Fiksi Gerr Nazaruddin

Senin, 11 Jul 2011 - 05:33 WIB > Dibaca 2396 kali | Komentar

MUHAMMAD Nazarudin tiba-tiba dimusuhi dan dihujat. Nyaris tidak ada lagi teman separtainya yang berempati, apalagi membelanya. Dia telah menjadi musuh bersama Partai Demokrat. Padahal, sebelumnya masih terdengar nada-nada bersahabat, bahwa dia sedang berobat ke Singapura dan akan pulang setelah sembuh, setidaknya menurut beberapa tokoh Demokrat yang sebelumnya mengunjungi Nazarudddin ke Singapura.

Arus balik berputar 180 derajat setelah mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat itu melemparkan isu bahwa beberapa orang tokoh Demokrat menerima duit proyek yang menyangkut Wisma Atlet Sea Games. Geger. Diawali dengan berbagai bantahan, kemudian arus balik pun terjadi. Logikanya, babak berikutnya, Nazaruddin akan nekad pulang ke Indonesia, menyerahkan diri kepada KPK dan membeberkan bukti dan fakta bahwa apa yang dilontarkannya di Singapura bukanlah pepesan kosong. Tapi bukti nyata. Artinya, daripada sendirian menangung tuduhan korupsi dalam kasus Wisma Atlet Sea Games, sekalian saja orang-orang terlibat ikut berlumuran dengan tuduhan menerima suap alias korupsi.

Anehnya, logika itulah yang tidak terjadi. Bahkan, Nazarudddin, menurut Kementerian Luar Negeri Australia, justru sudah tak berada lagi di Singapura. Rumor mengatakan ia pernah terlihat di Malaysia dan Vietnam. Ada yang menyebut di Filipina dan Pakistan.

Mengapa Nazaruddin tak berani pulang ke Indonesia? Apakah nyanyiannya selama ini omong-kosong belaka? Artinya, nasib buruk akan menderanya. Selain memikul nasib sendiri, dia juga pasti akan didepak dari Partai Demokrat, termasuk sebagai anggota DPR RI.

Namun semua itu masih rentetan pertanyaan yang belum terbukti. Padahal, pertanyaan lain bisa muncul. Benarkah ia kabur dari Singapura? Atau tidak mungkinkah dia diculik oleh sejenis detektif ala James Bond 007 dari dunia fiksi agar eksistensi dan cerita tentang Nazaruddin lenyap ditelan bumi? Who knows! Apalagi sejak awal kisah Nazaruddin memang mirip fiksi. Meskipun pendatang baru, tiba-tiba saja ia masuk ke jajaran pengurus DPP Partai Demokrat. Sebelumnya dia pernah mencoba berkiprah di PPP, tapi karena gagal terpilih sebagai anggota DPR, lalu bak kutu loncat melompat ke Demokrat dalam usia muda, 32 tahun.

Saya teringat naskah dan lakon drama Gerr karya Putu Wijaya, yang semoga tak mirip Nazaruddin. Tokoh ceritanya, Bima tiba-tiba mati. Seluruh keluarganya berkabung. Ayah, ibu, isteri, anak, saudara, tetangga, teman dan tamu menangis. Semuanya tak sudi jika Bima harus dikuburkan. Tapi bagaimana lagi, orang mati, ya, harus dikuburkan. Persiapan penguburan pun dimulai.

Saat menonton lakon ini di Jakarta pada 1996 silam di Gedung Kesenian Jakarta, saya ingat seorang nenek tua tampil meratap berkepanjangan. Dia berkeluh-kesah kepada Tuhan, mengapa Bima yang baik hati dicabut nyawanya.

Barangkali salah panggil ya, pekik si nenek. Soalnya, satu gerombolan di sini sampai copot matanya karena menangis, kata si nenek. Eh, tiba-tiba terjadi kejutan. Jasad almarhum Bima menggeliat. Bima yang tersentak dari tidur tercengang. Mendadak sontak kedua penggali kubur memeluk peti. Bima mengetuk-ngetuk dari dalam peti. Dia tolakkan tutup peti dan dia pun tegak berdiri.

Orang-orang masih tidak percaya bahwa Bima telah hidup lagi. Mereka menyangka bahwa itu bukanlah Bima melainkan roh jahat yang masuk ke dalam tubuh Bima. Bahkan anak dan isteri Bima tak percaya yang mereka cintai hidup lagi. Bima jengkel tak kepalang karena ada sahabatnya, Koko, yang ternyata mencintai bininya. Bima merasa dikhianati.

Bima makin kaget karena ternyata seluruh hartanya telah dibagi habis oleh anak-isteri dan sanak saudaranya. Bima telah sadar bahwa orang-orang terdekatnya tidak sepenuh hati mencintai Bima. Mereka hanya pura-pura saja.

Namanya karya fiksi, entah dari mana datangnya sejumlah mumi muncul mendekati peti mati Bima. Para penggali kubur berniat menggantikan Bima dengan si mumi ke dalam peti mati. Dan sukses. Bagaimana dengan Bima? Penggali kubur menyarankannya mengganti nama saja. Dari pada dimusuhi orang sekampung. Baju juga harus diganti. Seluruh identitas Bima harus diubah total.   

Meskipun saya sangat dipengaruhi lakon Gerr dari Putu Wijaya itu, tapi saya tetap berharap Nazaruddin, cepat atau lambat berhasil ditangkap penegak hukum. Tak enak melihat kisah nyata bagaikan fiksi, walau memang banyak peristiwa nyata di negeri ini yang lebih fiksi dari fiksi. Saya khawatir teman-teman penulis fiksi akan mendapat kompetitor yang ulung yang datang dari jagat politik Indonesia. Syahdan, para pelawak sudah harap-harap cemas karena sedemikian banyaknya yang lucu di panggung politik negeri ini.

Masih susah membayangkan akhir perjalanan Nazaruddin. Syarat paling utama, saya kira ending-nya harus logis. Jika tidak, publik bisa ribut lagi. Sayang, kisah Nazaruddin berada di wilayah realitas. Jika di dunia fiksi, kita bisa minta tolong Mas Putu untuk mencarikan ending yang bagus. Tabik!***


Bersihar Lubis,
Wartawan Senior Tinggal di Medan.
KOMENTAR
BERITA TERBARU

Perbaikan Jalan Ditimbun Kerikil

21 Februari 2018 - 10:10 WIB

Retail Sales Daihatsu Tembus 15.896 Unit

21 Februari 2018 - 10:08 WIB
Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

Baru Enam OPD Sampaikan Laporan Keuangan Ditenggat Akhir Februari

21 Februari 2018 - 10:05 WIB

Outdoor Class, SD Cendana Duri Belajar ke Riau Pos

21 Februari 2018 - 10:00 WIB
Buat Surat Pengganti KTP-El

Buat Surat Pengganti KTP-El

21 Februari 2018 - 09:55 WIB

Biaya Operasional Tak Tertutupi

21 Februari 2018 - 09:50 WIB
Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan  dan Pedagang Kurang Mampu

Bupati Apresiasi Program YBM BRI Peduli Pendidikan dan Pedagang Kurang Mampu

21 Februari 2018 - 09:47 WIB

Dua Pelaku Curanmor Pasrah Digiring

21 Februari 2018 - 09:40 WIB
BERITA POPULER
Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

Ahok Akan Sampaikan Bukti Istrinya Selingkuh

21 Feb 2018 - 02:17 WIB | 479 Klik
KFC Tutup Ratusan Restorannya

KFC Tutup Ratusan Restorannya

21 Feb 2018 - 01:16 WIB | 378 Klik
Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

Seorang Pengamat Menganalisa Jokowi Bisa Ditinggal PDI Perjuangan

21 Feb 2018 - 00:31 WIB | 373 Klik
Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

Bagi Budi Waseso, BNN Tetap di Hati

21 Feb 2018 - 00:02 WIB | 317 Klik
Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

21 Feb 2018 - 01:56 WIB | 246 Klik

Follow Us