Paku Teluh

9 September 2012 - 07.59 WIB > Dibaca 7258 kali | Komentar
 
Alam terkembang langit menangkup. Roh-roh hitam mari hampiri batu teluk berapi-api. Bangkit melintang jalar menjalar. Menangkup jiwa-jiwa yang bersekutu dengan raja kelam. Raja dari segala raja kejahatan mari bangkitkan teluh. Biar jatuh jiwa biar terbakar raga... Fuhhh!!

Datuk Alam Hitam mengambil ayam hitam lalu menyembelihnya di atas tembikar. Darah segar pun menetes. Lamat-lamat mengucur deras. Menggumpal lalu memendar seiring lepasnya nyawa. Terbang mengepak sambil memuntahkan sumpah seranah khas binatang yang menjadi kurban kegiatan teluh-meneluh. Namun, nyawa yang meneriakkan sumpah seranah itu ikut memendar dan melesatkan jutaan paku teluh ke udara. Sebuah besi berkarat kini menjadi api yang mampu terbang bak meteor. Meliuk-liuk menghindari petir dan menyibak kabut yang bergerombol. Dengan kecepatan cahaya, ditembusnya atap rumah secara gaib lalu menancap di dalam perut.
***

Ibuuuuu...!!! Suara melengking menyeruak dari dalam kamar tidur lebar. Zainal melangkah tertatih-tatih dari balik pintunya. Telapak tangannya menyentuh perut yang menggembung entah karena dipenuhi angin atau lemak-lemak jahat. Dari balik kaos tipis warna putihnya, menyembul empat benda seperti tiang-tiang kecil tepat di bagian perut. Zainal meringis. Tubuh gempalnya ringkih menuju dapur di mana sang ibu sedari pagi sibuk menyiapkan sarapan. Wanita itu memang selalu bangun lebih awal. Sehingga ketika anaknya bangun dengan lapar, perutnya segera terisi.

Ibu... Ibu... Ada paku di perutku...!! Suaranya semakin lirih mengharap iba. Ketika melintasi ruang tamu, tubuhnya rubuh. Tersandar ke dinding kayu yang hanya diwarnai dengan cat putih kapur. Mendengar suara gaduh, sang ibu tergopoh-gopoh berlari ke ruang tamu sambil menggenggam sendok goreng. Tetesan minyak yang masih panas sekali-sekali mengenai kulitnya yang berwarna sawo matang. Namun, wanita berambut lurus dengan ujung bercabang itu tak sadar. Cemas pun mengalahkan panas.

Di ruang tamu, didapatinya Zainal tersandar lemah. Tangan kiri lelaki tujuhbelas tahun itu masih memegang perut. Sementara tangan kanannya terjuntai ke lantai. Wajahnya menghiba. Mulutnya nyaris tak lagi mampu berkata. Hanya tangis mendera sekuat tenaga. Melihat kondisi itu, sang ibu memburu haru. Dirangkulnya tubuh Zainal yang mulai membiru.

Zainal... Zainal... anakku!! Panggilnya lirih. Tangisnya pecah dan menimbulkan aliran-aliran deras di pipi. Apa yang...? kalimatnya terhenti seketika. Sorot matanya menangkap sesuatu yang menonjol di perut Zainal. Dibukanya kaos tipis anak semata wayangnya itu dan petir pun menyambar-nyambar dalam sanubarinya. Otaknya tak percaya namun matanya bersikukuh meyakinkan itu nyata.

Empat batang paku tertancap di perut Zainal. Ukurannya panjang-panjang dan besar. Persis seperti paku yang dipakai untuk penyaliban yang kerap ia lihat dalam film-film televisi di bulan Desember. Di sekeliling paku itu, kulit perut Zainal membiru. Namun tak setetes darah pun yang keluar dari tubuhnya. Seolah-olah, paku itu menancap di patung kayu yang bernyawa.

Ib... ibu...! Seruan Zainal makin lemah.

Sang ibu terenyuh lalu dipeluknya tubuh Zainal sembari berbisik, Ibu di sini nak... Ini ibu nak. Air matanya yang sejuk tumpah membasahi perut dan paku-paku misterius tadi.

Apa yang terjadi padamu nak?

Aku tak tahu ibu. Ini datang sendiri waktu aku bangun tidur.

Kenapa ada paku?

Demi Tuhan aku tak tahu? Zainal menyebut nama Sang Khalik untuk melegetimasi dalihnya. Sang ibu pun terdiam. Ini seperti teluh, ucapnya membatin.

Baiknya kita ke dukun, kata Zainal.

Dukun?? Tidak... tidak... tidak boleh dengan dukun, ibunya menolak. Kita ke dokter saja.

Bagaimana mungkin ke dokter. Pakunya datang tiba-tiba bukan kusengaja, Zainal mempertahankan diri. Akal sehatnya lebih berpikir mistis daripada logis. Namun sang ibu bersikeras menolak. Baginya, berdukun sama dengan menggadaikan iman pada setan. Sekali bersekutu dengan roh jahat, selamanya bersebatin dalam dosa. Di usianya yang sudah separuh baya, ia tak mau terlalu naif menjadi pendosa.

Kita ke dokter saja, ucapnya tegas.

Bagaimana kalau harus di operasi. Uangnya darimana? Zainal mengeluarkan alasan yang membuat prinsip ibunya hampir gontai. Dia ingat, baru sehari lalu ia merelakan uang tabungan dua tahunnya dipinjam Ratna yang harus melahirkan secara caesar. Namun, dengan mengumpulkan keteguhan dalam ruang batin, alasan Zainal akhirnya berhasil ia tepis. Kita bisa pinjam, katanya.

Pinjam ke mana?

Pamanmu, Nandar, yang kepala dinas itu. Pasti dia mau membantu daripada melihat kemenakannya menderita begini. Ibu Zainal berusaha menerka-nerka harapannya ke depan. Karena mendapatkan uluran tangan dari abangnya yang kaya raya itu selama ini masih sekadar angan-angan indah yang pernah singgah dipikirannya. Namun, angan-angan itu sempat sirna dua tahun yang lalu.

Ceritanya begini. Seorang kerabat jauh-anak dari sepupu ayah paman Zainal datang mengiba ke keluarga Nandar. Mereka butuh uang sepuluh juta rupiah untuk biaya perobatan anak lelakinya yang patah tulang setelah memberikan tubuhnya secara sukarela pada mobil yang melaju kencang. Tabrakan naas pun tak terhindarkan. Anak lelakinya yang baru diputuskan pacar yang sudah punya pria idaman lain terluka parah. Tungkainya patah tebu dan harus diamputasi. Biaya amputasinya sampai puluhan juta. Sungguh angka fantastis bagi ayahnya yang hanya sehari-hari menjadi sekuriti di komplek pertokoan pinggir kota.

Harapan satu-satunya yang mereka gantung hanya pada Nandar. Karena dialah yang paling kaya dari seluruh turunan ketiga dan keempat trah Ahmad Khoir. Tanpa bantuan Nandar, mereka yakin takkan bisa memenuhi tenggat waktu pembayaran yang ditetapkan rumah sakit. Jika lewat tiga hari, maka luka anak lelaki malang itu bisa terancam tetanus dan penyakit turunannya. Sudah menjadi rahasia umum, rumah sakit di kota mereka enggan menanggulangi pasien yang potensi pembayarannya samar-samar.

Dengan harapan besar, ayah sang pria malang itupun bermohon pada Nandar. Awalnya, kedatangan mereka disambut ramah dengan sirup markisa dingin yang melenyapkan dahaga. Duka sempat terlupa. Namun, ujung pertemuan itu berwarna kecewa. Permohonan sepenuh hati mereka ditolak mentah-mentah oleh Nandar dan istrinya. Nandar tak rela, uang yang seharusnya dipakai untuk membangun kolam renang di belakang rumahnya itu dipakai untuk perobatan lelaki putus asa yang ingin bunuh diri. Alasan yang cukup menggetarkan rasa kemanusiaan manusia manapun yang punya nurani.

Tapi aku adik kandungnya. Dan Zainal kemenakannya kontan. Pasti tak ditolak. Dalam hati, wanita itu meyakinkan diri abangnya akan membantu. Rona khawatir dari wajahnya pun memendar seiring rintihan Zainal yang makin sayup-sayup lalu senyap. Anaknya itu tak sadarkan diri.

Dengan susah payah, wanita itu membopong anaknya hingga ke teras rumah. Namun, tak satupun orang yang melintas di depan rumah mereka. Padahal, biasanya komplek perumahan itu tak pernah sepi. Selalu ada saja gerombolan ibu-ibu yang sibuk bergunjing di warung depan rumah mereka. Mulai dari selingkuh istri si A, anak gadis si Z, suami si G dan gigolonya si S selalu jadi topik teratas. Sementara, suami mereka duduk santai di depan rumah sambil menunggu mahasiswi berpakaian seksi lewat.

Zainal masih tak sadarkan diri. Sang ibu membaringkannya di teras rumah. Lalu dengan langkah tergesa dicarinya Rudi, supir taksi yang saban hari mangkal di komplek perumahan itu. Konon, cukup dengan mangkal di komplek itu Rudi bisa membeli rumah tipe 36 bergaya minimalis dari uang sampingannya sebagai kurir pecun intelektual yang banyak indekos di kawasan itu. Setelah dicari-cari, Rudi dan taksi warna birunya juga tak nampak. Orang-orang di komplek itu seperti lenyap tanpa jejak.

Wanita itu kembali dengan kecewa. Butiran-butiran keringat mulai timbul dari pori-pori dahinya yang sudah berkerut seiring menuanya usia. Saat dijumpai, Zainal sudah siuman. Mulutnya meringis, menatap nanar ke arah batang-batang paku yang masih menancap kokoh di perutnya.

Kita harus jalan. Tak seorang pun yang bisa kujumpai untuk menolongmu, ungkap sang ibu. Dibantunya Zainal bangkit lalu berjalanlah mereka perlahan menuju rumah sakit. Lebih dari 254 meter jauhnya.

Di langkah yang kesekian ratus. Kurang lebih tigapuluh meter dari gerbang rumah sakit, orang-orang berwajah prihatin menahan perih di bagian perut berlomba cepat menuju ruang gawat darurat. Dengan susah payah, sang ibu memapah Zainal agar ikut dalam barisan lomba tersebut. Langit waktu itu mendung. Angin bertiup kencang menerbangkan daun-daun kering batang matoa yang ditanam di sekeliling rumah sakit. Terserak ke tanah dan aspal jalan raya. Lalu, dengan ganasnya kaki-kaki yang tengah berlomba itu menginjak dan memecahnya menjadi serpihan-serpihan.

Kenapa semua orang menjadi sakit, tanya sang ibu pada Zainal. Anaknya itu menggeleng lemah.

Semua orang melangkah pelan. Berdesak-desakan di depan pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat. Beberapa orang memanggil-manggil dokter dengan suara mengiba. Tak sedikit pula mengacung-acungkan tangan yang mengenggam setumpuk uang lembar seratusan ribuan. Berapapun kami bayar asal dibiarkan masuk duluan, teriak mereka. Namun pintu ruangan itu tetap tak terkuak.

Beberapa di antara mereka frustasi. Duduk ataupun berbaring di tengah kerumunan orang yang makin beringas itu. Entah darimana, sebongkah batu yang besarnya sekepelan tangan melayang lalu menghantam pintu ruangan yang terbuat dari kaca itu. Dan, prannkk!!! Pintu kaca pun berderai. Dua pria yang berdiri di depannya terluka tersayat serpihan kaca. Setelah termangu sebentar, keduanya melesat memasuki ruang rumah sakit. Ratusan orang berebut masuk. Tapi karena keegoisan mereka, banyak yang jatuh, terinjak-injak dan mati.

Zainal menahan langkah ibunya. Biarkan mereka duluan bu, tuturnya.

Tapi sakitmu...

Tidak apa. Lihat, mereka juga sama sepertiku. Tubuh mereka terpaku!

Wanita itu menatap dan sadar dengan apa yang dia lihat. Semua mengalami penyakit aneh seperti Zainal. Di sisi kiri, hanya sekira lima langkah dari tempat mereka berdiri, sesosok wanita bertubuh gemuk terkapar lemah. Ada tujuh paku menancap dimulutnya. Dia adalah Sarinah. Tetangga sebelah rumahnya yang terkenal sebagai gudang gosip. Ingatannya lalu melayang pada masa Sarinah menghembuskan gosip bahwa dia menjalin hubungan mesra dengan Rozak. Pria beristri tiga yang juga politisi partai berlatar agama yang mengaku paling bersih. Namun gosip itu menjadi murahan ketika dia justru tak menanggapi serius. Orang-orangpun sempat menjauhi Sarinah. Tapi tak sampai sepekan, antusiasme mereka mendengat gosip terbaru dari wanita itu kembali menggebu.

Tepat di samping Sarinah, seorang pria meringis kesakitan sambil memegang kelaminnya sendiri. Mulutnya terkatup diganjal paku. Air matanya mengalir menangisi Sarinah dan nasibnya. Zainal dan ibunya mengenal pria itu sebagai Rozak. Ya, Rozak yang menjadi bahan gosip Sarinah selama ini. Namun, ibu dan anak tersebut enggan berpikiran negatif tentang keberadaan Rozak dan Sarinah yang berdekatan waktu itu.

Setelah mengalihkan pandang dari Rozak dan Sarinah, sang ibu sadar bahwa banyak warga komplek mereka yang ada di situ. Ia melihat Rudi si supir taksi, Jasmine si pecun intelektual serta Sobari, tetangga mereka yang terkenal genit dan menjadi pelanggan setia gadis pedagang birahi.

Tepat di belakang mereka, ada Hardian, Polantas yang gemar menjadi hakim jalanan. Ia dikenal sekaligus dikutuk banyak pengendara motor yang kerap melintas di pertigaan komplek perumahan mereka. Hardian mendapat sepuluh paku. Lima di antaranya menancap di telapak tangan kanannya yang sering dipakai menerima uang damai. Yang tak kalah membuat wanita berwajah teduh itu terkejut, Nandar, abangnya yang kaya raya terbaring di samping Hardian. Tubuhnya kaku. Bibirnya terlihat membiru. Baju kemejanya yang putih kini berbercak darah. Merah basah. Nandar terlihat tak bernapas. Wanita itu ingin sekali menghampirinya. Namun, ia tak tega membuat Zainal merasa ditinggalkan.

Di dalam ruang gawat darurat, ratusan orang berpakaian putih-putih khas perawat dan dokter terkapar kaku. Gerakan dada mereka tak naik turun seperti lumrahnya manusia bernapas ketika terbaring. Ratusan orang yang terlanjur masuk menangis sejadi-jadinya melihat kondisi itu. Seolah-olah mereka tahu, ajal mulai mendekat. Benar saja, dalam hitungan menit, satu persatu pesakitan itu berjatuhan ke lantai. Ada juga yang memilih jatuh di pembaringan, di kursi roda, di gudang obat dan di atas tubuh orang yang mereka cintai. Orang-orang hidup itu kini telah menjadi mayat.

Ya Tuhan. Inikah balasan atas dosa kami? Murkakah engkau pada kami? sang ibu berseru menengadahkan kepala. Ia memohon ampun. Bukan untuknya saja. Tapi untuk semua orang yang ada di tempat itu. Namun, paku-paku masih memaku. Membiarkan mulut yang meringis, mata yang menangis dan hati yang teriris.

Kalaupun ini semua terjadi karena dosa, kenapa Kau membiarkan paku tak menghujam di tubuhku? Kalaupun ada yang harus mati, kenapa bukan aku? Tangis wanita itu semakin nyaring.

Gubrakk... Zainal lunglai dan ikut jatuh. Napasnya satu-satu. Sang ibu menangis memeluknya. Kenapa harus engkau anakku. Kenapa bukan ibu? Aku tak melihat satupun salah dalam tingkah lakumu. Tidak pernah hingga ayahmu menghembuskan napasnya di pangkuanku, ratapnya.

Dengan tenaganya yang tersisa, Zainal menarik kepala ibunya agar merapat ke bibirnya. Napas yang sepenggal-sepenggal mengiringi suara lirihnya tuk berkata, Mungkin karena datuk itu. Kami mengiranya nabi.

Siapa yang kau maksud nabi? sang ibu menatap heran.

Datuk Alam Hitam. Mereka bilang ia titisan ilahi. Nabi yang menitis dengan paku-paku. Dialah yang memberi tanda, datangnya surga diawali dengan derita. Dia berjanji menjauhkan kami dari derita itu. Asalkan... kalimat Zainal terhenti. Ibunya mendesak. Asal apa? Asal apa anakku? ujarnya.

Asal kami menggada...i...kan... jiwa. Suara Zainal terhenti. Hening merambat ke seluruh penjuru ruang. Tak terkecuali ruang hati wanita yang kini menjadi satu-satunya makhluk bernyawa di tempat itu.

Saat hati sang ibu rapuh, roh Zainal tercabut dari raga seiring lenyapnya paku-paku di perutnya. Paku teluh terlepas dari tubuh-tubuh mati di ruangan itu. Namun roh mereka tak kembali. Terkurung dalam raga baru yang lebih keras dan berujung tajam.
***

Alam terkembang langit menangkup. Roh-roh hitam mari hampiri batu teluh berapi-api. Bangkit melintang jalar menjalar. Paku teluh mengikat jiwa. Biar ramai isi neraka.***


Hendra Efivanias

Adalah penulis dan peminat sastra. Anak jati Kuala Kapas ini bermastautin di Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:30 wib

Pelamar CPNS Salah Unggah Informasi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 16:00 wib

STIE Syariah Bengkalis Wisuda 174 Lulusan

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:59 wib

Bangga Nyanyi Lagu Batak di Penutupan IMF

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:33 wib

Roro Fitria Sedih Belum Penuhi Wasiat Ibu

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:30 wib

Pelaku Judi Togel Ditangkap Polisi

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:12 wib

SMA Darma Yudha Juara 1 Lomba Fermentation di Malang

Rabu, 17 Oktober 2018 - 15:00 wib

Pilkades Serentak Digelar 12 Desember

Rabu, 17 Oktober 2018 - 14:59 wib

Suwarti Raih Mobil Grand Prize Simpedes Bank BRI Siak

Follow Us