Palestina Tidak Sendiri

17 Januari 2018 - 11.02 WIB > Dibaca 329 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Semangat Palestina menjadi negara berdaulat tidak akan pernah padam. Sekuat apapun tekanan dari Israel dan pendukungnya, tidak akan mampu membendung perlawanan rakyat Palestina. Palestina tidak sendirian, dukungan juga datang dari berbagai negara di dunia, terutama Indonesia.

Mendukung Palestina bukan sekadar sebuah sikap yang berdasar sentimen agama belaka. Mendukung Palestina itu berarti sebuah sikap yang konsisten dengan konstitusi negara kita, Republik Indonesia. Juga sesuai dengan nalar akal sehat. Bahwa Palestina yang dulu negara merdeka, tercaplok, dan kini berjuang untuk kembali merdeka.

Karena itulah, dukungan terhadap Palestina tidak hanya datang dari pemimpin-pemimpin Islam. Tetapi juga pemimpin-pemimpin progresif seperti Jimmy Carter, Evo Morales, almarhum Fidel Castro, dan Hugo Chavez. Bahkan, sejumlah pemikir Yahudi sendiri pun mendukung Palestina. Di antaranya Noam Chomsky dan Hannah Arendt.

Mereka menyebut bahwa klaim Zionisme atas tanah yang dijanjikan (promised land) tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan, mereka menganggap bahwa klaim-klaim tersebut tidak lain dari pembenaran sebuah aneksasi wilayah. Seperti yang terjadi di Benua Amerika beratus tahun yang lalu.

Maka, pernyataan sepihak Presiden AS Donald Trump yang mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel bermakna sangat dalam. Semua tahu bahwa Trump melakukan itu hanya untuk meraih dukungan lobi Yahudi yang kuat di politik AS. Di mana, posisi Trump sekarang begitu terjepit dalam jagat politik AS. Dia bisa mengalami pemakzulan jika lanjutan penyelidikan senat soal keterlibatan Rusia dalam kampanye Trump di pilpres AS lalu terbukti.

Namun, dimensi pernyataan itu menjadi sangat luas. Mengakui hal tersebut sama dengan mengakui sebuah pencaplokan ilegal. Sejarah menunjukkan bahwa Israel ada setelah kaum Yahudi yang dimotori gerakan Zionis memanfaatkan situasi kacau pasca-PD II. Dengan memainkan isu holocaust, ada semacam pemakluman ketika orang-orang Yahudi bermukim di Palestina.

Tanpa banyak yang bisa mencegah, kelompok pemukim Yahudi menjadi kuat dan tiba-tiba saja mengklaim sebuah wilayah yang membelah Palestina menjadi dua kawasan kecil. Jalur Gaza di sebelah barat dan Tepi Barat di sebelah timurnya.

PBB bukannya tidak bertindak. Sejumlah resolusi pun telah jatuh untuk Israel. Namun, tanpa sponsor utamanya, AS, PBB tidak ubahnya seperti macan ompong. Israel terus saja melanjutkan kegiatan pemukiman ilegal dan terus menjauh dari road map perdamaian konsep two state solution.

Untuk itu, tidak ada cara lain untuk menghentikan semua itu kecuali dengan terus meningkatkan tekanan internasional. Sudah tepat sikap keras pemerintah kita untuk memprotes pernyataan Trump. Yang perlu dilakukan adalah terus meningkatkan tekanan internasional. Bisa melalui demo, bisa melalui boikot, dan bisa dengan apa saja sesuai kemampuan kita.***
KOMENTAR
Terbaru
Korupsi Bapenda, Kejati Terbitkan Sprindik Baru

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:16 WIB

Promo Spesial untuk Pelanggan Setia

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:13 WIB

Pengundian Pesta Blanja Poin Telkomsel Periode 4

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:11 WIB

Perbaikan Jalan Ditimbun Kerikil

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:10 WIB

Retail Sales Daihatsu Tembus 15.896 Unit

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:08 WIB

Follow Us