Memberi

Minggu, 02 Okt 2011 - 10:41 WIB > Dibaca 3925 kali | Komentar

“Memberi, tak kan membuat kita jadi miskin,” ujar Anna Frank, seorang gadis kecil yang  menjadi korban Nazi Jerman sekaligus inspirasi tulisan Franz Kafka.

Di Asia di abad ke-21 ini ada sosok gadis yang bawaan alamiahnya suka membantu orang dan makhluk lain. Sesungguhnya dia adalah perpanjangan ‘tangan’ Tuhan yang menyampaikan rahim-Nya ke segenap makhluk serata buana.

Sitiporn, seorang gadis di Po Phra perbatasan Myanmar-Thai yang mengabdi kepada anak-anak pengungsi Myanmar; suku Karen yang terpelanting dari tanah bundanya.

Dia menjadi guru tunggal bagi anak-anak segala usia. Mengajar menulis, merawat mereka yang sakit dan calar, membalur bisul yang pecah, mengajar cara bertani,  menjemput anak-anak yang berpencar itu dari rumah ke rumah dengan mobil rongsokan.

Dia bermimpi ingin melanjutkan studi ke Amerika. Tetapi, dia khawatir atas keselamatan anak-anak pengungsi di sempadan. Dia mengantar pelajaran dengan enjoy dan penuh senyum.

Pagi-pagi melatih senam di sebuah laman sekolah yang koyak tapi rimbun oleh dedaunan merekah. Ihwal ini berlangsung sepanjang tahun dan bertahun-tahun.

Di belakang sekolah mereka suara senapang dan meriam menyalak, hanya dipisahkan  helai-helai daun antara dunia beradab dengan kenyataan biadab.

Apa yang sesungguhnya mendorong Sitiporn bertindak laku begitu ramah, ikhlas terhadap anak-anak ledah pengungsi yang tak pernah bersikat gigi itu? Ya, sekali lagi mankind (kemanusiaan).

Bahwa di atas segala kepentingan yang diukir manusia, entah itu bernama puak, perkauman, suku, bangsa, agama dan kepercayaan, yang mengatasi semua itu adalah kemanusiaan. Anak-anak pengungsi yang terpelanting itu memikul “kemanusiaan” dan dia mesti dimuliakan oleh manusia pula. Bagaimana memuliakannya? Ya, dengan memberi, bukan meminta atau menerima.

 Di negeri tikus, tiada yang memberi. Malah sebaliknya mereka membesarkan peluang untuk meminta dan menerima. Sehari-hari mereka menerima atas susah payah orang-orang yang melarat, karena penguasa identik dengan meminta. Di negeri tikus, kisah memberi, sebuah kenyataan khayali tanpa embun.

 Terhadap mereka yang senantiasa memberi, sesungguhnya sumbernya senantiasa diisi dan berisi, tiada pernah kering atau timpas. Memberi itu sesungguhnya menerima.

Kita memberi sesuatu kepada si kecil, sejatinya untuk diri kita juga. Dengan memberi sesuatu kepada sibuah hati, kita sesungguhnya menerima sesuatu dari sang anak, berupa: senyuman, kepuasan dan sanjungan atau pujian.

Dan kita menemukan makna sejati hakikat seorang ayah atas pengakuan ikhlas seorang anak kecil yang bahagia. Antara memberi dan menerima, tiada jarak.

Dengan memberi, kita menerima tiada sudah. Inilah salah satu cara merawat keriangan dengan menghadirkan perjumpaan-perjumpaan baru, yang dibingkai dalam peristiwa memberi dan menerima.

Di sebuah petang meranum, Stephen Hawking seorang fisikawan yang disegani abad ini diwawancarai mengenai masa depan dunia. Ini sedutannya:

In looking at the universe, what is your view on the issues of the earth like poverty, disease, war, hunger, etc?

Stephen Hawking: I’m not worried about the future of the universe. The universe will continue whatever happens. But the future of the human race, and of life on Earth, is much less certain. We are in danger of destroying ourselves by our greed and stupidity. The Jakarta Post, page 28, Friday, March 5, 2010. Diwawancara oleh Wong Chun Wai, The Star/ANN/ Cambridge.

Kita berada dalam bahaya pemusnahan diri sendiri, oleh sebuah kebodohan atau ketololan yang dibangun manusia setiap detik. Inilah kuasa penghancur bertabiat laten yang ada dalam diri manusia.

Sebab manusialah pemusnah yang paling dahsyat. Manusia berkumpul, lalu membuat organisasi kemudian organisasi ini disebut negara. Negara, dihajatkan untuk mengurus kemanusiaan, malah berputar angin menjadi organisasi pemusnah kemanusiaan.

Karena negara yang dibangun dan diciptakan bertabiat sebagai peminta dan penerima sesuatu apakah itu upeti atau pajak yang tak dipertanggung jawabkan kepada rakyat banyak.

Negara memberi peluang, sedangkan individu yang berkuasa, membesarkan keinginan. Antara peluang dan keinginan inilah tersedia kesempatan orang untuk mencuri, meminta dan menerima bahkan merampok.

Inilah kiamat yang disebabkan oleh kebodohan manusia menurut Hawking yang menjadi penyebab musnahnya ras manusia di permukaan bumi.

Degradasi lingkungan juga disebabkan oleh kebudayaan kapitalis yang bernafsu membuncahkan ekonomi pasar senantiasa bergemuruh setiap detik. Walhasil anak-anak yang lahir di abad ini adalah anak-anak yang dibesarkan oleh hirupan oksigen yang rendah kualitasnya.

Manusia tak pernah memberi kepada alam. Memberi dianggap perilaku dhaif, masuk dalam tabiat rendahan, dianggap sebagai perilaku kampungan dan tradisional. Manusia modern, harus menerima, meminta. Dan inilah yang diteruskan dan diluruskan oleh para pejabat atau para penegak hukum di negeri tikus.

Pemimpin di negeri ini tak terbiasa memberi sesuatu yang terbaik kepada lingkungannya. Juga tak dibiasakan mempersembahkan karya terbaik sebagai suntingan zaman kepada generasi manusia ke depan.

Kita hanya berbuat untuk dipandang dalam ukuran lima tahun, bukan seratus tahun. Di Riau, hampir tiada karya-karya monumental yang dipersembahkan oleh pemerintahnya untuk jangkauan seratus tahun.

Sitiporn, melukis generasi manusia bertingkat dan berjenang. Dia mengurus dan mendidik anak-anak pengungsi ledah yang jiwa dan hatinya tersadai.

Sitiporn pula yang menyediakan haribaan kasihnya bagi anak-anak yang berjiwa calar ini untuk menangkap dan menatap masa depan. Sitiporn telah mengukir alkisah untuk jangkauan seratus tahun ke depan. Anak-anak ini akan tumbuh besar dan berketurunan kelak.

Keturunan pangkal yang mendapat pangkuan ranum Sitiporn ini akan memangku kemanusiaan berikutnya dalam juluran satu abad; demi memikul tugas-tugas mencerahkan dunia beradab.

Maka berkisahlah Anna Frank, Sitiporn, Bunda Theresa, Siti Fatimah yang senantiasa memberi tanpa pernah menerima apalagi meminta. Maka berbahagialah seorang suami yang memperolah isteri yang senantiasa memberi dan memberi. Memberi itu adalah merawat.

Dan merawat itu sebuah kesinambungan demi kesinambungan kemanusiaan yang dilempar Tuhan dalam pertaruhan bebas di lautan maha luas. Kemanusiaan itu adalah mustika, dia berdimensi ruhani.

Jasad yang kita gunakan untuk bergerak dan bersua muka dengan jasad lainnya, digerakkan oleh ruhani itu dalam sebuah pencaharian “mustika” yang berada di celah ketiak kita masing-masing.

Semakin jauh berlari mengejar mustika itu, kian kencang mustika itu menggelantungan, karena terancam jatuh dan tercampak. Kita belajar memberi kepada zaman, kepada buana, kepada sekitar, jika kita hendak diperhitungkan kembali oleh zaman kelak. Sitiporn, sosok dhaif yang senantiasa memberi!***
KOMENTAR
BERITA POPULER
Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

Alamak... Istri Ketahuan Selingkuh dengan Brondong Penghuni Kos

24 Feb 2018 - 00:02 WIB | 509 Klik
Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

Joko Widodo Sebut Siapa Nama yang Akan Dampingi Maju sebagai Capres

24 Feb 2018 - 00:09 WIB | 415 Klik

Proyek Tol Dievaluasi

24 Feb 2018 - 09:24 WIB | 63 Klik
Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

Ribuan Ikan Mengapung di Sungai Kerumutan

24 Feb 2018 - 09:02 WIB | 59 Klik

APBD Rohul 2018 Dibatalkan Masyarakat Diminta Tenang

24 Feb 2018 - 09:28 WIB | 36 Klik

Follow Us