HPN di Kampung Adinegoro

12 Februari 2018 - 09.53 WIB > Dibaca 118 kali | Komentar
 

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang diselenggarkan di Provinsi Sumatera Barat sangat menarik dicermati. Sebab, provinsi ini merupakan gudangnya para cendikiawan, penulis dan wartawan.

Di provinsi ini juga telah lahir sosok tokoh wartawan, yakni Adinegoro yang sebenarnya bernama Djamaluddin Adinegoro, bergelar Datok Maradjo Sutan, lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904, meninggal 8 Januari 1967.

Beliau merupakan wartawan yang berpendidikan tinggi, menguasai jurnalistik, sejarah, geografi, politik dan pernah menempuh pendidikan di Jerman dan Belanda.

Jiwa pahlawannya terlihat karena dia adalah adik Muhammad Amin, yakni pejuang kemerdekaan RI. Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman. Ia mendalami masalah jurnalistik di sana. Selain itu, ia juga mempelajari kartografi, geografi, politik, dan geopolitik. Tentu saja pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro memang lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan. Peringatan Hari Pers ini selain di ‘’kampung jurnalistik berasal’’ juga memiliki beberapa catatan yang menarik dari pandangan.

Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap pekan ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926-1930), ia nyambi menjadi wartawan bebas pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).

Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana, hanya enam bulan. Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof  Dr Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian menjadi LKBN Antara). Sampai akhir hayatnya Adinegoro mengabdi di kantor berita tersebut.

Ia ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Namun ada yang menarik, yakni nama beliau menjadi ajang anugerah jurnalistik nasional. Yakni Anugerah Adinegoro.

Anugerah Adinegoro adalah ajang bergengsi bagi kalangan wartawan. Alhamdulillah, kali ini untuk kedua kalinya Riau Pos meraih anugerah bergengsi yang diselenggarakan bersampena Hari Pers Nasional (HPN). Sebelumnya diraih wartawan senior Riau Pos, Mostamir Thalib, kali ini anugerah itu diraih wartawanan senior Riau Pos Muhammad Amin.  

Semoga prestasi ini memberikan dampak bagi wartawan-wartawan muda di Bumi Lancang Kuning ini. Kualitas wartawan sangat berpengaruh pada tulisan dan tentunya berdampak pada proses pencerdasan anak negeri.***



KOMENTAR
Follow Us