Opini
Dr Irvandi Gustari MBA Akademisi dan praktisi bisnisd

Ketika The Main Business Terdisrupsi

6 Desember 2019 - 09.15 WIB

Ketika The Main Business Terdisrupsi
(RIAUPOS.CO) -- Ketika "The Main Business" terdirupsi maka pada saat bersamaan "Main Income" pun mulai tergerus. Bisa dilihat ketika WhatsApp menumpang dijalur Telekomunikasi dan secara perlahan menawarkan WhatsApp Call Free melalui Voice Call maupun  Video Call-nya maka semenjak itu pulalah, sejumlah perusahaan telekomunikasi di berbagai negara mulai tergerus main income-nya atau pendapatan utamanya. Ibarat cacing pita di dalam usus, akhirnya yang berkuasa terhadap nutrisi di dalam lambung sudah terserap oleh si cacing pita. Begitulah di era disrupsi ini, awalnya numpang, lambat laun akhirnya menguasai yang pihak yang kasih tumpangan. 

Di era disrupsi ini, masih layakah para pelaku industri menjadikan  the main business-nya sebagai "main income" atau sumber pendapatan utama? Contoh kongkret pada perbankan, apakah  suatu bank bisa bertahan di zaman era sharing economy ini bila hanya mengandalkan pendapatannya dari margin (Net Interest Margin) yang merupakan selisih dari biaya bunga dana pihak ketiga  yang dibayarkan kepada nasabah terhadap pendapatan bunga yang diterima dari pihak debitur?  Ternyata dengan semakin ditekannya suku bunga perbankan, maka semakin tipislah margin yang diperoleh bank, dan sudah banyak bank untuk bertahan  sudah beralih dengan mengandalkan pendapatan dari "fee based income" yaitu pendapatan dari jasa-jasa perbankan, di antaranya fee dari mobile banking, fee dari transfer, fee dari ATM, dan sebagainya.

Kita beralih ke ban­dara, di mana-mana kita tadinya berkeyakinan bahwa pendapatan utama (main income) dari bandara adalah aero income atau income yang diperoleh dari pengelolaan pesawat mulai dari pendaratan, sampai dengan take off. Namun di alam era disrupsi yang bersaing sangat ketat, maka biaya yang dibebankan juga semakin hari semakin menurun karena persaingan tersebut, dan akhirnya beralih kepada non-aero income, yaitu pendapatan yang diperoleh dari asset fisik yang justru sebagai sarana dan prasaran dari bandara itu.

Begitu pula dengan bisnis airlines, tadinya banyak dari kita berpikir bahwa airlines seperti Garuda, Lion, SQ dan lainnya itu penentu keuntungannya adalah berasal dari  harga tiket. Betulkah begitu? Secara konvensional tentu jawabannya iya, namun di era disrupsi dengan banyak nya penerbangan dengan pola "low  cost carrier" yaitu penerbangan murah, maka “main income” dari tiket tentu tidak bisa jadi andalan lagi, dan untuk bisa bertahan harus beralih segera  dengan cara lain tentunya.

Kita memang bukan lagi semata saat ini berada pada era "connected society", namun sudah lebih jauh ke depan yaitu kita sudah berada pada era "hyperconnected society”. Coba saja kita masuk ke Google yang sering kita sebut mbah Google yang tahu segala nya di alam jagad raya ini berbagai macam informasi dan secara bersamaan kemampuan si mbah Google yang serba tahu, menamatkan "the main" dari bisnis Yellow Pages" yang dulu di era 90 sampai  tahun 2000-an sebagai sumber informasi yang berbayar.

Si Mbah Google memang secara realita telah mematahkan  "the main business" dari sumber informasi yang selama ini dengan pola "member" dan tentunya ada biaya keanggotaan seperti Encyclopedia, Britannica, Wikipedia, dan sebagainya. Tambah lagi ketika Google meluncurkan  Googlemap yang berbasiskan GPS, menjadikan perusahaan-perusahaan taksi berbasiskan argo menjadi gonjang -ganjing sebab secara transparan Googlemap bisa menghitungkan dan menginformasikan jarak tempuh yang lebih efisien dan efektif, dan hal itu jelas membuat goyang “the main business” dari taksi-taksi yang berbasiskan argo meter itu.

Info terbaru dalam dunia games juga akan menjadikan tiga perusahaan industri mainan (games) yang terkenal di dunia yang berbasiskan teknologi juga akan kehilangan "the main business"-nya seperti: Sony, Microcsoft, dan Nintendo. Google akan hadir dengan “Google Stadia". Gimana ngak mematikan tiga perusahaan yang berkuasa atas games tadi itu yang selalu menggunakan Konsol (alat untuk me-running games), dan pada Google Stadia bisa dijalankan melalui PC atau laptop biasa.

Lalu bagaimana sikap kita? Banyak pihak yang berpandangan bahwa bila ingin selamat di era disrupsi ini maka harus berpikir dengan pola " think out of the box". Tapi rasanya masih kurang inovatif ya, yang paling baik adalah dalam berpikir harus "think without a box" di era sharing economy ini.***



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU