Depan >> Opini >> Opini >>

Dr. Djonieri SE Ak MBA CA

Mencari Pemimpin Riau Visioner (BAGIAN 2)

29 Desember 2017 - 10.38 WIB > Dibaca 445 kali | Komentar
 
Mencari Pemimpin Riau Visioner (BAGIAN 2)

DISKUSI dengan tema “Mencari Pemimpin Riau yang Visioner” kembali dihelat oleh Ikatan Keluarga Alumni Universitas Riau Jabodetabek pada Jumat (22/12) di Jakarta. Diskusi dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Ahmad Hijazi. Rangkuman diskusi tersebut dituliskan dalam artikel ini.

Ada beberapa pertanyaan seputar perekonomian Riau yang mencuat, yaitu mengapa ekonomi tumbuh konstan di angka sekitar 2 persen selama tiga tahun terakhir, apakah sudah terjadi pemerataan pendapatan, mengapa pembangunan infrastruktur jalan di tempat, mengapa industri pariwisata belum berkembang, dan apa strategi pengembangan industrialisasi di Riau.

Riau negeri yang punya berlimpah sumber daya alam, punya potensi untuk menjadi pusat kegiatan ekonomi di Sumatera, karena letaknya yang sangat strategis, di tengah-tengah pulau Sumatera dan berbatasan langsung dengan Singpapura dan Malaysia. Letak strategis yang dimiliki Provinsi Riau, sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan Selata Malaka, menyebabkan provinsi Riau mempunyai nilai tambah dan daya saing yang kuat untuk dapat menghasilkan barang atau jasa yang mempunyai nilai jual tinggi. Keunggulan komparatif yang dimiliki oleh Riau adalah potensi sumber daya alam dari migas dan lahan perkebunan yang luas. Namun, sumber daya alam yang berlimpah tersebut belum mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat secara utuh.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Riau pada Triwulan III 2017 adalah sebesar 2,85 persen (year on year). Pertumbuhan ekonomi ini tidak terlalu jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, 2,71 persen (2014), 0,22 persen (2015), dan 2,23 persen (2016).

Di samping faktor pertumbuhan ekonomi yang rendah, tingkat kesenjangan pendapatan masyarakat Riau juga tinggi dibanding beberapa provinsi lain yang tercermin dari tingginya indeks gini Riau. Indeks gini adalah salah satu cara untuk mengukur kesenjangan distribusi pendapatan dan kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Semakin besar indeks gini, semakin timpang distribusi pendapatan masyarakat suatu daerah.

Pada tahun tahun 2016, indeks gini Riau adalah sebesar 0,368. Di sisi lain, indeks gini Sumatera Barat adalah sebesar 0,323, Sumatera Selatan sebesar 0,397, dan Sumatera Utara sebesar 0,334. Dari perbandingan indeks gini provinsi Riau dengan Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara, kita dapat melihat bahwa pada tahun 2016 indeks gini Provinsi Riau (0,368) lebih tinggi dari Sumatera Barat (0,323) dan Sumatera Utara (0,334), namun lebih rendah dari Sumatera Selatan (0,397). Ini menunjukkan bahwa ketimpangan distribusi pendapatan di Riau lebih besar dari pada di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Namun, dibandingkan Sumatera Selatan ketimpangan di Riau lebih baik.

Salah satu penyebab tingginya ketimpangan pendapatan di Riau adalah karena sumber-sumber produksi dikuasai oleh segelintir orang. Hal ini dapat dilihat bahwa di Riau, lima puluh persen perkebunan sawit dimiliki oleh  korporasi besar, dan hanya lima puluh persen lainnya dimiliki oleh masyarakat Riau. Menurut Josep  Stiglitz (The Price of Inequality, 2012) ketimpangan terjadi karena kebijakan pemerintah yang lebih berpihak kepada orang kaya dan pemilik modal.

Infrastruktur

Pertama, pemimpin Riau di masa datang harus membangun infrastruktur yang baik.  Karena infrastruktur yang baik akan menjamin efisiensi, memperlancar pergerakan barang dan jasa, dan meningkatkan nilai tambah perekonomian. Jika dilihat dari ketersediaan infrastruktur jalan dan jembatan, daerah Riau tidak terkoneksi dengan baik.

Industri Pariwisata

Kedua, mengembangkan industri pariwisata. Salah satu fokus strategi Riau adalah mengembangkan industri pariwisata. Namun,  Riau belum mempunyai strategi yang jelas untuk mengembangkan industri ini. Industri pariwisata mempunyai efek berantai (multplier effect) kepada industri lainnya. Seperti, industri hotel, restoran, transportasi, dan kerajinan. Multiplier effect inilah yang akan menyebabkan penghasilan masyarakat meningkat dan pengangguran turun.

Industrialisasi

Ketiga, mengembangkan industri hilir minyak sawit. Produk-produk yang dihasilkan akan memberi nilai  tambah yang tinggi. Semakin panjang rantai produksinya, semakin tinggi nilai produk tersebut. Melalui hilirisasi provinsi Riau dapat mengolah minyak sawit menjadi produk-produk bernilai tambah lebih tinggi untuk tujuan ekspor maupun untuk pengganti produk yang diimpor selama ini, seperti  solar, avtur, plastik, pelumas, alat kecantikan, minyak goreng, margarin, detergen, sabun, shampoo, dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, pemimpin Riau di masa depan harus jeli melihat potensi produk hilir dari bahan baku sawit. ***

Untuk mendukung industrialisasi, Riau harus mempunyai sumber daya manusia yang terampil. Salah satu strategi untuk menciptakan tenaga kerja terampil adalah melalui pendidikan vokasi. Pemimpin Riau di masa depan juga harus mempunyai strategi untuk mengembangkan pendidikan vokasi di Riau. Banyak potensi industri yang bisa dikembangkan di Riau, sehingga diperlukan taman-tamatan sekolah tinggi vokasi yang terampil untuk mengisi kebutuhan perusahaan-perusahaan di Riau. Di Indonesia, 60 persen siswa tamat SMA menganggur, padahal banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga mereka, jika memiliki keahlian yang dibutuhkan. Jerman bisa menjadi salah satu contoh negara yang mengembangkan pendidikan vokasi ini, di mana perusahaan-perusahaan besar di Jerman memanfaatkan keahlian dari siswa pendidikan vokasi. Ini juga salah satu fokus strategi yang bisa menjadi prioritas pemimpin Riau ke depan agar Riau mengurangi ketergantungan kepada migas.

Semoga kontestasi pemilihan kepala daerah Riau tahun 2018 dapat menghadirkan kepala daerah Riau yang visioner dan dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Riau.***


Dr. Djonieri SE Ak MBA CA - Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Riau Cabang Jabodetabek dan Direktur Perencanaan Keuangan OJK.

KOMENTAR
Terbaru
Sedia Payung Sebelum Hujan

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:16 WIB

Korupsi Bapenda, Kejati Terbitkan Sprindik Baru

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:16 WIB

Promo Spesial untuk Pelanggan Setia

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:13 WIB

Pengundian Pesta Blanja Poin Telkomsel Periode 4

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:11 WIB

Perbaikan Jalan Ditimbun Kerikil

Rabu, 21 Februari 2018 - 10:10 WIB

Follow Us