Taklimat Baliho

Minggu, 05 Jan 2014 - 08:30 WIB > Dibaca 22036 kali | Komentar

Setual hati menanti. Minggu-minggu ini menanti dengan diam, dengan senyap. Orang lain boleh pikuk. Tapi, kerja politik, gawai kebudayaan tidak mesti dipikukkan dengan pekik. Dua gawai ini sesekali memerlukan senyap. Dalam senyap, orang kian dekat dengan liyan, kian karib dengan Tuhan, dengan mahakuasa. Ketika semua itu mendekat, kita tak lebih dari setual yang dina. Tak sekedar hina. Namun, dalam pikuk, manusia terdorong untuk bersaing dan menjadi lebih; maka terbakarlah nafsu untuk mendaku-daku. Terdorong pula hendak membusung dada dan memusatkan segala ihwal ke ego sendiri.

Itu… dan lihatlah betapa mabuknya para pejabat negeri ini menggilakan badannya, ‘menyintingkan’ muka dalam beragam gaya hanya untuk tampil di simpang-simpang dalam wajah baliho raksasa. Bahkan pengadaan baliho itu didukung dengan penganggaran yang besar. Masuk dalam biaya rutin para pejabat. Wah setiap diri di negeri ini mentaklimatkan wajahnya ke depan publik. Aneh dan super aneh, semestinya yang dipublikasi untuk kepentingan awam adalah karya besar mereka. Apa-apa yang layak dijadikan warisan oleh mereka kepada negeri ini, kepada generasi selanjutnya. Namun, kenyataannya terbalik. Laman kantor Gubernur penuh berisi reklame film yang berganti saban minggu atau saban ada momen penting di negeri ini dengan wajah yang rajin senyum. Padahal sehari-hari, senyum bagi mereka ialah sebuah keterpaksaan.

Begitu pula laman kediaman Gubenrnur, penuh sesak di sayap kiri dan sayap kanan dengan reklame film; “Saksikan! Jangan lewatkan! Dua kali putar! Seruu!” Saya pun teringat dengan bioskop di era 60-an dan 70-an. Reklame film saban minggu berganti dengan beragam bentuk dan gaya sesuai dengan jenis film yang akan diputar; silat, spy, roman percintaan, petualangan, kanak-kanak. Dan kami pun sibuk menjual botol sekedar untuk mengisi malam minggu atau malam sabtu. Tak kurang heboh dari itu; Atan Kotel pun mengayuhkan becak seraya mendaraskan suara dengan mike medium sepanjang jalan: “jangan lewatkan… malam ini Rhoma Irama dengan Kestaria Bergitar…. Mari… Mari saksikan. Jangan lewatkan!....” ujar Atan Kotel.  

Perihal Baliho dan ikhtiar mentaklimkan diri ke tengah publik, sejatinya telah berlangsung ribuan tahun lalu di daratan Tiongkok. Baliho itu ialah jajaan diri sang Kaisar yang zalim kepada rakyat. Agar rakyatnya patuh, supaya rakyatnya tunduk, maka sang Kaisar menghadirkan dirinya di tengah-tengah rakyat dengan wajah sangar, terkadang dengan paras bijak dan bajik yang mengepung wajah kota, sisi persimpangan, menusuk ke kampung-kampung. Semua karya ini digores dengan tangan oleh para pelukis kerajaan. Dia menjadi karya seni tersendiri di zaman itu. Kehadiran wajah diri sang Kaisar menjadi perpanjangan tangan sekaligus kekuasaan yang melekat ke dirinya. Tak sekedar itu, reklame ini juga sekaligus memikul tugas tentang bagaimana seni instalasi dijalankan dengan benar di sepanjang jalanan kota. Baliho Kaisar juga menjadi bagian dari efek taman, memenuhi unsur-unsur harmoni dengan lingkungan, pelengkap dan penyempurna tampilan taman kota, dia bagian dari street furniture yang anggun.

Lalu? Seribu tahun kemudian kita mengulangi kebodohan ini dalam bentuk yang sama. Malah lebih bodoh dari itu. Kita menyaksikan betapa baliho di kota ini yang berwajah serba pejabat menjadi sampah kota, sampah mata, sampah jalanan, sampah persimpangan. Mereka tak tahu, bahwa kehadiran baliho raksasa ialah bagian dari upaya menutup kelemahan diri dalam karya sejati. Karena tak mampu menghadirkan karya besar untuk kepentingan rakyat, maka mereka mem-baliho-kan diri di tengah-tengah kota. Seolah-olah dia telah berbuat banyak bagi negeri ini. Yang lucunya lagi, ketika sang pemimpin atau pejabat di penjara karena kasus rasuah, dia malah membela diri tanpa dosa:”Saya rela dikorbankan demi membuat Riau lebih maju”. Ambooiii. Macam dia saja yang ingin berbuat di permukaan bumi Riau ini. Seolah orang lain tak punya keinginan berbuat elok di kampung sendiri. Hai aduhai, hai ayuhaiii… amboii nian.

Kenapa saya menggunakan diksi amboi nian dan hai ayuhai? Ya… karena sudah kehabisan diksi, kering pilihan kata untuk menukil dan melukis kisah kebodohan di depan mata. Lalu, seorang teman Tionghoa saya berkata dengan selera tinggi sekaligus marah: “Ternyata kita di Riau ini hanya memilih dan membesarkan para preman simpang yang memajangkan dirinya di simpang-simpang”. Tak sekedar itu, elemen sampah itu lengkaplah sudah ketika tiang penyangga baliho itu pun terbuat dari kayu broti yang tak diketam. Sedikit pun tak kemas, berjela-jela sisik kayu dan tali rapia di sisi tiang. Maka, sudah pastilah… upaya mentaklimkan diri melalui baliho adalah kerjaan orang yang tak bermutu, kerjaan orang kehabisan ikhtiar, kehabisan ide. Lalu kehadiran baliho di kota ini pun, menjadi sampah mata, menyampah, menutup alam Tuhan yang demikian elok terhidang. Menutup kebohongan, karena yang di kandang oleh baliho itu adalah sejumlah rumah orang-orang miskin. Sejatinya anggaran baliho itu, dialihkan untuk merebailitasi rumah-rumah rakyat miskin. Maka jangan segan menyorak dan menghempas barisan baliho yang tak mengandung faedah dan fadilat bagi orang banyak.

Wahai para pejabat, berhentilah memperdaya rakyat kecil dengan sejumlah citra yang dibuat-buat. Berlaku bijak dan bajiklah untuk diri sendiri, kepada sekitaran dan orang-orang lain, yang jika tak dapat belaian benar, malahan sesuatu yang berada di sekitar anda, akan berlaku sebaliknya: menyumpah dan menyerapah, mengejek dan menghujat. Mengecam dan menghunjam benci yang tak pernah sudah. Ketika provinsi tetangga berlomba membangun sesuatu yang besar ranggi bagi negerinya, kita seakan kehilangan akal. Kita, pejabat kita semacam berdendam dan mengidam untuk dapat tampil memanjat pagar-pagar kantor dalam tampilan baliho raksasa yang buta dan menyampah itu. Inilah pertanda orang-orang beselera rendah dan kecil.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 413 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 63 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 59 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 36 Klik

Follow Us