Tajuk Rencana
d

Haruskah Menunggu Musim Hujan Tiba?

15 Agustus 2019 - 13.24 WIB


BENCANA kabut asap di Bumi Lancang Kuning ini seperti sebuah tamu yang tak diundang. Selalu datang,  namun kehadirannya tidak diinginkan banyak orang. Biasanya dia selalu bertamu ketika musim kemarau menghampiri. Namun sang tamu akan mendadak pergi dan menghilang dari hadapan orang banyak saat musim hujan tiba. Bersyukurlah masyarakat jika musim kemarau terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Namun, bencanalah yang menimpa jika kemarau memakan waktu berbulan-bulan. Maka bersiap-siaplah menggunakan masker saban keluar rumah. ISPA pun menghantui setia insan dan malaikat maut pun akan datang menghampiri.

Lalu apakah kita harus menunggu datangnya musim hujan untuk mengusir "jahanam" kabut asap ini dari rongga paru-paru kita? Tidak adakah setitik harapan bagi masyarakat Riau untuk kembali menghirup udara yang bersih dan sehat kembali? Semua tergantung kepada usaha bersama dan kerja keras serta ketegasan aparat terkait yang memang digaji rakyat untuk mengatasi hal tersebut. Belajar dari pengalaman-pengalaman tahun-tahun terdahulu, memang terlihat ada siklus beberapa tahunan kemarau panjang. Seperti tahun 2015 lalu, di mana kemarau panjang hingga berbulan-bulan terjadi dan membuat bencana kabut asap kian para sampai-sampai menjalar ke provinsi tetangga hingga asap pun harus “ekspor” ke luar negeri.

Kita tentu tidak menginginkan hal-hal yang buruk menimpa negeri kita tercinta ini. Riau sudah banyak menanggung derita terhadap eksploitasi alam atas nama kepentingan negara untuk rakyat. Cukuplah sudah kekayaan alam kita terkuras habis, jangan sampai pula udara yang bersih pun dirampas guna memenuhi hasrat mengeruk kekayaan dengan cara yang biadab. Riau saat ini telah dikepung oleh sebanyak 56 titik api. Sebelumnya sempat muncul angka 165 titik panas yang membuat bumi makin membara dan jerebu kian perkasa menguasai angkasa. Hanya dalam beberapa hari saja kabut asap merajalela, telah tercatat sebanyak 9.360 warga terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ini baru yang tercatat di Dinas Kesehatan, mungkin masih banyak lagi yang terkena namun tidak tercatat secara resmi.

Lalu apakah kita harus berdiam diri dan bersabar atas musibah buatan tangan manusia ini? Mungkin banyak yang tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa mengurut dada melihat bencana ini terjadi kembali. Sampai kapan dan harus berapa lama kesabaran ini harus diuji. Memang bencana asap di Riau telah menjadi perhatian pemerintah pusat dengan turunnya para petinggi di Jakarta untuk memberikan bantuan moril dan materil guna menangani bencana ini. Patut diapresiasi. Tapi bukan itu sebenarnya yang diinginkan. Rakyat sudah muak dengan asap yang datang secara tahunan. Apakah tidak ada roadmap dari para petinggi negeri ini baik di daerah maupun nasional untuk mencegah asap ini tidak terjadi lagi? Jika bencana asap ini berakhir nantinya, kita semua ingin ini menjadi bencana asap terakhir di negeri yang terus "diperas" ini. Jangan ada lagi asap di tahun depan. Entah bagaimana caranya, kita serahkan kepada para pemimpin bangsa ini. Untuk itulah gunanya mereka kita beri gaji.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU