Bersatu Melawan Mafia Asing

24 Januari 2018 - 10.59 WIB > Dibaca 337 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Sudah berulang kali. Warga negara asing asal Cina tertangkap polisi Indonesia. Mereka terbukti melakukan aksi penipuan dan pemerasan. Korbannya memang bukan warga negara kita, melainkan sesama warga Cina. Tapi mereka menggunakan Indonesia sebagai tempat berlindung untuk melancarkan kejahatannya.

Kita sepertinya rela-rela saja Indonesia yang kita tercintai ini dijadikan pakaian penipuan dan pemerasan penjahat Cina. Penggerebekan dan penangkapan massal yang dilakukan aparat keamanan paling-paling hanya berakhir dengan ‘’hukuman’’ deportasi. Tidak ada proses hukum lebih lanjut yang mengganjar mereka dengan kurungan badan atau denda. Dalam hukum pidana, kasus penipuan (termasuk via online dan siber) adalah delik aduan. Memang sulit menunggu pengaduan dari korban yang juga beralamat di Cina. Kalaupun akhirnya ada, rumit juga proses peradilannya. Yang paling efisien, ya dideportasi. Bisa jadi inilah yang menjadi kendala untuk memproses para penipu dan pemeras ke ranah pidana.

Seperti terlihat dari berulangnya kasus serupa, bisa jadi Indonesia sudah menjadi tempat yang nyaman untuk basis kejahatan bermotif keserakahan tersebut. Tak heran jika selalu muncul komplotan yang bermodal cukup kuat, termasuk untuk menyewa rumah besar ratusan juta rupiah per tahun. Sepertinya tak ada efek jera. Apalagi, kita tak bisa memastikan apakah semua orang yang terlibat penipuan itu diadili secara layak di Cina.

Tentu saja tidak selayaknya negara ini kita biarkan dijadikan markas kejahatan, sekalipun korbannya juga orang asing. Kita tetap perlu mengawasi, termasuk pengawasan oleh warga. Bukankah selama ini justru di kawasan kampung pengawasan serupa bisa jalan? Selalu ada pengumuman standar: Tamu Lewat 1 x 24 Jam Harap Lapor RT.

Atau para komplotan penjahat asing itu sudah tahu bahwa yang justru tak terawasi adalah kawasan permukiman mewah. Rumah berpagar tinggi di dalam cluster jelas sulit terawasi dalam kehidupan bertetangga. Pemilik rumah pun sepertinya tak curiga (atau tak mau tahu) rumahnya disewa orang asing yang beraktivitas di rumahnya dalam jumlah banyak.

Selain mengandalkan polisi, memang diperlukan tindakan lebih komprehensif. Misalnya, pengetatan SIM card memang tak bisa ditunda lagi. Sebelum negara ini menjadi sarang mafia penipu asing ‘’tak tersentuh hukum”.

Perlu perhatian kita bersama. Terutama instansi terkait. Pengawasan terhadap warga negara asing yang masuk ke Indonesia harus diperketat. Apalagi terhadap warga asing yang memang mencurigakan. Pengawasan oleh masyarakat juga tidak kalah penting. Peduli dengan lingkungan harus digalakkan. Jangan biarkan ada warga negara asing yang mengontrak rumah tanpa pengawasan. Apalagi dihuni warga orang berkelompok. Jika memang curiga, segera laporkan ke pihak berwajib.

Negara kita memang dikenal dengan keramahan. Tapi untuk pelaku kejahatan harusnya sifat ramah-tamah tadi disingkirkan. Jangan sampai negara yang kita cintai ini terkesan memberi tempat bagi pelaku kejahatan.  Kita harus bersatu, membentengi tanah air kita dari penipu dan pemeras negara luar.***
KOMENTAR
Follow Us