Menepis Mitos

16 Desember 2012 - 07.29 WIB > Dibaca 7857 kali | Komentar
 
Menepis Mitos
Teguh Firdaus tengah membuat alat musik gambus. Foto Alfiadi/Riau Pos
Salah satu alat musik tradisional Melayu yang tetap diburu para musisi hingga hari ini adalah gambus. Meski laris manis di pasaran, ternyata alat musik tersebut belum diproduksi secara massal, terutama di Riau. Sedikit sekali pengrajin bertungkuslumus membuat alat musik yang menurut sebuah mitos sebagai peniruan bentuk betis perempuan yakni betis istri Nabi Daud.

ALFIADI, Sungai Apit

SALAH satu pengrajin alat musik tradisional itu adalah Teguh Firdaus asal Sungai Apit, kabupaten Siak. Teguh yang akrab disapa Abah itu telah melakoni dunia pembuatan alat musik sejak 12 tahun belakangan. Baginya, pekerjaan itu sebagai tanggung jawab moral untuk melestarikan alat musik kesenian Melayu yang masih dimainkan dalam banyak kesempatan oleh para musisi tua maupun muda.

Walaupun secara finansial, pekerjaan itu tidak bisa dijadikan mata pencarian utama, namun ayah tiga anak ini tetap yakin, alat musik yang dihasilkannya tetap disenangi dan dicari. Bahkan baru-baru ini, gambus buatannya dibeli orang Belanda dan Prancis. Informasi ini diketahui Riau Pos, saat berkunjung pada helat workshop pengrajin Zapin Bedelau di rumahnya di Kelurahan Sungai Apit kecamatan Sungai Apit, kabupaten Siak.

Lelaki 49 tahun itu telah membuat sedikitnya 414 unit alat musik gambus dan sebagian besar dibeli pihak Pemerintah Kabupaten Siak, Pemerintah Provinsi Riau, Institut Kesenian Indonesia (ISI) Yogyakarta, sanggar orkestraTumasik Singapura, sanggar-sanggar asal Melaka, Malaysia. Menariknya lagi, Gambus yang dihasilkan Abah ini tak hanya ukuran standar, ia juga membuat ukuran jumbo sepanjang empat meter dengan diameter 80 sebanyak dua unit. Satu unit telah selesai dan satu unit lagi dalam penyelesaian. Gambus ukuran jumbo ini telah diniatkannya untuk di sumbangkan pada Pemkab Siak. Maksudnya agar alat itu diletakkan di istana sebagai upaya pelestarian agar pengunjung maupun masyarakat mengetahui alat musik tradisional ini masih ada dan tetap terpelihara. Namun niat tulus itu, belum mendapat respon positif.

Jika ada yang tertarik untuk membeli gambus ukuran jumbo ini saya akan menjualnya, tentu harganya beda dengan ukuran standar, ya berkisar Rp10 juta ke ataslah, ungkap Abah yang sedang mempersiapkan galeri hasil buah tangannya di halaman rumahnya.

Ditambahkannya, konsumen yang membeli hasil karyanya itu, tak hanya gambus semata, melainkan juga alat musik pukul marwas. Gambus dan marwas dijual dalam satu paket terdiri satu gambus dan empat marwas seharga Rp1.200.000. Untuk pemasaran produknya itu, Abah memiliki trik tersendiri. Selain dari mulut ke mulut, dia juga mempromosikan lewat situs website yang dikelolanya sendiri yaitu www.bedelau.com.

Dalam situs itu, selain produk hasil kerajinannya dia juga mempromosikan sanggar Bedelau yang dipimpinnya. Lewat situs tersebut produknya sudah mendunia di dunia dan sudah banyak mendapat banyak tawaran maupun penjajakan dari para konsumen. Hasil dari promo lewat dunia maya, produk hasil karyanya itu mulai di kenal, bahkan sudah ada konsumen dari Belanda dan Prancis yang membelinya. Agar para konsumen tidak kecewa, Abah mempersiapkan stok sebanyak mungkin.

Selain itu, dia juga mengantisipasi ketersediaan bahan baku yakni kayu pohon nangka yang mulai langka dengan mencarinya ke berbagai tempat. Saya sering memesan jika ada warga yang menebang pohon nangka agar diberi tahu, biar kayunya dibeli dengan harga per potong (satu meter) Rp50 ribu sampai ke rumah, ujar pria yang pernah meraih penghargaan Adikarya 2008 dari Gubri HM Rusli Zainal SE MP itu.

Diawali dengan Coba-coba
Menekuni pekerjaan sebagai pengrajin gambus diawali Abah sejak 2002 silam. Berawal dari coba-coba. Dia bertekat untuk menghilangkan mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, terutama orang tua-tua dalam membuat dan memainkan gambus. Saat itu, rekan-rekan sejawatnya telah bisa memainkan. Sedang dirinya, jangankan bermain gambus, menyanyi saja tidak sempurna. Apalagi ada anggapan bagi orang yang padai bermain gambus, pasti bisa beryanyi merdu.

Abah menuturkan, dulu jika hendak membuat dan memainkan gambus tak semudah seperti saat ini. Orang tua-tua dulu belajar membuat dan memainkannya, terlebih dahulu harus mengikuti ritual-ritual seperti; pergi ke hutan, bertelanjang ria menggambil kayu dan lainnya. Tujuannya agar suara menjadi lebih terasah dan merdu. Untuk metik gambus harus berwudhu dan dilanjutkan dengan salat. Tidak hanya itu, gambus tak boleh di langkahi, agar ketika orang berniat jahat mengguna-gunai tidak mempan.

Hal-hal seperti inilah yang tidak bisa saya menerima. Ritual-ritual itu pula yang menyebabkan alat musik Melayu  satu ini tak dapat berkembang baik. Anak-anak muda jadi enggan menekuninya sebab ritualnya begitu banyak serta berat, ujar dia.

Kondisi seperti itu pula yang melahirkan gejolak dalam dirinya untuk belajar membuat, walau belajar hanya secara otodidiak dan bimbingan orang tua yang dianggap sebagai gurunya, almarhum Tengku Zakaria di kampung Benayah. Pelan namun pasti, Abah mulai mencari kayu nangka dan mencontoh gambus yang ada dan hasilnya dibawa kepada sang guru. Bukannya mendapatkan pujian, karyanya itu justru dikritik habis-habisan. Sang guru tetap meminta agar dirinya melakukan ritual terlebih dahulu agar hasilnya lebih bagus. Kritikan dan usulan ritual yang diusulkan gurunya tak Abah berpaling apalagi sampai patah arang. Justru guru keterampilan SMPN 2 Sungaiapit itu terus menekuni sampai menghasilkan alat musik gambus yang sempurna. Saat dimainkan, gambus hasil buatannya justru diakui banyak musisi bagus dan laris manis di pasaran dengan kualitas suara yang tak kalah dengan gambus buatan pengrajin lainnya.

Secara rinci dan meyakinkan, lelaki kelahiran Teluk Belitung, kabupaten Kepulauan Meranti itu tak mengetahui secara pasti mengapa  gambusnya menghasilkan suara yang berkualitas. Pasalnya, dia membuatnya secara naluri tanpa standar baku untuk ukuran sebuah gambus. Namun, dia mengiyaratkan, semua kayu alam bisa dibuat gambus, namun dari semua kayu itu yang baik adalah kayu yang berasal dari pohon nangka. Menurut orang tua-tua kayu ini dapat menghasilkan suara bagus, dan serat kayunya mudah di bentuk serta tak mudah patah.

Gambus Melayu Riau  
 
Menurut berbagai sumber, gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu. Gambus Melayu Riau merupakan adopsi dari Gambus Al Ud yang semula berfungsi sebagai sarana hiburan lebih religius yang dimainkan individu di rumah atau sebagai hiburan bagi nelayan di atas perahu. Perubahan fungsi telah menggeser lagu yang bernuansa Islami menjadi lagu-lagu yang lebih sekuler.

Gambus merupakan salah satu musik yang telah berusia ratusan tahun dan sampai kini masih tetap populer. Gambus berkembang sejak abad ke-19, bersama dengan kedatangan para imigran Arab dari Hadramaut (Republik Yaman) ke nusantara. Gambus dijadikan sarana untuk menyiarkan agam Islam, dengan menggunakan syair-syair kasidah. Gambus mengajak masyarakat mendekatkan diri pada Allah dan mengikuti teladan Rasul-Nya. Gambus adalah alat musik petik seperti mandolin.

Di masyarakat Melayu Riau, lazimnya gambus dimainkan untuk mengiringi tarian zapin dalam berbagai acara  adat dan kegiatan kesenian. Dalam mengiringi tarian zapin, gambus dibunyikan serta dikombinasikan penggunakaanya dengan alat musik lain seperti kompang, marwas, bebano, cedul, gendang.(fed)
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us