Opini
Prof Dr Khairunnas Rajab MAg (Guru Besar Psikologi Agama UIN Suska Riau)d

Kecanduan di Atas Kecanduan

2 Agustus 2019 - 09.02 WIB

Kecanduan di Atas Kecanduan
Dunia sudah dibuat “sinting” para teknologian, di mana dijumpai sejak megatren 2000, hingga pos modern membuai hanyut semua kalangan tanpa pengecualian, anak pra-sekolah sampai sepuh terjebak kecanduan yang luar biasa. Sering ditemukan, bahkan tanpa riset ahli, anak memasuki akal baligh pun tahu, karena sudah mewabah; telah terjadi banyak kecelakaan mobil dan motor karena asyik menelepon, chat, nge-twitt, mesenger, SMS, dan lain sebagainya.  Silaturrahmi terabaikan, bahkan dalam meeting, briefing, milad, ataupun kunjungan keluarga terkecil pun kehilangan esensi; orang tidak peduli lagi dengan lawan bicara kontak fisik berbanding menggunakan gadget/smartphone komunikasi dunia maya, Facebook, Watshap, Twitter, Line, Instagram, Telegram, dan lainnya.

Dunia sudah digilai, orang gila pun sudah pandai ber-medsos. Dulu ketika kita berkunjung atau kebetulan ketemu dengan orang gila sering diminta rokok, tetapi kemudian mereka pun bertanya yang berbeda, mas/mbak boleh pinjam android-nya. Dari orang gila yang minta rokok, jadi pinjam android, karena penyebabnya ia menjadi gila, justeru belum punya kemampuan beli smartphone.

Smartphone telah luar biasa memberi manfaat bagi kemajuan informasi komunikasi. Seiring dengan itu masyarakat dapat merasakan kemudahan mencari teman, menemukan sahabat kecil, dan bahkan keluarga yang sulit ditemukan oleh sebab dibatasi ruang dan waktu. Banyak manfaat yang dapat ditengarai dan menandai kemajuan zaman dengan hadirnya smartphone. Tak pelak lagi ini bagian dari keinginan masyarakat global untuk bisa merasakan nikmatnya dunia yang serba  canggih nan modern. Bukan sekadar wacana, ia bergulir sebagai realitas yang menawan masyarakat kota hingga pelosok untuk tidak ketinggalan dalam menggunakan smartphone yang serba serbi dengan fitur yang terus berkembang pesat. Sengaja atau tidak, di mana kita melihat anak kecil di usia kanak-kanak yang sangat mahir menggunakan smartphone bermain game yang super dan tingkat kesulitannya membuat orang setengah baya terperangah melihat kemampuan sang jargon yang teramat hebat diukur dari sisi umur tiga tahun. Kita  berjalan dan berpengalaman melihat orang tua jompo asyik menonton YouTube yang terpantau lucu, disebabkan terlihat tertawa seduh, bahkan kita yang melihatpun jadi tertawa juga melihat kelakuan nenek dan kakek itu.

Dalam kehidupan yang serba serbi, baik di kota sampai ke perkampungan, dapat diamati yang realitasnya tidak terbedakan lagi mana yang orang kota, mana pula orang desa. Di dunia teknologi representatif membuktikan orang kampung sekalipun lebih modern dan sangat pintar menggunakan media telekomunikasi berbanding orang kota. Teknologi komunikasi telah mewariskan jangkauan-jangkauan yang dulu terabaikan oleh sebab keterbatasan. Teknologi komunikasi memang sudah menguasai dunia, banyak orang yang jauh jadi dekat; video call, face time, dan skype menunjukkan bahwa orang-orang dapat merasakan kejauhan menjadi rapat. Dunia telekomunikasi telah menjawab semua tantangan zaman yang dulu dipandang ribut dan tidak jarang orang meragukan keberadaannya.

Kehadiran teknologi komunikasi perlu diberikan apreasiasi. Ia telah menjadi tawaran berharga yang mungkin sulit dilupakan sampai kapan pun. Apabila ditilik ke belakang, di mana anak kecil, sepuh, tua bangka, orang desa, ataupun kota telah mendapat pengaruh positif dari kehadiran “makhluk” yang kita sebut dengan smartphone.

Di sebaliknya, ada kerinduan yang tidak berbatas pada sebuah nilai yang hampir punah timbul oleh sebab adanya smartphone yang membuat orang kecanduan itu. Kecanduan itu menjadi bahan riset para pakar psikologi yang menarik minat  untuk menguji kuantitatif dan kualitatif terhadap bahaya kecanduan smartphone bagi masyarakat. Penelitian seperti ini jadi trending topik yang menguat terus  secara sugestif motivatif. Namun demikian riset itu seolah-olah terabaikan begitu saja, karena penelitinya juga terjebak dalam alunan-alunan kecanduan yang membuai dirinya dengan smartphone dimaksud.

Telekomunikasi informatif melalui smartphone mestilah memiliki nilai, plus dan minus. Tidak jarang orang jadi lalai salat, memutus silaturahmi, lupa istri, lupa anak, lupa segalanya, disebabkan mainan baru yang modern tersebut. Para pelajar banyak yang hanyut dengan smartphone. Di antara mereka banyak lupa belajar atau mungkin juga belajar dengan e-learning, membuka data-data pengetahuan melalui Google, google classroom, ada juga informasi pengetahuan dari watshapp, twitter, instagram, telegram, dan facebook. Para pelajar yang menggunakan smartphone untuk mengetahui informasi pengetahuan cenderung mendahului para guru yang masih “gaptek”. Ini sinyal positif bagi pengetahuan, di mana guru harus segera dan berpacu dengan waktu bagi mengetahui informasi pengetahuan, agar supaya tidak keduluan peserta didik. Ini hanya berlaku bagi siswa yang mampu mengadopsi dan menerjemahkan teknologi secara positif. Bagi siswa yang kebanyakan; smartphone adalah bagian permainan baru yang harus dinikmati dengan kegembiraan bersama fitur-fitur update yang mencengangkan.

Smartphone adalah media utama penghantar dan penghubung antar elemen, komunitas, sosiolitas, dan kelompok masyarakat terkecil di pedesaan sekalipun. Pada sebagian individu atau bahkan masyarakat sering juga kita dengar yang mereka khawatir dengan kehadiran teknologi canggih ini. Tidak jarang pelajar dan anak-anak usia sekolah sudah lebih cepat mengenal dan melakukan hubungan seks, dijumpai juga pelajar yang mengkonsumsi narkoba, tawuran, dan kebut-kebutan di jalan raya sambil nelepon, SMS, chatt, nge-twitt, dan lainnya. Banyak kecelakaan terjadi, disebabkan menggunakan smartphone sambil mengendara. Sering juga kita jumpai kebut-kebutan di jalan raya dan bangga sambil menggunakan smartphone tersebut.

Kecanduan pada kepemilikan dan penggunaan smartphone telah melanda semua lini kehidupan kemanusiaan di abad modern. Orang yang tinggal di pelosok pedesaan telah lebih dulu  memperoleh informasi atau setidaknya sudah leluasa menerima berita apapun dan dari manapun. Jaringan narkoba misalnya, orang desa telah dengan mudah menerima pasokan benda haram itu. Sementara pengawalan dan pengawasan di desa tidak seketat di kota. Sehingga para cukong merasa lebih nyaman memasok ke desa berbanding di kota. Apabila disurvei ke desa-desa yang dulu masyarakatnya lugu, sekarang mereka lebih tahu benda-benda dan jenis-jenis narkoba tersebut daripada orang yang tinggal di kota.

Efek buruk lainnya smartphone dapat dilihat pada kenakalan remaja, di mana degradasi moral alang kepalang telah sangat mengkhawatirkan. Anak telah berani membentak ibunya, hanya karena minta dibelikan smartphone. Realitasnya smartphone memberikan posisi tawar kemajuan yang luar biasa, namun pemakaian dan penggunaannya perlu kendali yang tepat guna agar tidak menjadi kecanduan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.***

Editor: Arif Oktafian


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU