Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM HARY B KORIUN
Svetlana
Jumat, 16 Oktober 2015 - 16:15 WIB > Dibaca 2283 kali Print | Komentar
Svetlana
Svetlana Alexievich. (DNAINDIA.COM)
Berita Terkait

Riau Raih Prestasi Lumayan



SVETLANA Alexievich seperti menampar dunia sastra. Para panelis Nobel Sastra di Oslo maupun Stockholm juga seperti mengejek para sastrawan dunia: sedang apa kalian? Haruki Murakami mungkin hatinya muram dan gundah-gulana. Adonis harus lebih bersabar.  Ko Un harus rela menunggu. Laszlo Krasnahorkai bisa menikmati kopi di pinggiran Kota Budapest sambil nonton televisi. Ngugi Wa Thiong’o tak perlu bersedih. Ben Okri bisa tetap tenang dalam puisi-puisinya. Nuruddin Farah juga harus sering berzikir.

Svetlana memang sudah lama jadi perbincangan dunia. Sama halnya nama-nama di atas. Dan jika ditambahkan deretannya lagi masih ada Joyce Carol Oates, Philip Roth,  John Bamville, Jon Fosse,  Mircea Cartarescu, atau Isabell Allende, dan sekian nama lainnya. Lalu, mengapa Svetlana? Apa yang dilakukan Svetlana? Mengapa Nobel Sastra diberikan kepada “sastrawan” yang  karya-karyanya lebih dekat  –dan memang benar adanya—  jurnalistik?

Apakah Svetlana menulis cerpen? Apakah Svetlana menulis novel, sajak, naskah drama? Tidak. Svetlana menulis laporan jurnalistik. Lalu, bagaimana batasan antara sastra dan jurnalistik disatukan seperti itu? Sastra adalah fiksi, sedangkan jurnalistik berpijak pada fakta dengan segala akurasinya. Jika jurnalisme sastrawi yang menjadi pijakan –sebagaimana John Hersey meraih  Pulitzer Prize lewat “Heroshima”-- tentu tetap dengan dasar yang tak bisa dibantah: fakta. Jurnalisme tak boleh mengarang (fiksi), tetapi sastra bisa berawal dari fakta, meski tetap dianggap sebagai fiksi.

Tetapi, di luar pemahaman sederhana tersebut, pengakuan terhadap Svetlana sudah sejak lama muncul. Ketika Alice Munro mendapatkan Nobel Sastra tahun 2013, juga tahun lalu ketika Patrick Modiano mendapatkan penghargaan ini, nama Svetlana sudah masuk dalam jajaran yang diperhitungkan juri/panelis. Bersama Ngugi, Murakami, dan sederet nama tadi, karya-karya Svetlana dianggap bernilai sastra tinggi meski dibuat sebagai karya jurnalistik. “Nilai sastra” inilah yang menjadi salah satu patokan mengapa Svetlana layak dapat penghargaan adiluhung tersebut.

Svetlana dianggap sebagai jurnalis yang menggunakan mata hati dan kemanusiaannya dalam karya-karyanya. Dia telah melintasi nilai-nilai lain hingga ia sampai pada suatu titik, bahwa nilai kemanusiaan berada di atas nilai-nilai lainnya itu. Ketika agama hanya menimbulkan pertumpahan darah di sana-sini dengan dogma kebenaran masing-masing yang sangat egois; ketika politik menjadi mesin yang sangat massif untuk membunuh manusia yang lain; ketika logika kebenaran takarannya sumir, maka nilai-nilai kemanusiaan menjadi sebuah standar yang dilihat dari sisi manapun akan sama pijakan nilainya. Terutama ketika itu menjadikan anak-anak dan wanita sebagai objek korban.

Itulah yang dipilih perempuan kelahiran 31 Mei 1948 itu. Meski lahir setelah Perang Dunia II berakhir, namun Svetlana tetap merasakan aura tragedi kemanusiaan yang ditanggung jutaan manusia di berbagai belahan dunia itu. Dia merasakan jejak itu di tanah kelahiranya, Uni Soviet (dia lahir di Ivano-Frankivsk, Ukraina, dari ayah seorang Belarusia dan ibu Ukraina sebelum menetap di Belarusia setelah sang ayah berhenti dari militer selepas Perang Dunia II) yang kemudian dilawannya setelah uni itu pecah menjadi 15 negara merdeka.

Banyak orang akhirnya menafikan perdebatan apakah yang ditulis Svetlana itu bisa disebut karya sastra atau tidak.  Dia menulis kisah-kisah pendek, esai, dan reportase yang semua tentang tragedi kemanusiaan. Dia mengaku banyak dipengaruhi oleh penulis besar Belarusia,  Ales Adamovich – yang tentu kebesarannya kini berada di bawah Svetlana setelah nobel ini--  yang membangun genre, apa yang disebut sebagai novel kolektif, novel oratorio, novel kesaksian, atau epic chorus.
 
KOMENTAR
Berita Update
Doa dan Syukuran HUT Ke-28 Riau Pos
Bertransformasi Melalui Go Digital
Jumat, 18 Januari 2019 - 10:30 wib
Pengganti Azis Zaenal Harus Kader PPP

Pengganti Azis Zaenal Harus Kader PPP
Jumat, 18 Januari 2019 - 10:29 wib

Karyawan PT SRK Mogok Kerja
Jumat, 18 Januari 2019 - 10:25 wib
Produksi Massal Mobil Listrik
Masih Harus Diuji secara Ekonomi
Jumat, 18 Januari 2019 - 10:04 wib
Waspada Peningkatan Curah Hujan

Waspada Peningkatan Curah Hujan
Jumat, 18 Januari 2019 - 10:04 wib

Rekam KTP-el di Rutan
Jumat, 18 Januari 2019 - 09:30 wib
Warga Keluhkan APK Caleg

Warga Keluhkan APK Caleg
Jumat, 18 Januari 2019 - 09:27 wib
Soal Adipura, Wako Sebut Partisipasi Warga Rendah

Soal Adipura, Wako Sebut Partisipasi Warga Rendah
Jumat, 18 Januari 2019 - 09:25 wib
Baznas Targetkan Rp6 Miliar

Baznas Targetkan Rp6 Miliar
Jumat, 18 Januari 2019 - 09:20 wib

Temukan Alat Kontrasepsi di Tempat Jagung Bakar
Jumat, 18 Januari 2019 - 09:15 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
 Kakunya Aturan yang Menyulitkan Pelipuan Asian Games

Minggu, 26 Agustus 2018 - 00:12 WIB

Asian Games dan Infrastruktur Olahraga Kita

Selasa, 21 Agustus 2018 - 22:27 WIB

Riau Ikut “Berjuang” di Asian Games

Senin, 20 Agustus 2018 - 11:36 WIB

Asian Games, Harga Diri, dan Eksistensi Sebuah Bangsa

Jumat, 17 Agustus 2018 - 00:16 WIB

Duel Kante-Pogba Versus Modric-Rakitic Menjadi Penentu
Sagang Online
loading...
Follow Us