Jangan Takut (Allah Bersama Kita)

14 Oktober 2012 - 08.28 WIB > Dibaca 7533 kali | Komentar
 
Jangan Takut (Allah Bersama Kita)
‘’Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Surah Ali Imran Ayat 139).

Makna surat Alquran ini sangat dalam, apa lagi ketika kita menghadapi cobaan, seakan-akan ayat ini memberikan dorongan untuk berani menghadapi segala tantangan dalam hidup ini.

Ujian dalam kehidupan ini beragam, ada yang sederhana dan ada yang sangat berat, seakan-akan kita tidak mampu menghadapinya. Padahal Allah menjelaskan bahwa ujian yang diberikan Allah kepada kita sesuai dengan kemampuan kita. ‘’Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya’’.

Rasa frustasi pun sering muncul, tanpa kita sadari bahwa frustasi itu adalah bagian dari upaya setan memperdaya diri kita. Hati jadi gamang, lemah, takut dan galau. Padahal obatnya sederhana yakni zikir. ‘’Dengan berzikir (mengingat Allah) hati jadi tenang’’.
Zikir bukan berarti duduk diam saja, makna zikir sangat luas, bahkan burung yang sedang terbang pun bertasbih kepada Allah. Bekerja dengan mengingat Allah adalah bagian dari zikir.

Memang pada dasarnya zikir berarti menyebut dan mengingat. Namun dalam keseharian, zikir hanya dilafazkan (disebutkan), tidak dalam pengertian mengingat yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Zikir yang membedakan seseorang hidup atau mati. Tentu, maksud hidup dan mati di sini pada sisi hati dan batin. Tidak sedikit, manusia yang dilahirkan sempurna, karena kehampaan hati, hidupnya pun sia-sia (tak berguna). Tangan yang kuat tidak dimanfaatkan untuk bekerja, kaki yang kokoh tidak dimanfaatkan untuk berjalan. Maka jangan heran, tidak sedikit manusia bentuk fisiknya sempurna, tetapi seperti mati.

Namun sebaliknya, tidak sedikit manusia yang fisiknya tidak sempurna, tetapi mampu berbuat banyak di luar kemampuan keterbatasannya, inilah manusia mampu menyukuri nikmat Allah. Padahal jelas-jelas dijanjikan Allah, bila kamu bersyukur niscaya Allah akan menambahkan nikmat itu, jika tidak bersyukur maka yang datang azab.

Melihat para atlet Pekan Paralympik Nasional (Peparnas) XIV 2012 yang bertanding, hati kita pun mengingatkan akan diri kita sendiri. Kita malu dengan mereka yang berhasil meraih medali emas pada ajang olaharaga ini. Sementara kita yang sehat tidak mampu berkarya.

Di hadapan Allah, kemuliaan seseorang tidak dilihat dari bentuk fisiknya, tetapi hatinya. Keterbatasan fisik bukan berarti hina dan dimanfaatkan untuk mengemis. Keterbatasan fisik bukan halangan untuk berkarya (beribadah).

Manusia yang mulia di sisi Allah adalah yang bertaqwa. Manusia yang berbuat amal saleh, bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bukan duduk diam. Semakin banyak amal salehnya, maka semakin mulia seseorang di hadapan Allah.

Berprestasi dalam Peparnas ini juga bagian dari amal saleh, yakni bermanfaat diri sendiri, bagi keluarga, bagi provinsi dan orang banyak. Allah membenci orang-orang yang meminta-minta (tangah di bawah), walau seseorang itu cacat fisik. La tahzan (jangan bimbang dan takut Allah bersama kita), mari berkarya.***

Jarir Amrun
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 21 Januari 2019 - 21:06 wib

Jalin Silaturahmi Antar RT RW Melalui Pengajian Rutin

Senin, 21 Januari 2019 - 16:45 wib

Harga Cabai Merah Turun, Terong Naik

Senin, 21 Januari 2019 - 16:31 wib

Pengusutan SPPD Fiktif Dewan, Tunggu Gelar Perkara

Senin, 21 Januari 2019 - 16:15 wib

Bawaslu Kampar Teruskan Laporan Pidana Pemilu

Senin, 21 Januari 2019 - 15:37 wib

Transformasi Hilangkan Bobot 57 Kg

Senin, 21 Januari 2019 - 15:35 wib

Setiap Zaman Akan Menemukan Pemimpinnya

Senin, 21 Januari 2019 - 15:25 wib

Harga Beras Lokal Naik Lagi

Senin, 21 Januari 2019 - 15:15 wib

Meranti Ditawarkan Jadi Kota Jaringan Gas

Follow Us