - 09:40 WIB
BERITA POPULER
Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

21 Feb 2018 - 02:17 WIB | 479 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 377 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 373 Klik
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 317 Klik
Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

21 Feb 2018 - 01:56 WIB | 246 Klik

Follow Us