Tajuk Rencana
d

Dunia Pendidikan Kita

9 Desember 2019 - 10.41 WIB

Dunia pendidikan kita kembali menjadi sorotan. Di tengah berbagai wacana yang berkembang, mulai soal ujian nasional (UN), kurikulum, guru dan lainnya, muncul fakta yang mengejutkan. Ini berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) di mana Indonesia masuk sebagai member sejak 2000. Hasil yang diperoleh tak kunjung membaik. 

Berdasarkan survei PISA tahun 2018 yang baru saja dirilis baru-baru ini, peringkat kualitas pendidikan Indonesia merosot tajam. Studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak.

Untuk kategori kemampuan membaca misalnya, Indonesia berada pada peringkat 6 dari bawah alias peringkat 74. Skor rata-rata Indonesia adalah 371, berada di bawah Panama yang memiliki skor rata-rata 377. Begitu pula kategori Matematika, Indonesia berada di peringkat 7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Indonesia berada di atas Arab Saudi yang memiliki skor rata-rata 373. 

Kondisi ini wajar saja membawa keprihatinan. Pengamat pendidikan Indra Charismiadji menilai, harus ada evaluasi secara menyeluruh. Baik program pemerintah dan merevisi  Undang-undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Hampir 20 tahun dengan anggaran ribuan triliun namun berhasil mendongkrak kualitas pendidikan.

Pelatihan guru, perekrutan guru, dana BOS, pembangunan unit sekolah baru dan banyak lainnya harus dievaluasi. Boleh saja Pemerintah berkilah anak Indonesia yang bersekolah sudah banyak, fasilitas, dan akses yang diperbaiki sudah meningkat, tapi faktanya hasil PISA tetap mengkhawatirkan. Akses adalah bagian dari sistem pendidikan, tapi mencerdaskan itu adalah tujuan. Saat ini belum tercapai. Hal tersebut yang harus dikoreksi.

Sambil berharap kebijakan nasional, tentu dalam batasan lokal di Riau, kita bersama sama berbuat. Potensi dan kearifan lokal yang dimiliki harus dijadikan kekuatan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik. Paling tidak menjadi terbaik di tingkat nasional dan pada akhirnya ikut memperbaiki kondisi nasional.

Tak ada gunanya saling menyalahkan. Kita akan kehabisan waktu jika masih menunggu. Elemen masyarakat harus ikut dan terpanggil untuk menciptakan suasana pendidikan yang baik untuk mendorong terciptanya kualitas yang makin baik pula.

Kepala sekolah sebagai manajerial di setiap sekolah harus jadi lokomotif, kreatif dan mampu menjalin komunikasi yang positif dengan semua pihak. Kepala sekolah harus diberikan suasana yang sejuk dalam berimprovisasi. Jangan terkungkung dan kerdil cara berpikir karena kaku dengan aturan. 

Jalin kemitraan dengan para penegak hukum, agar dalam melaksanakan tugas tidak tersandung persoalan hukum. Jalin kemitraan dengan lingkungan, agar lingkungan menciptakan iklim yang baik dalam pelaksanaan pendidikan. Mari bersama- sama terpanggil dan berbenah. Mulai dari lingkungan terdekat.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU