Ketika Pilot Kembali Nyabu

7 Desember 2017 - 09.42 WIB > Dibaca 112 kali | Komentar
 

RIAUPOS.CO - Seorang pilot salah satu maskapai penerbangan kedapatan sedang nyabu dan ditangkap Polres Kupang, di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/12) lalu. Ini tentu saja indikasi bahaya. Sebab, pilot seharusnya salah satu profesi yang bersih dari penyalahgunaan narkoba.

Sangat berbahaya jika ada pilot yang masih dalam keadaan teler berat justru menerbangkan pesawat. Dia bisa “melayang” justru ketika melayangkan pesawat yang ada dalam kendalinya. Saat dia “melayang” itu, dia tak akan menyadari situasi, tombol apa yang dipencet, apa yang dibicarakan, dan sebagainya. Memang di sisinya ada co-pilot. Juga ada yang memandu di menara pemantau (air traffic control/ATC). Akan tetapi yang tahu situasi sebenarnya tetaplah seorang pilot. Pilot yang teler tentu membahayakan nyawa penumpang yang dibawanya.

Ironisnya, pramugari maskapai penerbangan yang bersangkutan menyebutkan alasan pilot terlibat sabu karena pekerjaannya. Apakah profesi pilot memberikan tekanan yang luar biasa? Tentu ini pertanyaan besar yang harus konkret jawabannya. Kalau ada tekanan pekerjaan, seperti apa? Apakah jadwal yang padat? Kalau padat, kenapa masih sempat nyabu?

Beberapa waktu yang lalu, seorang pilot ketahuan ngawur saat berbicara melalui pelantang suara dari kokpitnya. Situasi yang aneh itu diributkan penumpang. Kemudian ketahuanlah bahwa sang pilot sedang mabuk. Ada lagi kondisi pilot yang ketahuan mengkonsumsi tembakau gorilla. Tembakau ini bukan tembakau biasa, tapi bisa menyebabkan efek halusinasi tingkat tinggi, seperti diimpit gorila. Tentu sangat berbahaya bagi kondisi seorang pilot yang akan menerbangkan pesawat.

Puluhan atau ratusan nyawa terancam akibat ulah pilot seperti ini. Itulah situasi yang bisa terjadi kapan dan di mana saja. Orang-orang menyerahkan nasibnya pada satu atau dua orang. Jika satu atau dua orang itu tak memiliki dedikasi, tanggung jawab, dan kesadaran tentang dirinya yang menentukan nasib banyak orang, maka kehancuran massal akan terjadi. Tak hanya pada pilot, situasi ini bisa lebih luas pada kepemimpinan. Kalau salah memilih pemimpin, nakhoda sebuah negeri, atau pilot sebuah kawasan, bencana bisa menunggu.***
KOMENTAR
Follow Us