Pahlawan tanpa Tanda Jasa

27 November 2018 - 09.24 WIB > Dibaca 335 kali | Komentar
 

ADALAH suatu hal yang menggembirakan sejak beberapa tahun belakangan ini  bahwa profesi guru sudah sangat begitu dihargai. Baik dari segi penghormatan dari para murid, orang tua, dunia kerja serta dari sisi insentif yang diterima. Kalau dahulu banyak yang melihat jenjang kuliah di fakultas keguruan dengan sebelah mata, kini fakultas keguruan dan ilmu pendidikan menjadi incaran dan diminati para calon mahasiswa. Karena lulusan keguruan sudah bisa dipastikan siap pakai dan dunia kerja terbuka lebar. Bahkan diterima jadi PNS yang kini incaran banyak orang, banyak dibuka untuk para guru.

Kini gaji guru, terutama yang jadi pegawai negeri sipil (PNS) sudah mumpuni dan sangat mencukupi. Ditambah lagi dengan tunjangan sertifikasi yang makin membuat kehidupan para guru makin terdongkrak. Kesejahteraan para guru terutama yang berstatus PN kini makin membaik. Dibandingkan beberapa tahun lalu, nominal yang diterima hampir Rp10 juta. Setidaknya ada tiga sumber pendapatan guru setiap bulan. Dari gaji, tunjangan profesi dan tunjangan daerah. Hal ini patut kita syukuri dan berharap dunia pendidikan kita makin maju dengan naiknya taraf kesejahteraan guru. Namun sayangnya, kesejahteraan tersebut belum merata. Sebagian besar masih terfokus di kota-kota besar. Masih banyak juga guru yang berpenghasilan kecil seperti guru honorer dan guru swasta.

Menurut Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy mengatakan bahwa saat ini jumlah guru secara nasional sekitar 3,017 juta orang. Meliputi guru status PNS dan honorer baik di negeri maupun swasta. Guru bukan PNS di sekolah negeri 735 ribu dan di swasta 790 ribu. Total guru bukan PNS 1,5 juta. Sedangkan guru PNS sekolah negeri dan swasta sebanyak 1,4 juta. Bisa ditebak bahwa tingkat kesejahteraan belum setengah jumlah seluruh guru. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memperhatikan nasib guru terutama honorer. Pekerjaan memang sama-sama guru dengan yang berstatus PNS, namun jumlah uang yang diterima sangat berbeda.

Lalu mengapa begitu banyak guru honorer? Menurut Menteri Pendidikan bahwa Indonesia saat ini masih kekurangan guru berstatus PNS, maka guru berstatus honorer pun banyak ditemukan. Kekurangan guru PNS sekolah negeri mencapai 988.133 orang. Sementara guru yang pensiun 295.779 orang. Karena kekurangan pengajar maka banyak pihak sekolah mengangkat sendiri tenaga pengajar dengan status honorer. Memang kekurangan guru bisa diatasi, namun yang terjadi di lapangan adalah munculnya ketimpangan kesejahteraan. Sehingga muncul rasa ketidakadilan karena ada sebagian guru yang sejahtera sementara sebagian lain kekurangan.

Di pihak lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan bahwa sertifikasi guru tidak berbanding lurus dengan kualitas yang ada. Sertifikasi hanya dilakukan demi mendapatkan tunjangan guru yang lebih tinggi. “Sekarang sering sertifikasi tidak mencerminkan apa-apa, hanya prosedural untuk mendapatkan tunjangan. Bukan berarti dia profesional bertanggung jawab berkualitas pada pekerjaannya,” ujar Sri Mulyani di Gedung Guru, Jakarta Pusat, Selasa (10/7/2018).

Kita tentu berharap, dengan makin membaiknya kesejahteraan guru berimbas kepada hasil didikannya. Dan kita juga ingin pemerintah mengambil kebijakan  yang adil dalam melihat masalah guru honorer dan sebagian guru swasta ini. Jangan biarkan para patriot tanpa tanda jasa ini menderita di tengah meluapnya anggaran untuk  dunia pendidikan kita.***


KOMENTAR
Terbaru
Banjir Masih Melanda Desa Buluh Cina Siak Hulu Kampar (video)
Petani Muda Riau Terima Bantuan Bibit Sapi dari Chevron

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:32 WIB

Pelaku Perusak Atribuat Partai Demokrat Diperiksa Penyidik
Hari Ini, 54 Wartawan PWI Riau Konsentrasi Ikuti UKW

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:06 WIB

Aturan Jilbab ASN Tak Berlaku di Riau

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:00 WIB

Follow Us