Tajuk Rencana
d

Balada Karhutla yang Menggurita

31 Agustus 2019 - 13.47 WIB

KONDISI kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau mengisahkan cerita yang unik dan menarik. Pasalnya, penyakit menahun yang kerap menjadi momok negatif di tengah-tengah masyarakat itu kembali membayang-bayangi beberapa waktu terakhir.

Ancaman yang paling nyata adalah puncak musim kemarau yang menghadang di depan mata. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memprediksi pada September, kondisi cuaca di Provinsi Riau akan lebih kering dan menimbulkan kerawanan karhutla, khususnya di daerah rawan karhutla.

Situasi tersebut sempat menjadi pembahasan stakeholder terkait. Kondisi alam menjadi tantangan berat bagi petugas-petugas yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk membebaskan ancaman kebakaran hutan dan lahan di tanah melayu.

Bahkan, tidak sedikit Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan Satgas Karhutla merasakan derita bergelut dengan jerebu. Korban jiwa dan waktu untuk memberantas ancaman karhutla seakan tidak berbanding lurus dengan kasus karhutla yang terus berulang.

Siapa yang paling bertanggung jawab untuk karhutla yang terus meluas? Uniknya, langkah tegas yang mulai diterapkan penegak hukum seakan belum menimbulkan efek jera. Penerapan sanksi yang tegas harus diimplementasikan bukan hanya isapan jempol belaka.

Kekhawatiran akan puncak musim kemarau ini bahkan sudah menjadi perhatian nasional. Musim kemarau yang panjang di bulan September dapat berimbas pada cuaca yang lebih kering. Situasi ini disebabkan karena Riau termasuk tipe iklimnya equatorial, yang mana saat musim kemarau pun masih bisa berpeluang terjadi hujan.

Kekhawatiran memuncak ketika arah angin diprediksi mengarah ke negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Jika hal tersebut berulang kembali, Riau akan disorot kembali di kancah internasional. Ironisnya bukan dengan prestasi, melainkan dengan kegagalan dalam mengeliminir karhutla, sehingga menyebabkan ekspor asap ke negara tetangga.

Langkah antisipasi dan penanganan yang terus dilakukan secara simultan sudah memberikan imbas positif. Meskipun belum berdampak signifikan dalam menuntaskan karhutla secara menyeluruh, langkah proaktif tersebur tetap perlu diapresiasi dan disuport oleh berbagai elemen masyarakat.

Hingga saat ini, angka karhutla di beberapa daerah di Riau masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan segera dan secara simultan dan berkelanjutan. Dari hasil inventarisir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  luas lahan yang terbakar di sejumlah kabupaten/kota mencapai 5.709.68 hektare.

Angka yang tinggi untuk beberapa bulan terakhir. Dengan tantangan musim kemarau yang sudah menanti di depan mata, sepertinya Satgas Karhutla dan stakeholder terkait memiliki tugas yang lebih berat ke depannya. Selain pengabdian, tugas mengeliminir karhutla memiliki nilai substansi sebagai jawaban akan tanda tanya dan jawaban dari kekhawatiran masyarakat akan ancaman jerebu.  

Terlepas dari balada cerita karhutla di Riau yang mengisahkan kisah unik dan menarik tersebut, kita memiliki harapan besar untuk kembali membebaskan Riau dari ancaman kabut asap. Saatnya bahu-membahu menuntaskan karhutla dan mendukung penegakan sanksi tegas pelaku yang membuat Riau jadi daerah produksi dan pengekspor asap. Selamatkan Riau untuk masa depan anak bangsa.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook