Jangan Takut (Allah Bersama Kita)

14 Oktober 2012 - 08.28 WIB > Dibaca 7049 kali | Komentar
 
Jangan Takut (Allah Bersama Kita)
‘’Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Surah Ali Imran Ayat 139).

Makna surat Alquran ini sangat dalam, apa lagi ketika kita menghadapi cobaan, seakan-akan ayat ini memberikan dorongan untuk berani menghadapi segala tantangan dalam hidup ini.

Ujian dalam kehidupan ini beragam, ada yang sederhana dan ada yang sangat berat, seakan-akan kita tidak mampu menghadapinya. Padahal Allah menjelaskan bahwa ujian yang diberikan Allah kepada kita sesuai dengan kemampuan kita. ‘’Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya’’.

Rasa frustasi pun sering muncul, tanpa kita sadari bahwa frustasi itu adalah bagian dari upaya setan memperdaya diri kita. Hati jadi gamang, lemah, takut dan galau. Padahal obatnya sederhana yakni zikir. ‘’Dengan berzikir (mengingat Allah) hati jadi tenang’’.
Zikir bukan berarti duduk diam saja, makna zikir sangat luas, bahkan burung yang sedang terbang pun bertasbih kepada Allah. Bekerja dengan mengingat Allah adalah bagian dari zikir.

Memang pada dasarnya zikir berarti menyebut dan mengingat. Namun dalam keseharian, zikir hanya dilafazkan (disebutkan), tidak dalam pengertian mengingat yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Zikir yang membedakan seseorang hidup atau mati. Tentu, maksud hidup dan mati di sini pada sisi hati dan batin. Tidak sedikit, manusia yang dilahirkan sempurna, karena kehampaan hati, hidupnya pun sia-sia (tak berguna). Tangan yang kuat tidak dimanfaatkan untuk bekerja, kaki yang kokoh tidak dimanfaatkan untuk berjalan. Maka jangan heran, tidak sedikit manusia bentuk fisiknya sempurna, tetapi seperti mati.

Namun sebaliknya, tidak sedikit manusia yang fisiknya tidak sempurna, tetapi mampu berbuat banyak di luar kemampuan keterbatasannya, inilah manusia mampu menyukuri nikmat Allah. Padahal jelas-jelas dijanjikan Allah, bila kamu bersyukur niscaya Allah akan menambahkan nikmat itu, jika tidak bersyukur maka yang datang azab.

Melihat para atlet Pekan Paralympik Nasional (Peparnas) XIV 2012 yang bertanding, hati kita pun mengingatkan akan diri kita sendiri. Kita malu dengan mereka yang berhasil meraih medali emas pada ajang olaharaga ini. Sementara kita yang sehat tidak mampu berkarya.

Di hadapan Allah, kemuliaan seseorang tidak dilihat dari bentuk fisiknya, tetapi hatinya. Keterbatasan fisik bukan berarti hina dan dimanfaatkan untuk mengemis. Keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya (beribadah).

Manusia yang mulia di sisi Allah adalah yang bertaqwa. Manusia yang berbuat amal saleh, bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bukan duduk diam. Semakin banyak amal salehnya, maka semakin mulia seseorang di hadapan Allah.

Berprestasi dalam Peparnas ini juga bagian dari amal saleh, yakni bermanfaat diri sendiri, bagi keluarga, bagi provinsi dan orang banyak. Allah membenci orang-orang yang meminta-minta (tangah di bawah), walau seseorang itu cacat fisik. La tahzan (jangan bimbang dan takut Allah bersama kita), mari berkarya.***

Jarir Amrun
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us