Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM HARY B KORIUN
Sjahrir
Jumat, 06 November 2015 - 17:49 WIB > Dibaca 2484 kali Print | Komentar
Sjahrir
“BENAR seluruh bangsa kita harus belajar. Belajar berevolusi, belajar menjadi bangsa yang merdeka. Belajar menjadi manusia merdeka. Belajar mengenal dirinya sebaik mungkin. Belajar mengenal kelemahan-kelemahan diri sendiri agar dapat memperbaikinya. Belajar mengenal dunia kini sebaik-baiknya...”

Mochtar Lubis terkejut mendengar apa yang dikatakan Sutan Sjahrir, salah satu pendiri bangsa ini, yang  pikiran-pikirannya banyak berseberangan dengan Soekarno –hal yang “menyatukan” keduanya adalah keinginan kuat untuk membuat Indonesia merdeka dan sangat anti-kapitalisme, plus kolonialisme.

Mochtar Lubis, ketika itu, di awal Indonesia merdeka (beberapa waktu setelah Sjahrir diangkat menjadi Perdana Menteri  Indonesia pada 14 November 1945) adalah wartawan muda di Kantor Berita Antara, yang ditugaskan mewawancarai Sjahrir. Di rumahnya yang sederhana di Jalan Jawa –juga dengan pakaian yang sangat sederhana dengan baju dan celana yang sama-sama pendek dan berwarna putih— Mochtar yang baru masuk Antara dan tak punya pengalaman menjadi wartawan sebelumnya, ditanya oleh Sjahrir, sudah berapa lama menjadi wartawan.

Mochtar menjawab bahwa dia belum pernah menjadi wartawan, dan “ini baru permulaan”. Sjahrir kemudian bertanya: “Bagaimana berani melakukan sesuatu pekerjaan yang belum pernah dilakukan?” Setelah terdiam sejenak karena terkejut, Mochtar muda menjawab: “Sama juga dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir. Kan juga belum pernah menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri?” (Mochtar Lubis: “Pejuang, Pemikir, dan Peminat Sastra” dalam Mengenang Sjahrir [2010]).

Sadar dengan jawabannya, Mochtar agak deg-degan, takut tak berkenan oleh sang Perdana Menteri Sjahrir. Ternyata, setelah itu Sjahrir malah tertawa lepas. Kemudian keluarlah jawaban, yang, menurut saya, masih sangat relevan hingga kini.

Sjahrir adalah sebuah paradok dalam sejarah pendirian dan “pendirian” –dua hal yang memiliki makna yang sangat berbeda— bangsa ini. Bersama Soekarno dan Hatta, ketiga orang ini menjadi andalan, sebagai simbol keberanian sebuah bangsa yang sekian waktu terjajah oleh kesombongan (karena kemiskinan, sebenarnya) bangsa Eropa: Belanda dan Inggris, dan “ketamakan” Jepang. Belanda dan Inggris –juga hampir seluruh bangsa Eropa lainnya— melakukan “perjalanan” untuk menemukan “dunia baru” karena mereka miskin, menderita saat musim dingin. Mereka memerlukan rempah-rempah, kopi, dan sebagainya, termasuk emas dan segala kekayaan lainnya untuk menghidupi rakyatnya. Jika dihitung, hingga kini, Belanda tak akan bisa membayar utangnya, atas kekayaan tanah ini yang dibawa ke negerinya untuk kemakmuran rakyatnya.

Sjahrir --yang berpendidikan Barat tetapi yakin bahwa kapitalisme Barat adalah sebuah jebakan dan jeratan— sadar bahwa menjadi bangsa yang merdeka tidak serta-merta dan mudah. Hal yang paling sulit adalah menjadikan diri kita, individu, sebagai manusia yang merdeka. Berpikir merdeka. Tanpa itu, sebuah bangsa tak akan pernah bisa merdeka, meski bisa melepaskan diri dari cengkraman kolonialisme. Sebab, banyak penjajahan dalam bentuk lain yang harus dihadapi. Sosialisme –sesuatu yang diyakini Sjahrir bukan hanya karena dia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) pada Juni 1932 sebagai pengganti PNI (Soekarno) yang dibubarkan sendiri oleh para pengurus partainya karena kebrutalan politik kolonial Belanda, dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) tahun 1948--  mengajarkan banyak hal tentang bagaimana memerdekakan diri dan memerdekakan sebuah bangsa, dengan kedaulatan individu atau diri masing-masing. Kemerdekaan Indonesia adalah cita-cita bersama seluruh rakyat, tetapi Sjahrir melihat banyak teman-teman pergerakan –yang kemudian beberapa malah menjadi lawan politiknya--  yang ingin kemerdekaan itu diperoleh dengan cepat dan “seratus persen”.

Semasa masih kuliah hukum di Amsterdam, kemudian mendirikan dan mengendalikan PNI Baru bersama Hatta, Sjahrir yakin bahwa kemerdekaan memang harus didapat secepatnya. Merdeka penuh. Sesuatu yang juga diinginkan Tan Malaka dan yang lainnya, yang membuat dia beda pandangan saat Soekarno memilih “bekerja sama” saat pendudukan Jepang. Sjahrir tak suka Soekarno  dekat dengan Jepang karena dia punya analisa sendiri bahwa Jepang tak akan kuat melawan Sekutu dan akan kalah dalam perang. Dia juga tak ingin ada kesan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari Jepang.


Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
Bupati Teken MoU Program WKDS
5 Dokter Spesialis Berdinas di RSUD
Selasa, 25 Juli 2017 - 15:28 wib
Pembayaran Utang Dianggarkan dari APBNP
349 Ribu Guru Kemenag Segera Terima TPG
Selasa, 25 Juli 2017 - 13:25 wib
Terindikasi Terima TBS dari Kawasan Ilegal
Beroperasi di Riau, Pajak Lari ke Luar
Selasa, 25 Juli 2017 - 12:58 wib
KAB INDRAGIRI HULU
Bertekad Lebih Baik, Berbuah Raih WTP
Selasa, 25 Juli 2017 - 12:35 wib

Tim Atlet Panjat Tebing Raih Juara Umum
Selasa, 25 Juli 2017 - 12:30 wib
HUKUM & KRIMINAL
Kim Teng Senapelan Ditutup Sementara
Selasa, 25 Juli 2017 - 12:12 wib
Kabupaten Kampar
DPRD Apresiasi 100 Hari Kerja Azis-Catur
Selasa, 25 Juli 2017 - 12:11 wib
2018 Kembali Diusulkan
Embarkasi Haji Antara Gagal
Selasa, 25 Juli 2017 - 12:08 wib
PROVINSI RIAU
Beroperasi di Riau, Pajak Lari ke Luar
Selasa, 25 Juli 2017 - 11:50 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Antara Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais

Kamis, 08 Juni 2017 - 17:10 WIB

 Pertahanan Terbaik atau Ketajaman Mencetak Gol?

Minggu, 04 Juni 2017 - 01:11 WIB

Keberuntungan atau Kecerdasan Zidane?

Kamis, 20 April 2017 - 03:04 WIB

Diapresiasi Mampu Jaga Kemajemukan

Senin, 10 April 2017 - 09:05 WIB

Setiap Bulan, Warga Desa Pandan Sari Inhil Berkurang Drastis
sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us