Annas Maamun: Petarung Kampung

Minggu, 01 Des 2013 - 06:50 WIB > Dibaca 21723 kali | Komentar

Di kampung, bersua sejati. Sejati menunjukkan teras atau inti kayu, disebut pula sebagai jatinya kayu. Setiap kayu ada jatinya.

Sejati, bermakna ‘’satu jati’’. Jati kayu dikenal juga dengan sebutan terasnya kayu. Permukaan tubuh kayu yang lunak mudah ditebang, tapi ketika bersua dengan jatinya kayu, beliung terhenti sejenak. Lalu, jatinya bangsa ada di kampung-kampung. Para pemain kampung tengah berada pada posisi seksi dan menggoda. Anak-anak kampung memanjat tembok kota, lalu bersua dengan pura-pura dan keberpuraan. Lalu keberpuraan memiliki dimensi jamak dan ragam. Keragaman ini melahirkan seluang anak-pinak, sehingga dia menjadi sebuah bangunan ‘’kejahatan’’ yang berbungkus manusia beradab. Sebab, kota itu sendiri bawaan dasarnya adalah sekumpulan manusia kalah yang menjalani fase pemberadaban. Untuk itulah dia dinisbatkan dengan prinsip-prinsip madinah, madani, hadari dan sekian suntingan idiom yang beralamat pada civilization. Bahwa kota itu adalah pusat peradaban.

Kota menjadi pusat peradaban ketika terjadi pemusatan kapital dan perputaran uang yang demikian besar. Tapi, semuanya berwajah semu. Di kampung-kampung manusianya lebih produktif untuk mengisi ruang-ruang pertarungan hidup. Untuk makan mereka menanam dan menangkai joran. Segala jenis tanaman beralamat dengan keperluan dapur. Bukan keperluan pasar. Di kota, alamat dapur, secara sontak berubah menjadi alamat pasar yang mekanismenya diatur setangkai tangan di dalam sebuah kotak hitam. Tak terjangkau oleh para petani dan pengulur joran. Tebu, pisang, terung, tomat, nenas semua beralamat akhir di dapur, tapi ihwal ini tidak di kota. Kota menjadi pusat ‘’olahan’’ bisa dia menjadi olahan hilir, bisa pula olahan tawar-menawar harga. Antara kampung yang menanam sejati dengan kota yang menjinjit semu; bertemu dalam sebuah ladang tanding.

Annas Maamun, anak kampung. Bahasanya pelat dengan logat Bangko yang kental dan kelat. Dia tak peduli dengan dunia terbentang yang mengharuskan orang untuk menjadi anasir modern dengan kaidah-kaidah Jakarta atau serba kota. Dengan gaya kampung, tak ada larangan orang boleh naik Mercy. Dengan gaya kampung dan lidah kampung, juga tiada larangan dia menunggangi Lexus sebagai symbol modernisme. Di sini terjadi padu padan. Kita menjadi gayang dan gamang, ketika berdepan dengan instrumen dan artikel modern; langsung mengubah cara dan gaya berpakaian, gaya makan, gaya berjalan dan gaya berbicara. Ingat, kemodernan adalah milik orang-orang kampung, bukan klaim sepihak mereka yang mengaku ter-kota-kan.

Kesejatian, resa dan gesa untuk bertarung juga dimiliki mereka yang tinggal di kampung-kampung. Betapa banyak anak-anak kampung yang dianggap sebelah mata, namun menjadi nirmala di kota-kota. Bahkan jadi pemimpin ibukota. Bukan wilayah haram, pelintasan garis demarkasi imajiner antara kampung dan kota dilakukan seseorang dengan maksud membaharu, memberi rasa lain, menjinjit warna lain, sesuatu yang di luar kebiasaan awam. Selama hiruk pikuk demokrasi, kita mencederai demokrasi dengan sebukit fitnah yang menohok akal sehat, menohok relung terdalam akal budi dan mata fikir orang-orang berakal. Kita yang mengaku ter-kota-kan (urbanized) selalu menggiring segala sesuatu bak bermain peran dengan peran-peran heboh di atas panggung agar disorot mata kamera. Kita menjadi korban dari masyarakat ‘’telenovela’’; dunia gunjing-bergunjing, dunia fitnah-memfitnah dan seterusnya bukanlah sesuatu yang sehat dilihat dari misi utama demokrasi: civic and political education. Kita yang ter-kota-kan seakan mentakrifkan bahwa demokrasi itu ialah serangkaian perbuatan yang serba heboh. Namun, tidak bagi orang-orang kampung.

Orang-orang kampung melawan melalui ‘’revolusi bisu’’ (Zweigt Revolution); ketika dia benci terhadap seorang raja yang zalim, dia tak punya kekuatan melawan. Namun, dia akan melawan dengan senjata orang-orang lemah. Seraya berlalu di depan raja, dia mengeluarkan ‘’kentut diam’’ yang menghasilkan amoniak. Inilah bentuk perlawan dengan senjata orang-orang lemah (weapon of the weak). Ini bentuk kesejatian perlawanan dan pertarungan yang tak terpetakan dalam ‘’maps of attack’’ mana pun. Dan orang-orang kampung tak percaya benar dengan kerjaan panitia. Mereka bekerja dengan hati, terbit dari hati. Orang-orang yang melihat, lalu ingin terlibat dan bersatu dalam semangat ‘’buddy’’ alias bersedia mati demi perkauman. Mereka memang terlihat lemah dan berujar dengan gaya kalimat serba pendek, namun kaya diksi, kaya balaghah dan memiliki kemampuan merangkai-rangkai cerita. Setandan cerita ini lalu diuli, dijahit menjadi tandan-tandan kecil yang lemak didengar dan didendang para orang-orang senegeri menjadi alunan nan merdu. Lau, orang-orang pun berhimpun dalam sejumlah ihwal yang tak terduga. Annas Maamun memiliki itu semua. Untuk Riau yang mau belajar.***

KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 415 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 63 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 59 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 36 Klik

Follow Us