Mereka (Masih) Terpencil

9 Desember 2012 - 08.01 WIB > Dibaca 9508 kali | Komentar
 
Mereka (Masih) Terpencil
PERNAH menonton film "The Gods Must Be Crazy" yang dirilis sekitar tahun 1980-an? Tentu ingat dengan tokoh Xixo, seorang dari suku Bushmen yang menjadi daya tarik utama dalam film tersebut. Aksi Xixo dan dua anaknya yang lugu, natural dan apa adanya itu mengundang tawa, namun terkadang membuat kita menitikkan air mata saat menampilkan sisi humanisnya.

Xixo merupakan tokoh suku Bushmen yang diperankan oleh Nixau yang memang seorang Bushmen. Bahkan Nixau memerankan beberapa sekuel film berikutnya seperti "The Gods Must Be Crazy 2", "Crazy Safari", "Crazy Hong Kong" dan "The Gods Must Be Funny in China".

Suku Bushmen merupakan suku bangsa asli Afrika yang keberadaannya menyebar di beberapa negara antara lain Botswana, Afrika Selatan, Zimbabwe, Lesotho, Mozambique, Swaziland, Namibia dan Angola. Hidup di tengah padang semak (Gurun Kalahari), suku Bushmen bertahan dengan berburu dan berkelompok. Mereka juga botani sejati. Kewaspadaannya menakjubkan, staminanya sungguh luar biasa serta punya tradisi kuat untuk berbagi milik dengan sesamanya. Ini menjadi modal untuk bertahan hidup di Gurun Kalahari tersebut.

Namun, berdasarkan salah satu edisi National Geographic Channel yang berjudul ‘’Search for The Bushmen’’, sekarang di Namibia suku Bushmen tidak ‘’sebebas’’ dulu lagi. Mereka dibuatkan perkampungan dengan rumah semi permanen. Mereka dilarang oleh pemerintah setempat berburu. Mereka meninggalkan rumah di Gurun Kalahari.

Jadilah, pelajaran berburu dengan tombak untuk anak-anak yang biasanya dipraktikkan langsung dengan binatang, kini dilakukan dengan menjadikan sebuah sasaran dari plastik atau kaleng di depan rumah. Selain itu, tradisi mereka seperti tarian mistik tinggal untuk pagelaran budaya untuk kaum elit saja. Mereka bergantung dengan jatah hidup yang diberikan pemerintah. Itu pun terkadang tak rutin.

Populasinya pun jauh menurun. Sekarang, hampir sebagian besar dari 55.000 populasi suku Bushmen hidup di Botswana, sebuah negara kering di utara Afrika Selatan. Kekhawatiran punahnya suku tersebut, termasuk budaya dan bahasa mereka, yang menjadi kekhawatiran dalam pandangan National Geographic tersebut.

Indonesia juga memiliki suku asli dan beragam bahasa dan budaya. Sebagian juga ada yang hilang tergerus zaman maupun kebijakan yang kurang memperhatikan kearifan lokal.

Di Riau sendiri ada beberapa suku asli. Sebut Suku Bonai, Sakai, Talang Mamak, Suku Laut (Duanu), Suku Akit dan Petalangan. Berbagai program pemerintah pun telah diberikan untuk mengangkat harkat mereka sebagai manusia. Sebut saja pembangunan program Rumah Layak Huni (RLH) untuk Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan lainnya.

Namun, kebijakan program yang berlaku umum (dari pusat) itu terkadang mengenyampingkan keinginan masyarakat suku asli dan kearifan lokal yang mereka miliki. Entah itu kurangnya informasi atau memang belum banyak yang meneliti tentang mereka.
Tak salah belajar ke Suku Mentawai di Sumatera Barat misalnya. Kini warga asli Mentawai sudah menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Bahkan bupati di kabupaten kepulauan itu pun orang Mentawai asli.

Yang pasti, sudah tidak terhitung skripsi, tesis dan karya ilmiah yang meneliti kehidupan masyarakat Mentawai dari berbagai sisi. Hasil para peneliti itupun dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan pemerintah bagi daerah tersebut.

Bahkan ada seorang dosen wanita Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas yang tunak meneliti orang Mentawai diangkat oleh Sikerei (pemimpin seluruh upacara adat termasuk dalam pengobatan) sebagai anak mereka. Ia pun mendapat semacam paspor khusus untuk masuk ke masyarakat asli, kapan saja.

‘’Jangan dipaksa mereka bertani dan beternak sapi, mereka lebih memilih berkebun pisang dan beternak babi”. Itu ucapan seorang dosen peneliti lainnya, bagaimana pentingnya memahami kearifan lokal masyarakat asli tersebut.

Intinya, berikan apa yang mereka inginkan, jangan diberikan apa yang pemerintah mau. Untuk bisa ke situ, tentu perlu kajian mendalam. Di sinilah peran pakar dari berbagai disiplin ilmu baik antropologi, sejarah dan disiplin ilmu sosial budaya lainnya untuk memahami sosial budaya dan kearifan lokal masyarakat suku asli sebelum menentukan kebijakan.

Apalagi saat ini, Provinsi Riau sudah mempunyai Peraturan Daerah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR), sehingga program pemerintah dan perusahaan untuk masyarakat sekitar bisa disinergikan. Namun tentu dengan perhatian khusus dan kajian secara seksama sehingga tidak terkesan hanya proyek atau pelepasan tanggung jawab saja.

Ke depan, bukan satu berita yang luar biasa lagi ada anak Talang Mamak atau Sakai yang bisa sekolah tinggi hingga S1, S2 atau S3. Karena, mereka juga berhak untuk sampai ke situ seperti masyarakat lainnya. Bila saat ini sudah ada dan menjadi luar biasa, lebih karena kemauan individu dan dorongan keluarga untuk mengangkat harkat dan martabat sebagai manusia dari keterpencilan.

Seorang kawan yang hobi meliput kehidupan suku asli di Riau pernah berkata, “Di Riau perlu perhatian khusus. Kasus Mentawai dan Dayak sudah bagus. Bahkan orangnya sudah memimpin diri sendiri di pemerintahannya”.

Karena, mereka sama dengan kita.***


Firman Agus

Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us