Tajuk Rencana
d

Riau Berasap Lagi

1 Agustus 2019 - 09.26 WIB

Isu kabut asap datang kembali. Mungkin karena musim kampanye sudah selesai. Jadi, tak ada lagi tekanan publik yang begitu kuat untuk aparat yang mengurus kebakaran hutan dan lahan ini. Akibatnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kali ini seperti terbiarkan. Padahal, potensi karhutla sekarang dinilai sama berbahayanya dengan yang sudah-sudah. Bahkan bisa saja lebih ekstrem.

Isu asap secara nasional juga tengah hangat. Semuanya terjadi ketika kebakaran hebat melanda Kalimantan pada 2015. Usai kebakaran itu, muncullah gugatan kepada pemerintah, mulai dari Bupati, DPRD Kalteng, Gubernur Kalteng, para menteri, hingga Presiden. Pemerintah bahkan kalah tiga kali, pada tingkat pertama, banding, dan kasasi. Tapi rupanya pemerintah tak terima dan ingin mengajukan peninjauan kembali (PK). Entah sampai di mana pula ujung kasus ini.

Isu asap juga melanda ibukota Jakarta. Isu ini benar-benar menghangat dalam dua hari belakangan. Berbeda dengan daerah lain, isu polusi asap di Jakarta berkaitan dengan asap kendaraan yang luar biasa di ibukota. Tapi spekulasi politik terkait posisi Gubernur DKI Jakarta yang digadang-gadang jadi salah satu capres masa depan juga mengemuka.

Bagi masyarakat Riau, isu asap juga menjadi sebuah isu lama yang berasap kembali. Dalam dua hari ini, bau sangit asap terasa mulai menyesakkan dada. Pada Rabu (31/7) pagi, jarak pandang sangat pendek. Agak siang, barulah jarak pandang mulai membaik sekitar 5 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan secara keseluruhan terdapat 138 titik panas yang mengindikasikan karhutla di Pulau Sumatra. Dari angka itu, 60 di antaranya berada di Riau. Pelalawan, Rokan Hilir, dan Indragiri Hilir menyumbang titik panas terbanyak di Riau. Jumlah titik panas di Riau menurut BMKG adalah di Kabupaten Pelalawan (30), Indragiri Hilir (15), Rokan Hilir (8). Selain itu, titik panas juga terpantau menyebar di Bengkalis dan Indragiri Hulu sebanyak dua titik, serta masing-masing satu titik di Kampar, Kuansing, Pelalawan.

Akankah Riau kembali membara seperti yang lalu. Tahun 2014 adalah momen terburuk itu. Tiga pekan sekolah libur. Dua pekan lamanya bandara tidak beraktivitas karena diselimuti kabut. Akankah kali ini seperti itu? Apakah pemerintah mau berbenah. Toh, sudah kalah di pengadilan saja, pemerintah tak mau mengaku salah dan berbenah. Malah merasa tak bersalah.***





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU