Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM HARY B KORIUN
Sjahrir
Jumat, 06 November 2015 - 17:49 WIB > Dibaca 3249 kali Print | Komentar
Sjahrir
Berita Terkait

Ingin Percantik Bulu Mata



“BENAR seluruh bangsa kita harus belajar. Belajar berevolusi, belajar menjadi bangsa yang merdeka. Belajar menjadi manusia merdeka. Belajar mengenal dirinya sebaik mungkin. Belajar mengenal kelemahan-kelemahan diri sendiri agar dapat memperbaikinya. Belajar mengenal dunia kini sebaik-baiknya...”

Mochtar Lubis terkejut mendengar apa yang dikatakan Sutan Sjahrir, salah satu pendiri bangsa ini, yang  pikiran-pikirannya banyak berseberangan dengan Soekarno –hal yang “menyatukan” keduanya adalah keinginan kuat untuk membuat Indonesia merdeka dan sangat anti-kapitalisme, plus kolonialisme.

Mochtar Lubis, ketika itu, di awal Indonesia merdeka (beberapa waktu setelah Sjahrir diangkat menjadi Perdana Menteri  Indonesia pada 14 November 1945) adalah wartawan muda di Kantor Berita Antara, yang ditugaskan mewawancarai Sjahrir. Di rumahnya yang sederhana di Jalan Jawa –juga dengan pakaian yang sangat sederhana dengan baju dan celana yang sama-sama pendek dan berwarna putih— Mochtar yang baru masuk Antara dan tak punya pengalaman menjadi wartawan sebelumnya, ditanya oleh Sjahrir, sudah berapa lama menjadi wartawan.

Mochtar menjawab bahwa dia belum pernah menjadi wartawan, dan “ini baru permulaan”. Sjahrir kemudian bertanya: “Bagaimana berani melakukan sesuatu pekerjaan yang belum pernah dilakukan?” Setelah terdiam sejenak karena terkejut, Mochtar muda menjawab: “Sama juga dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir. Kan juga belum pernah menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri?” (Mochtar Lubis: “Pejuang, Pemikir, dan Peminat Sastra” dalam Mengenang Sjahrir [2010]).

Sadar dengan jawabannya, Mochtar agak deg-degan, takut tak berkenan oleh sang Perdana Menteri Sjahrir. Ternyata, setelah itu Sjahrir malah tertawa lepas. Kemudian keluarlah jawaban, yang, menurut saya, masih sangat relevan hingga kini.

Sjahrir adalah sebuah paradok dalam sejarah pendirian dan “pendirian” –dua hal yang memiliki makna yang sangat berbeda— bangsa ini. Bersama Soekarno dan Hatta, ketiga orang ini menjadi andalan, sebagai simbol keberanian sebuah bangsa yang sekian waktu terjajah oleh kesombongan (karena kemiskinan, sebenarnya) bangsa Eropa: Belanda dan Inggris, dan “ketamakan” Jepang. Belanda dan Inggris –juga hampir seluruh bangsa Eropa lainnya— melakukan “perjalanan” untuk menemukan “dunia baru” karena mereka miskin, menderita saat musim dingin. Mereka memerlukan rempah-rempah, kopi, dan sebagainya, termasuk emas dan segala kekayaan lainnya untuk menghidupi rakyatnya. Jika dihitung, hingga kini, Belanda tak akan bisa membayar utangnya, atas kekayaan tanah ini yang dibawa ke negerinya untuk kemakmuran rakyatnya.

Sjahrir --yang berpendidikan Barat tetapi yakin bahwa kapitalisme Barat adalah sebuah jebakan dan jeratan— sadar bahwa menjadi bangsa yang merdeka tidak serta-merta dan mudah. Hal yang paling sulit adalah menjadikan diri kita, individu, sebagai manusia yang merdeka. Berpikir merdeka. Tanpa itu, sebuah bangsa tak akan pernah bisa merdeka, meski bisa melepaskan diri dari cengkraman kolonialisme. Sebab, banyak penjajahan dalam bentuk lain yang harus dihadapi. Sosialisme –sesuatu yang diyakini Sjahrir bukan hanya karena dia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) pada Juni 1932 sebagai pengganti PNI (Soekarno) yang dibubarkan sendiri oleh para pengurus partainya karena kebrutalan politik kolonial Belanda, dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) tahun 1948--  mengajarkan banyak hal tentang bagaimana memerdekakan diri dan memerdekakan sebuah bangsa, dengan kedaulatan individu atau diri masing-masing. Kemerdekaan Indonesia adalah cita-cita bersama seluruh rakyat, tetapi Sjahrir melihat banyak teman-teman pergerakan –yang kemudian beberapa malah menjadi lawan politiknya--  yang ingin kemerdekaan itu diperoleh dengan cepat dan “seratus persen”.

Semasa masih kuliah hukum di Amsterdam, kemudian mendirikan dan mengendalikan PNI Baru bersama Hatta, Sjahrir yakin bahwa kemerdekaan memang harus didapat secepatnya. Merdeka penuh. Sesuatu yang juga diinginkan Tan Malaka dan yang lainnya, yang membuat dia beda pandangan saat Soekarno memilih “bekerja sama” saat pendudukan Jepang. Sjahrir tak suka Soekarno  dekat dengan Jepang karena dia punya analisa sendiri bahwa Jepang tak akan kuat melawan Sekutu dan akan kalah dalam perang. Dia juga tak ingin ada kesan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari Jepang.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update

Marquez Tandai Hari Ultah dengan Waktu Tercepat
Minggu, 18 Februari 2018 - 13:15 wib
Zetizen
Berekspresi Lewat Musikalisasi Puisi
Minggu, 18 Februari 2018 - 13:13 wib
TOMMY SERAN
Mantan Juara Dunia WBO Naik Ring Lagi
Minggu, 18 Februari 2018 - 13:12 wib

Simbol Warisan Leluhur
Minggu, 18 Februari 2018 - 13:08 wib

Baju Koko Black Panther
Minggu, 18 Februari 2018 - 13:06 wib

Mane Mengamuk ke Gawang Porto
Minggu, 18 Februari 2018 - 12:53 wib
CRISTIANO RONALDO
Ditawarkan ke Tiga Klub Elite Inggris
Minggu, 18 Februari 2018 - 12:42 wib
Puluhan Lembaga Kampanyekan One Billion Rising

Puluhan Lembaga Kampanyekan One Billion Rising
Minggu, 18 Februari 2018 - 12:40 wib
Tapal Batas Tak Tuntas
Warga Bingung, Pelalawan atau Inhu
Minggu, 18 Februari 2018 - 12:36 wib

Peralatan Perang Air Dirakit Sendiri
Minggu, 18 Februari 2018 - 12:33 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Kuasa Bahasa

Kamis, 11 Januari 2018 - 16:10 WIB

"Legends of the Fall": Tentang Cinta dan Kesetiaan tanpa Batas
Antara Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais

Kamis, 08 Juni 2017 - 17:10 WIB

 Pertahanan Terbaik atau Ketajaman Mencetak Gol?

Minggu, 04 Juni 2017 - 01:11 WIB

Keberuntungan atau Kecerdasan Zidane?

Kamis, 20 April 2017 - 03:04 WIB

sumatranet
Sagang Online
loading...
Follow Us