Opini
Oleh: Ir Rony Ardiansyah, MT, IP-Ud

Moda Transportasi Unik Pekanbaru Dulu

21 Agustus 2019 - 09.45 WIB

Moda Transportasi Unik Pekanbaru Dulu
Era 70-80an, pernah ada ada transportasi utama Pekanbaru-Rumbai yang saat itu diberi nama Bus Panjang. Disebut Bus Panjang karena kendaraan tranportasi ini memang panjang, berupa gerbong atau di depan gerbong ditarik semacam kendaraan truk berbentuk jeep raksasa. Bila saudara pembaca penasaran ingin melihat bentuknya, bisa buka goegle dan ketik bus panjang.

Sebagai siswa SMAN 3 Rumba saat itu, Saya yang pernah melihat langsung dan hampir tiap hari menumpang secara gratis bus panjang juga sependapat bahwa transportasi ini sangat unit. Inilah salah satu moda transportasi terunik di dunia, tidak hanya pada saat itu, tetapi kayaknya sampai saat ini. Tidak ada belahan dunia manapun (jadi bukan hanya satu-satunya di Indonesia. Baik negara maju maupun negara berkembang-muda transportasi itu ada).

Cerita mengenai bus panjang yang melintasi sepanjang Jalan Boom Baru Rumbai, mengingatkan saya akan lirik lagu “Sepanjang Jalan Kenangan” oleh Tetty Kadi. dengan lirik reff lagunya. “Sepanjang jalan kenangan. Kita selalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan. Kau peluk diriku mesra. Hujan yang rintik-rintik.Di awal bulan itu. Menambah nikmatnya malam syahdu.” Maka Reff lagu kita gubah menjadi: “Sepanjang jalan Boom Baru Rumbai, kita saling berebut Bus Panjang. Sepanjang Jalan Boom Baru Rumbai, kita semuanya duduk dengan mesra. Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu, membuat membasahi seragam putih abu-abu mu.”    

Saat itusaya tinggal di Jalan Kesehatan, sebelahnya Jalan Senapelan (dekat Lapangan Bukit). Bila ingin kesekolah saya harus berjalan kaki melewati Boom Baru terminal menuju Rumbai, naik dan melewati Jembatan Leighton yang dibangun era tahun 74an, di sekitar ujung Jembatan Leighton inilah terminal Bus Panjang berada. Dari terminal menuju Rumbai, Trayek Pertama dimulai dari Boom Baru terminal, kemudian menuju Halte I Kehutanan, Halte II Tipe VI, Halte III Sanggar Karyawan, Halte IV Komisri dekat Gudang Ransum, Halte V di gedung olahraga, Gelora belok kiri melewati turunan tajam di sampingnya Lapangan Golf Caltex, di sebelaah ini kompleks Sekolah Cendana, Halte ke VI kembali ke Boom Baru melewati halte tadi.

Trayek atau Route kedua dimulai dari Boom Baru terminal Halte I Kehutanan, Halte II Tipe VI, Halte III Sanggar Karyawan, Halte IV Komisri dekat Gudang Ransum, Halte ke V di gedung olahraga, Gelora lurus kantor besar atau kantor Gadang CPI, lewat Club. Halte ke VI Club, Halte ke VII Sekolah International atau orang bule, terakhir, Halte VII tepatnya KM 6, dekat gereja, bus panjang kembali ke Boom Baru melewati halte tadi.

Kita pending sejenak cerita bus panjang dulu yaa, untuk mengulas sedikt sisi lain Jembatan Leighton tahun 74an. Mungkin tertarik dengan berita pembangunan jembatan ini lah satu satu sebab saya pemilih kuliah di Fakultas Tenik Jurusan Teknik Sipil kelak. Di balik keunikan struktur dan konstruksi sebuah jembatan, pembangunan Jembatan Leighton juga disertai pemeo yang beredar saat itu, bahwa untuk pembangunan jembatan diperlukan kepala anak kecil, cukup banyak. Sebagai anak kelas 3 SD saat itu, tentu saya juga terpengaruh berita angin atau berita bohong itu. Maka saat itu beredar isu “awas tukang potong kepala anak kecil”, jadi daerah-daerah pinggiran akan takut sekali dengan isu tersebut, ini disebabkan daerah pinggiran tidak ada listrik jadi kalau hari mulai malam di desa sekitar itu akan sepi sekali. Siapa sangka, daerah yang sepi itu kini berkembang menjadi salah satu sudut kota metropolitan.

Kembali ke cerita bus panjang. Saat itu saya duduk di kelas 1 SMA (SMA 3 Rumbai) tahun 1981, jadwal masuk sekolah jam satu siang. Kebanyakan siswa termasuk saya yang bertempat tinggal di Lapngan Bukit Pekanbaru harus berebutan untuk naik bus tersebut. Saya harus berangkat dari rumah lebih awal, yaitu pukul 11.30 siang, menyeberangi Jembatan  Leighton menunggu di Terminal Boom Baru. Kami harus menunggu beberapa puluh menit bus rute Rumbai-Bom Baru. Setelah bus tiba dan seluruh penumpangnya turun kami segera berebut naik ke bus, akhirnya bus berangkat dari Boom Baru menuju Rumbai (SMA 3 Rumbai). Pengalaman ini tentu gak pernah lagi dirasakan siswa zaman now, tetapi buat kami siswa saat itu tentulah menjadi salah satu nostalgia yang sangat berkesan.

Di akhir artikel ini saya ingin ajak pembaca melihat sejarah SMAN 3 Pekanbaru yang dahulunya bernama SMA Negeri Rumbai, yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso No 100 A Rumbai. Seperti yang digambarkan oleh wikipedia, sekolah ini awalnya menempati sebagian dari komplek pendidikan yang dibangun oleh Caltex yang terdiri dari 3 tingkat jenjang pendidikan yaitu SD Negeri 01 Rumbai, SD Negeri 02 Pekanbaru, SMPN 6 Pekanbaru dan SMAN 3 Pekanbaru. Pada mulanya tahun 1974 SMAN 3 Pekanbaru merupakan filial dari SMAN 2 Pekanbaru, Kepala Sekolahnya Abdillah Baharuddin (saat saya sekolah tahun 1981 kepala sekolahnya, Bapak Basri).

Saat pemulaan itu memiliki 2 kelas belajar dengan program studi IPA dan IPS. Seolah ini oleh Caltex dilengkapi dengan fasilitas olah raga yang memadai di antaranya lapangan sepak bola, bola voli, bola basket dan sebagainya. Dan tata ruang yang sangat bagus sehingga menampakkan tempat yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar. Pada zaman itu (1981), kami terkenal di film-film saat itu akan kampus biru, karena suasana tenang dan menyenangkan seperti kampus, SMAN 3 Rumbai ini kami beri julukan dan nama kesayangan sebagai “Kampus Rumbai”.***

Ir Rony Ardiansyah, MT, IP-U, Pengamat  Perkotaan, Dosen  Teknik Sipil UIR





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU