Hijrah-Hajar

Minggu, 24 Nov 2013 - 09:23 WIB > Dibaca 4152 kali | Komentar

Hajar, sebuah nama dan sebatang tubuh. Dia berlari-lari dalam pengulangan kisar. Kisaran ini jadi pengulangan sejarah dan setandan cerita yang panjang hingga menembus tembok nan kokoh. Hajar berlari dan membawa kisah ‘’berpindah’’. Dia seakan dipencil dan terpencil di ujung sudut sejarah. Dia sosok seorang budak, seorang budak perempuan, dan perempuan yang hitam. Dia sekaligus permata, sekaligus nirmala yang jadi penanda ‘’pergantian kisah’’, penyelaras hak ‘’kesulungan’’ Ismail, menjinjing sebuku ihwal mengenai ‘’perpindahan’’, trans-mutasi sekaligus trans-substansi sejarah peradaban manusia.

Dia isteri seorang lelaki pertama yang melawan kezaliman para penyembah berhala. Dia diperisterikan Ibrahim dengan serangkaian syarat yang diajukan oleh Sarah. Selanjutnya, Hajar menjadi penanda dalam ritual-ritual Haji. Haji bukanlah ziarah (yang disalah artikan menjadi pilgrim, yang berakar kata dari bahasa Itali Pilgrimo dengan makna dasar berziarah ke rumah para dewa). Serangkaian ritual Haji adalah untuk memperingati Hajar. Haji ialah ibadah tentang penyerahan total diri manusia di depan Tuhan.

Kita memasuki awal tahun Hijrah dalam bulan pertama (muharam). Merujuk ke Hajar, maka kata Hijriyah berakar dari namanya (Hajar). Demikian pula kata ‘’muhajir’’, dan kata Hajj (untuk Haji) yang dalam bahasa Ibrani disebut sebagai Hagag (karena bahasa Ibrani tak mengenal huruf J, namun diganti dan setara dengan huruf G). Dengan begitu, setiap orang yang melakukan peralihan atau perpindahan dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik, lebih mulia dan lebih tinggi dia digolongkan sebagai kaum muhajir. Kaum yang berpindah, kaum yang beralih untuk mencapai maqam kebaikan dan maqam mulia dan terpuji.

Lalu, di mana nirmala dari nama Hajar? Siti Hajar adalah seorang budak, pembantu seorang perempuan cantik bernama Sarah yang mandul. Seorang perempuan yang tak mungkin memberikan zuriat (anak) bagi Ibrahim. Siti Hajar hadir sebagai penanda tentang perpindahan, perjalanan panjang bani Ibrahim lalu menjadi bani Ismail. Tuhan menghadirkan segala sesuatu yang tiada berada di bawah serba terduga. Tuhan memilih satu manusia termulia di antara semuanya, ujar Ali Shariati. Dari seluruh manusia, Tuhan memilih seorang perempuan. Dari semua perempuan, Tuhan memilih seorang budak. Dari semua budak, Tuhan memilih seorang budak yang berkulit gelap. Di situs ‘’Kuil’’ pertama dan tertua di permukaan bumi ini, kita dikepung dan dikandang oleh serangkaian arketipe yang menamai dirinya ‘’hitam’’ (gerakan safa-marwa) oleh Siti Hajar, di sebelah Hijr Ismail di situ ada makam seorang perempuan termulia, makam Siti Hajar yang bersebelah dengan rumah Tuhan (Ka’bah). Di inti jagat Ka’bah ada batu hitam (Hajar Aswad). Peristiwa menapak ulang semua gerakan Hajar itu, disebuah tapak medan tanah haram disebut sebagai bagian dari ritual Haji.

Hijrah Nabi ke Madinah adalah hijrah gelombang kedua dalam sejarah dan sirah Islam. Hijrah pertama dilakukan ketika para sahabat yang masih sedikit di awal persemaian Islam di lembah Makkah mendapat tekanan dan terror dari pihak Qurasy jahiliyah. Kaum Islam yang baru tumbuh itu memutuskan diri untuk melakukan Hijrah (sesuai perintah Nabi) ke tanah Hitam Abessinia (Ethiopia sekarang). Lalu, hijrah pertama ini sekaligus menandai kedatangan orang ke tanah Hajar (hitam). Nabi berkata, ‘’seorang Muhajir idealnya adalah seorang yang berperilaku seperti Hajar’’. Dia menjalani senyap bertahun-tahun dengan seorang anak kecil di padang gurun yang sejuk ekstrim, di kala lain dengan nada panas yang ekstrim pula.

Dia menjalani pemencilan peradaban, untuk menumbuhkan benih peradaban baru, tentang kisah penghentian pengurbanan anak manusia di depan tuhan danpara dewa. Sebuah tradisi yang menjalar sejak dari Romawi, Yunani, sampai ke Asia Timur dan seberang benua Columbus. Tak ayal lagi, segala tabiat dan perilaku Hajar selama ditinggalkan Ibharim di sebuah lembah sunyi, Hajar menyelenggarakan hidup dalam pertarungan (survival) yang di luar kebiasaan dan anggapan umum. Dia harus mempertahan kehidupan seorang makhluk manusia yang baru tumbuh; dengan gizi, dengan kasih, dengan sayang, dengan belai, tanpa sergah, tanpa bentak di tengah alam yang membentak. Di tengah gurun yang tiada berbapa, tiada berayah, tiada sosok pelindung bernama lelaki dewasa. Dia malah melakukan segala hal yang terbalik. Dia harus membesar seorang anak lelaki untuk menjadi dewasa, agar dia kelak menjadi pelindung bagi seluruh umat manusia, melalui kehadiran bani Ismail yang memperoleh ‘’hak kesulungan’’ itu.

Sempena tahun Hijrah ini, sejatinya kita merenung perbuatan ‘’berpindah’’ pada gelombang awal hijrah ke Abessinia, bukan perpindahan ke Madinah semata. Sebab, kandungan dan sari hikmah dan penanda yang dihadirkan Hajar sebagai pemberi dasar perbuatan hijrah itu terkandung dari serangkaian perbuatan dan perilaku Hajar di tengah lembah di tepi gurun. Kita hendak berubah? Mestilah mampu menukil dimensi hijrah dari kehadiran tokoh yang kuat watak melawannya kepada sesuatu yang biasa-biasa aja. Riau hendak berubah? Mari kita berhijrah dengan seorang ‘’muhajir’’ yang mencerahkan dalam kadar yang tak biasa. Semuanya di luar kebiasaan awam. Dan InsyaAllah tanah ini mampu menukil makna hijrah fase pertama ke tanah Abessinia... Kita keluar sebagai pemenang, tidak dengan curang, tidak dengan sugunung fitnah.***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 413 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 55 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 54 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 30 Klik

Follow Us