Depan >> Opini >> Opini >>

Ir H Firdaus Agus MP

Kekurangan Tenaga Ahli Konstruksi, Antara Peluang dan Tantangan

21 Desember 2017 - 14.42 WIB > Dibaca 834 kali | Komentar
 
Kekurangan Tenaga Ahli Konstruksi, Antara Peluang dan Tantangan

ISU yang mencuat secara nasional di dunia usaha jasa kontruksi saat ini adalaH kekurangan jumlah tenaga ahli industri konstruksi. Jumlah yang ada dianggap belum ideal. Hal ini sangat beralasan memang karena perbandingan tenaga ahli dan tenaga terampil maupun pekerja konstruksi lainnya masih belum seimbang di mana perbandinganya tidak sampai 10 persen dari kebutuhan tenaga ahli industri.
 
Bayangkan saja, nilai pasar industri konstruksi di Indonesia tahun 2017 saja menembus Rp1.000 triliun untuk membangun infrastruktur umum, gedung, bendungan, hingga perumahan rakyat. Dari nilai pasar sebesar itu, sejumlah 35 persen industri konstruksi dibangun dengan dana pemerintah dengan tingkat serapan tenaga kerja lebih dari 7 juta orang. Dari data berbagai sumber saat ini baru sekitar 150.000 tenaga ahli yang tersertifikasi di negeri ini. Mereka bekerja di semua level, baik perencana, pengawas, maupun pelaksana proyek.

Tingginya tingkat kebutuhan tenaga ahli saat ini tentunya dipengaruhi oleh faktor meningkatnya belanja pembangunan infrastruktur khususnya industri kontruksi nasional maupun di daerah.

Idealnya, jumlah tenaga ahli ini antara 500.000 hingga 750.000 orang (Ditjen Kementerian PUPR). Mereka ini harus memiliki sertifikat keahlian melalui uji kompetensi yang dilaksanakan badan seperti Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Isu kekurangan tenaga ahli tersebut tentunya menjadi tantangan dan peluang bagi semua pihak khususnya lembaga terkait seperti perguruan tinggi, pemerintah dan asosiasi-asosiasi profesi yang ada di negeri ini sebagai wadah tempat pembinaan dan berkumpulnya para tenaga ahli profesi. Apalagi pada program studi yang berkenaan dengan keahlian konstruksi membuat para staf pengajar akan lebih tertantang lagi untuk dapat mencetak calon tenaga ahli yang mumpuni di bidangnya, mampu mengaplikasikan antara teori di kampus dan praktik lapangan.

Ketiga unsur ini secara bersama-sama perlu sinergitas dalam mempersiapkan tenaga ahli yang berkompeten, bersertifikat sesuai Undang-undang Jasa Konstruksi Nomor 18 Tahun 1999 (UUJK) dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 beserta perubahannya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2010.

Hal ini dimaksud untuk membuat usaha jasa konstruksi di Indonesia menjadi kokoh, andal, berdaya saing tinggi dan menghasilkan pekerjaan konstruksi yang berkualitas,

Pentingnya Sertifikasi
Pemberian sertifikasi kepada para tenaga ahli sangat penting untuk memberi jaminan mutu pekerjaan konstruksi dan kehandalan sektor konstruksi. Di mana sertifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan profesi keahlian dan keterampilan kerja seseorang di bidang jasa konstruksi menurut disiplin keilmuan dan atau keterampilan tertentu dan atau keahlian tertentu.

Sertifikat adalah tanda bukti pengakuan atas kompetensi dan kemampuan profesi yang diberikan kepada seseorang. Sertifikat Keahlian Kerja (SKA) diterbitkan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi dan diberikan kepada tenaga ahli konstruksi yang telah memenuhi persyaratan berdasarkan disiplin keilmuan, (Peraturan LPJK No. 04 Tahun 2011).

Masalahnya sekarang bagimana meningkatkan pelayanan akan kebutuhan sertifikasi tersebut dan bagaimana para tenaga ahli kita berkompeten di bidangnya dan mampu bersaing dengan tenga-tenaga ahli profesional lainnya.

Bila menilik dari daftar sertifikasi berdasar klasifikasi tenaga ahli jasa konstruksi ada bidang arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, tata lingkungan, dan manajemen pelaksanaan kontruksi. Dalam dunia profesional, tenaga ahli selalu disertakan dengan keberadaan bukti kepemilikan sertifikasi atas keahliannya, yang didukung dengan beberapa referensi terkait keahlian/kemampuannya tersebut, melalui lembaga-lembaga yang terakreditasi keberadaannya.

Sehingga, seseorang yang menyandang atribut ini banyak dianggap oleh sesamanya ataupun khayalak sebagai sumber terpercaya atas teknik maupun keahlian, yang bakatnya adalah untuk menilai dan memutuskan sesuatu dengan benar, baik, maupun andal, sesuai dengan aturan dan status.

Merujuk pada pengertian di atas, perlu refleksi dari semua pihak yang menyandang terkait atribut “Tenaga Ahli”. Sudahkah relevan dengan apa yang diperbuat selama ini? dan kontribusi apa yang sudah dilahirkan? Mari bereorientasi terkait hal ini, sehingga tak ada yang salah dalam mentrjemahkan tugas pokok profesi tenaga ahli di manapun mereka berkiprah.

Patut diapreseasi besaran remunerasi minimal yang diatur oleh pemerintah khususnya Kepmen PUPR misalnya untuk tenaga ahli muda S1 dengan pengalaman 1 tahun, maka besaran remunerasi minimalnya adalah Rp17,352 juta per bulan. Lalu lulusan S2 pengalaman 1 tahun Rp25,546 juta per bulan dan S3 dengan pengalaman 1 tahun Rp29,884 juta. Tenaga ahli madya S1 pengalaman 1 tahun Rp20,24 juta per bulan, S2 pengalaman 1 tahun Rp28,92 juta dan S3 pengalaman 1 tahun Rp33,74 juta.

Begitu besarnya penghargaan pemerintah kepada para tenaga ahli maka para tenaga ahli sekarang tertantang untuk bekerja secara profesial agar hasil pekerjaan yang diberikan berkualitas yang didukung oleh sikap penuh pemahaman (understanding), kesungguhan (sincerity) dan menampakkan keahliannya sebagaimana kebutuhan lapangan pekerjaannya. Juga harus mampu mengiplementasikan manajemen kualitas total (total quality management), sehingga total kegiatan dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya. Dengan demikian, nilai kepuasan pengguna juga tercapai secara proporsional, semoga!(***)

Staf Pengajar pada Fakultas Teknik UIR
(Anggota Dewan Pengurus Provinsi Intakindo Riau)




KOMENTAR
Terbaru
Ahok Akan Sampakan Bukti Istrinya Selingkuh

Rabu, 21 Februari 2018 - 02:17 WIB

Retail Sales Daihatsu Januari 2018 Tembus 15.896 Unit

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:56 WIB

 18 Tahun Hino Ranger Jadi Market Leader di Indonesia
KFC Tutup Ratusan Restorannya

Rabu, 21 Februari 2018 - 01:16 WIB

BUMN Proyek Infrastruktur Dapat Ancaman

Rabu, 21 Februari 2018 - 00:58 WIB

Follow Us