Tajuk Rencana
d

Pertumbuhan Ekonomi dan Dampaknya

27 Agustus 2019 - 09.57 WIB

Negeri ini tidak lepas dari masalah, termasuk Riau, sebagai provinsi yang dinamis, tentunya banyak masalah yang dihadapinya. Sebagai provinsi yang sedang membangun, tentunya dampak pembangunan terasa di Bumi Lancang Kuning ini. Khususnya saat musim kemarau, kabut asap pun muncul, dampak dari pembakaran lahan dan faktor musim kemarau juga.

Perluasan lahan pertanian dan perkebunan di Riau tentunya berdampak pada lingkungan.  Belum lama ini di Brazil, terjadi kebakaran besar yang disebabkan oleh pembakaran lahan untuk perluasan lahan peternakan. Kebakaran lahan di Brazil tentunya mendapat respon dunia, sampai-sampai sejumlah kepala negara di Eropa ikut berkomentar, karena hutan amazona sebagai paru-paru terbesar di dunia. Demikianlah dampak perluasan lahan bagi suatu negeri.

Kembali ke Riau, agenda besar ke depan adalah masalah dampak pembangunan di Riau. Dampak pembangunan perkebunan misalnya, selain masalah kebakaran lahan dan hutan juga dampak ekosistem, semakin berkurangnya tanaman asli di Riau. Jika dulu masih sering terlihat perkebunan durian, sentul, kecapi, kepundung, dan tanaman-taman asli lainnya, kini tanaman itu pun berkurang. Sepanjang perjalanan menuju daerah di Riau, yang terlihat hanya perkebunan kelapa sawit.

Dampak bagi habitat di alam Riau, terlihat semakin berkurangnya hewan-hewan asli, seperti gajah, harimau, kijang, pelanduk, kancil dan lainnya. Belum lama terlihat harimau di Kandis yang kebingungan, karena lahannya habis terbakar. Burung-burung pun semakin langka.

Bukan hanya ekosistem di daratan, di sungai pun sama. Ikan tapah, gurami, belida, baung dan lainnya, kini semakin langka. Yang banyak ikan nilai, lele tambak, dan ikan-ikan peliharaan lainnya.

Jika merujuk pada konsep pembangunan yang berkelanjutan, idealnya pembangunan itu tidak merusak lingkungan, karena pembangunan itu sejatinya untuk anak cucu. Pembangunan bukan setakat untuk dinikmati satu priode lima ini, tetapi untuk jangka panjang.

Negeri-negeri yang menerima produk pertanian dari Riau, mereka pun tak jarang mempersoalkan masalah minyak kelapa sawit CPO di Riau, tujuannya agar keseimbangan alam di dunia ini tetap terjaga. Agaknya kabut asap ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa pembangunan di negeri harus ramah lingkungan.

Jika kita hanya berharap pada pertumbuhan ekonomi dalam waktu lima tahun, sementara tahun-tahun berikutnya lingkungan rusak, maka pembangunan seperti hanya setakat mengejar angka, bukan kualitas.

Kecenderungan kita saat ini menargetkan angka pertumbuhan ekonomi yang cepat, tanpa mempertimbangkan dampak pembangunnya.

Pembangunan perkebunan di Riau yang saat ini terkesan monokultur, kelapa sawit, akan berdampak pada ekosistem, dan tentunya pada manusia yang bermukim di wilayah ini.

Bukan hanya perubahan ekosistem, tetapi juga berdampak pada kesehatan. Limbah pabrik kelapa sawit, secara tidak langsung akan berdampak pada alam dan kesehatan manusia.

Agaknya pelan-pelan kita perlu perbaiki pola pembangunan perkebunan dan pembangunan lainnya di Riau. Yakni konsep pembangunan yang berkelanjutan.

Hutan-hutan di Riau yang menjadi bagian paru-paru dunia, harus terjaga. Jangan hanya mengedepankan pertumbuhan ekonomi sesaat, tetapi menghancurkan hutan di Riau.

Pembangunan bukan untuk manusia yang hidup saat ini, tetapi pembangunan itu untuk keselamatan seluruh penghuni alam, dalam jangka yang panjang. Eksploitasi besar-besaran terhadap alam sangat tidak baik bagi keseimbangan alam.

Kembali ke asap, agaknya perlu solusi jangka panjang menangani masalah asap. Yakni konsep pembangunan berkelanjutan. Sehingga kabut asap di negeri ini setiap tahunnya berkurang. ***





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook