Perang yang Menggali Kuburnya Sendiri

4 Mai 2012 - 07.57 WIB > Dibaca 12812 kali | Komentar
 

‘’Warga AS telah menempuh lebih dari satu dekade di bawah awan gelap perang. Saya sadar banyak warga AS yang sudah lelah dengan perang.’’

Itu kutipan perkataan Presiden AS, Barack Obama ketika mengulangi kesungguhannya untuk memulangkan para tentara AS dari Afghanistan pada 2014 setelah berperang selama lebih dari 10 tahun di sana.  

AS dengan dukungan para sekutunya di NATO menyerbu Afghanistan tak lama setelah tragedi serangan teror di Negeri Paman Sam pada 11 September 2001. Semua itu harus dibayar mahal. Sedikitnya 3.000 nyawa tentara AS dan NATO tewas.

Di sisi lain, setengah juta warga Afghanistan mengungsi akibat perang. Mereka juga telah kehilangan tempat tinggal dan berjuang untuk bertahan hidup karena diabaikan pemerintah dan Amnesty International. Tiap hari, sekitar 400 orang masuk tempat penampungan sementara di seluruh negeri.

Perkiraan pemerintah Afghanistan mengatakan, lebih dari 40 orang mati kedinginan selama musim dingin ini, yang terburuk dalam 15 tahun. Dan dilaporkan sedikitnya 28 anak meninggal di kamp-kamp di sekitar Kabul karena kedinginan.

Kabul saja menampung hingga 35.000 pengungsi di 30 daerah kumuh di sekitar kota. Menurut data PBB perang makin meningkat dilihat dari jumlah kematian warga sipil terus naik ke rekor lebih dari 3.000 pada 2011.

Perang tak saja membunuh kedua belah pihak yang bertikai, tapi terutama pada negara agresor. Total biaya yang dikeluarkan AS untuk perang di Irak dan Afghanistan ditambah operasi militer terkait di Pakistan telah melebihi angka 4 triliun dolar AS, lebih dari tiga kali jumlah yang telah disahkan Kongres AS dalam satu dekade ini sejak serangan 9/11.

Menurut penelitian akademisi di Universitas Brown, jika pengeluaran Pentagon lainnya, pembayaran bunga atas uang pinjaman untuk membiayai perang dan 400 juta dolar AS diperkirakan telah dihabiskan untuk ‘’perang melawan teror’’ domestik, total pengeluaran yang sudah dikeluarkan di satu tempat antara 2,3 triliun hingga 2,7 triliun dolar AS.

Meski perang kini ‘’mulai mereda’’, tambahan pengeluaran militer masa depan dan biaya perawatan bagi para veteran perang, maka jumlah uang yang harus dikeluarkan AS akan berada di antara 3,7 triliun hingga 4,4 triliun dolar AS.

Laporan ini bukan pertama. Pada 2008, Harvard pernah melakukan studi serupa yang memperhitungkan biaya akhir perang akan melebihi 3 triliun dolar AS. Perbedaannya, kini posisi keuangan AS telah memburuk.

Parahnya lagi, perang AS di Irak dan Afghanistan hampir seluruhnya dibiayai uang pinjaman yang cepat atau lambat harus dilunasi. Laporan menyimpulkan, 225.000-258.000 orang telah tewas dalam dua perang tersebut, namun jumlah ini bisa jauh lebih tinggi karena AS selalu menutupi jumlah korban sebenarnya.

Apa yang dicapai Amerika dari pengeluaran itu kini dipertanyakan.  Osama bin Laden juga tak sedikit menyumbang untuk kebangkrutan AS.  Perburuan terhadap dirinya yang dilakukan AS jadi perburuan termahal sepanjang sejarah.

Jika studi ini benar, selain terpanjang dalam sejarah, maka biaya perang AS yang telah mengalir sejak peristiwa 9/11, akan mendekati biaya Perang Dunia II. Perang kini telah melemahkan pondasi keuangan dan ekonomi AS dan negara Barat. Situs china.org.cn menuliskan: ‘’Masalah AS tak terhubung dengan bin Laden. AS mengobarkan perang melawan Islam’’.

Situs ini juga mencatat,  sentimen anti-AS bukannya melemah namun makin menguat tiap tahun. Jadi, hanya dapat apa AS dari perang tak berkesudahan ini? Dia tak lain hanya menggali kubur untuk keancurannya sendiri.***
KOMENTAR
Follow Us