Pemimpin yang Menangis

23 Januari 2018 - 10.20 WIB > Dibaca 368 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - ALKISAH tercatat dalam sejarah pada 10 Safar tahun 99 Hijriyah (717 Masehi), Umar bin Abdul Aziz secara resmi dilantik menjadi Khalifah pada Dinasti Bani Umayyah menggantikan Sulaiman bin Abdul Malik. Dinasti atau pemerintahan Umayah ini adalah kekhalifan Islam pertama setelah Khulafaur Rasydin. Wilayah kekuasaannya mulai dari jazirah Arab hingga Eropa. Pada tahun 661-750 Masehi beribukota di Damaskus dan tahun 756 sampai 1031 beribukota di Cordoba, Spanyol.

Apa reaksi Umar saat dilantik menjadi khalifah? Diluar dugaan, Umar menangis terisak-isak sehingga semua hadirin terdiam. Umar kemudian memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya dan menangis sesunggukan. Usai pelantikan pun Umar menangis selama seharian. Istri dan anaknya pun gelisah dan mencari apa penyebab sang Khalifah yang baru dilantik itu dirundung duka yang mendalam. Banyak yang datang menghibur termasuk para penyair, namun ditolaknya dengan baik.

Sang istrinya Fatimah kemudian bertanya secara langsung apa yang jadi sebab tangisan itu. Umar pun akhirnya menjawab, ‘’Wahai istriku, saat ini aku telah diangkat menjadi pemimpin umat. Aku termenung dan terpaku memikirkan nasib para fakir miskin yang sedang kelaparan dan tidak mendapat perhatian pemimpinnya. Aku juga memikirkan orang-orang sakit yang tidak mendapatkan obat. Hal yang sama juga terpikir olehku tentang orang-orang yang tidak mampu membeli pakaian, orang-orang yang selama ini dizalimi dan tidak ada yang membelanya. Mereka yang mempunyai keluarga ramai tapi memiliki sedikit harta, orang-orang tua yang tidak berdaya, orang-orang yang menderita di pelosok negeri ini serta yang lain sebagainya. Aku sadar bahwa Allah pasti akan meminta pertanggungjawaban dariku, sebab ini adalah amanah yang terpikul di pundakku. Namun aku bimbang dan ragu, apakah aku mampu dan sanggup memberikan bukti kepada Allah bahwa aku telah melaksanakan amanah itu dengan  baik dan benar sesuai tuntunan. Atas dasar itulah sehingga aku pun menangis,’’ lirih Umar.

Sebuah kisah sejarah yang perlu menjadi renungan kita bersama. Berapa banyak saat ini, jika seseorang dilantik  jadi pemimpin atau penguasa, menangis? Sepertinya hampir-hampir tidak ada. Malah yang terjadi adalah senyum sumringah yang merekah dan perasaan bangga yang membuncah di dada. Jarang sekali ada yang merenung apa hakikat dirinya dilantik menjadi pemimpin. Padahal sejati, dengan dilantik jadi pemimpin, sesorang itu akan meninggalkan kenikmatan pribadinya. Ia harus mencurahkan segenap kekuatan jiwa dan raganya untuk menyejahterakan orang yang dipimpinnya. Menurut HR, Thabrani, “Awal dari ambisi terhadap kekuasaan adalah rasa sakit. Lalu keduanya diikuti dengan penyesalan. Setelah itu ketiga diikuti dengan siksaan pada hari kiamat. Kecuali bagi yang mampu berbuat adil”.

Di musim pilkada serentak ini, terutama di Provinsi Riau, kisah nyata Umar bin Abdul Aziz ini dapatlah hendaknya menjadi setitik pencerahan dan nasehat menuju tujuan awal mula pencarian seorang pemimpin yang sejati dan amanah. Seorang pemimpin yang dicintai masyarakatnya, jika dia berhasil menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi yang dipimpin. Jangan jadikan kursi kekuasaan sebagai tempat mencari harta dan kemewahan dunia. HR, Muslim menjelaskan, ” Tidaklah seseorang yang diberi amanah Allah untuk mempimpin rakyatnya, sedangkan ia meninggal dunia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya masuk surga”.***
KOMENTAR
Follow Us