Tajuk Rencana

Riau Hijau dan Bermartabat

10 Agustus 2019 - 11.57 WIB

62 tahun bukanlah usia yang lagi belia atau remaja. Tingkatan umur yang sejatinya sudah menjadi tonggak motivasi untuk berbenah menuju hari senja yang penuh karya dan cita. Bukan malah bermain di deretan lingkaran pekerjaan-pekerjaan rumah yang monoton dan berulang tiap tahunnya.

Begitulah Riau, tanah melayu yang sempat termasyhur dengan sumberdaya alam minyak dan gasnya. Kini sedang berulang tahun di tengah terpaan cobaan yang menghampiri. Mulai dari ancaman jerebu dari berbagai penjuru, serangan pengaruh narkoba yang menggila, defisit anggaran yang membuat kelabakan, infrastruktur jalan yang tak kunjung tertuntaskan hingga menjadi perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi.

Tidak bijak jika kita mencari kambing hitam di antara deretan pekerjaan-pekerjaan rumah yang masih menghampiri bumi Lancang Kuning ini. Masyarakat pun tidak begitu mempermasalahkan persoalan substansi yang sejatinya menghampiri, tapi masyarakat ingin solusi, bukan janji-janji penuh harapan yang tidak pasti.

Persoalan asap misalnya, di saat momen istimewa hari ulang tahun ke-62, Provinsi Riau malah mendapatkan kado istimewa yakni jerebu yang masih setia menemani Riau beberapa waktu belakangan ini. Bahkan, saat momen upacara milad saja, sebagian peserta terpaksa menggunakan masker. Ya mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, asap sudah terlanjur datang dari berbagi penjuru. Tinggal menunggu komitmen pemangku kebijakan untuk menuntaskan persoalan substansi tersebut.

Pemerintah sepertinya juga memahami betul kekhawatiran masyarakat akan kondisi yang membelenggu tanah melayu ini. Untuk itu beberapa langkah juga sudah mulai dibuat. Kita juga tidak boleh menutup mata atas upaya-upaya yang telah dilakukan. Tapi apakah hanya sebatas pencitraan atau memang jadi tanggung jawab sebagai tempat amanah yang telah disampaikan masyarakat.

Misalnya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Riau tahun ini, Pemerintah Provinsi Riau mengusung tema "Riau Hijau dan Bermartabat". Sebuah tema yang sempat jadi pertanyaan masyarakat, apalagi saat ini Provinsi Riau masih dilanda kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di beberapa daerah dan di tengah berbagai persoalan pelik lainnya.

Gubernur sebagai orang nomor satu negeri ini menilai usulan tema itu bukan dengan tanpa alasan. Pesan positif yang diharapkan dari tema tersebut adalah nilai persuasif kepada masyarakat agar mempunyai kepedulian pembangunan yang berwawasan lingkungan. Serta menjadi komitmen untuk memerangi jerebu di tanah Melayu.

Selain itu konsep hijau juga sekarang sedang digemari dan menjadi sorotan, baik di tingkat nasional hingga internasional. Untuk itu image positif Riau sebagai daerah yang kaya akan gambut dan kawasan konservasi tetap menjadi nilai positif di kaca mata dunia.

Di tengah semangat Riau hijau dan bermartabat tersebut, tanda tanya kembali mencuat. Bagaimana komitmen stakeholder terkait menuntaskan persoalan karlahut sampai ke akar-akarnya. Apalagi dengan warning yang telah disampaikan Presiden RI tentang ketegasan menuntaskan Karhutla negeri ini.

Berangkat dari itu semua, momen HUT Provinsi Riau ke-62 perlu kita apresiasi dengan ketegasan komitmen Riau Hijau dan Bermartabat. Pemerintah juga harus peka dan mau menerima kritikan dan saran yang membangun, khususnya dari masyarakat. Mari kita kawal semangat dan komitmen penerima amanah untuk mewujudkan Riau Hijau dan Bermartabat menuju Visi Riau 2020.***


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook