Tadarus Puisi, Menjulang Ramadan

Memungut Ceceran Wahyu Tuhan

5 Agustus 2012 - 07.43 WIB > Dibaca 4291 kali | Komentar
 
Memungut Ceceran Wahyu Tuhan
Salah seorang penyair Riau Syaukani al Karim membacakan puisi diiringi gesekan biola yang dimainkan Agus pada malam Tadarus Puisi, pekan lalu di selasar Anjung Seni Idrus Tintin. (Foto: fedli azis/riau pos)
Para penyair, seniman dan ilmuan adalah penyuluh dan menjadi bagian dari orang-orang yang mengumpulkan remah-remah firman yang tercecer. Mereka memungut dan mengutip ceceran-ceceran wahyu yang tak terekam dan tercatat dalam situasi kodifikasi. Kemudian menjahitnya, menyulam dalam jelmaan-jelmaan ‘kesamaan-kesamaan misteri’, bunyi, lirik, bidang, garis, gerak, getar dan sebagainya.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

SETIAP penyair memiliki karakter tersendiri dalam menuliskan puisi-puisinya, termasuk saat membacakan karyanya. Paling tidak, kesan itulah yang lahir dan mengemuka pada helat bertajuk ‘’Tadarus Puisi, Menjulang Ramadan’’ yang berlangsung di selasar Gedung Teater Tertutup Anjung Seni Idrus Tintin, Sabtu (28/7). Beberapa penyair hadir dan beraksi dengan gaya dan cara yang unik.

Tak hanya dihadiri para penyair dan seniman asal Kota Pekanbaru, pada helat tersebut hadir pula Budayawan Riau Yusmar Yusuf yang menyampaikan pidato kebudayaannya yang bernas. Sedangkan para penyair yang tampil antara lain Fakhrunnas MA Jabbar, Syaukani al Karim, Eddy Akhmad RM, Hang Kafrawi, Taufik Hidayat, Monda Gianes, Deni Alfiadi dan lainnya. Tampil pula grup musik Tube.

Rata-rata, puisi-puisi yang dibacakan para penyair bernuansa islami alias ke-aku-an yang teramat rendah di bawah kuasa Tuhan pemilik alam semesta beserta isinya. Namun tak ketinggalan pula karya-karya yang bertutur tentang ke-riau-an, baik tentang kekalahan maupun keperihan akibat pemimpin zalim yang mementingkan diri pribadi dan kroninya sendiri. Kekuatan kata-kata yang diungkai dalam larik-larik memberi kesan akan kedalaman renungan mereka pada situasi dan kondisi yang membelit negeri ini sejak dulu hingga kini.

Menariknya, pembacaan kata-kata dari hasil perenungan panjang dan mendalam itu berbancuh dengan dentuman mercun yang nyaris tiap malam dimainkan muda-mudi di kawasan Bandar Serai. Ini juga, seakan memberi kesan bahwa para penyair berteriak lantang dalam sebuah situasi perang yang tak kunjung usai.

Di penghujung acara, Budayawan Riau Yusmar Yusuf menyampaikan pidato kebudayaan singkat namun mencerahkan. Yusmar membuka pidatonya dengan mengatakan, dari semua puisi yang dibacakan, ia hanya menangkap dua fenomena yang masih membelit para penyair Riau sejak 1980-an hingga hari ini yakni ‘amuk’ dan ‘renungan kematian’. Ia agak khawatir dengan dua hal tersebut dan dengan tegas menyatakan, ketika Riau mengalami kehilangan demi kehilangan, hadapilah dengan enjoy alias santai. Tak perlu ditangisi lagi sebab jika hal itu terus berlangsung, maka penyair dan seniman juga menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari orang-orang kalah.

‘’Kondisi serupa bukan saja terjadi di Riau. Kehilangan demi kehilangan itu dialami oleh sebuah negara yang bernama Indonesia sebagai negara yang gagal,’’ katanya dengan suara yang lantang disambut pekikan mercun yang tak kunjung berhenti di malam itu.

Di sini, Yusmar mengajak semua orang yang hadir untuk berdalam-dalam agar memberi makna khusus pada helat tersebut. Ia membukanya dengan kata ‘teologi’ yang biasa dimaknai sebagai ilmu tentang ketuhanan. Namun ia menegaskan bahwa teologi adalah ilmu tentang kata-kata dalam hal ini adalah firman atau wahyu. Wahyu dengan tingkatan masing-masing yakni firman -- wahyu Allah yang berada di Lauh Mahfuz -- Tablet itu, yang original, transenden dan tak diketahui, abstrak dan tak terbatas.

Kemudian wahyu menjalani ‘fase ujaran’ karena Tuhan adalah ‘’Sang Pengujar’’, Dia memilih bahasa manusia untuk menyampaikan ‘bayan’Nya, dan demi dipahami manusia kepada nabi dan rasul. Pada tahap ini; originalitas itu masih terpelihara, begitu pula ‘dimensi tak terbatas’, juga terpelihara, karena dia belum disentuh makna dan persepsi manusia. Diusung oleh jiwa-jiwa yang maksum. Namun tahap berikutnya, bahasa yang digunakan tadi, mengalami ambigu; dari sini terjadi penafsiran tunggal dan saling menyalahkan, malah saling mengkafirkan. Ketika kodifikasi wahyu yang turun pada bulan ‘Ramadan’ (termasuk Zabur, Taurat dan Injil) mengalami fase ‘perekaman’, pencatatan dan serangkaian kodifikasi tentang hukum bacaan dan susunan, urutan surat-surat, Wahyu atau firman sedikit banyak mengalami ‘keterceceran’. Baik teks, apatah lagi konteks. Terutama semangat situasional, semangat ayat yang merujuk pada kontekstual ketika ayat atau surat itu diturunkan.

Pada para penyair, seniman dan ilmuanlah yang memungut dan mengutip ‘ceceran-ceceran’ wahyu yang tak terekam dan tercatat dalam situasi kodifikasi itu. Kemudian menjahitnya, menyulam dalam jelmaan-jelmaan ‘kesamaan-kesamaan misteri’, bunyi, lirik, bidang, garis, gerak, getar dan sebagainya. Seniman menghadirkan ‘formasi’ kesamaan-kesamaan misteri itu yang sejatinya ialah ‘jabaran’ atau i’tibar atas wahyu yang tercecer yang bersifat tak terbatas dan transenden itu.

Disebutkannya, seorang filsuf Amerika mengatakan, ‘’sebuah ibadah yang dipaksa-paksakan akan menjadi bau busuk di depan hidung Tuhan.’’ Begitu juga, ketika seni dipaksa-paksakan akan menjadi bau busuk di depan hidung para penyair, seniman dan sejenisnya. Karena itu, penyair maupun seniman yang sudah memahami sejak kesadaran harus membawa nilai-nilai terapan kepada perang kebudayaan, dan tak ada yang perlu ditakutkan.

Pidato kebudayaan yang singkat dan padat itu menjadi penutup malam ‘’Tadarus Puisi, Menjulang Ramadan’’. Helat yang juga terbilang singkat itu berlangsung atas prakarsa Koran Riau (KR) dan Dewan Kesenian Riau (DKR). Paling tidak, helat itu pula yang menjadi tradisi para seniman dan penyair untuk terus melanjutkan kegiatan rutin tahunan di malam-malam Ramadan nan suci.

Penyair nyentrik dan juga Pemimpin Umum (Pimum) Koran Riau, Eddy Akhamd RM cukup terkesan terlaksananya acara tersebut.

Apalagi, pelaksanaannya terbilang spontanitas namun tidak asal-asalan. Ditambah lagi, penyair yang bersedia untuk membaca puisi malam itu cukup populer di Riau bahkan Indonesia. Eddy RM juga merasa tersanjung karena Budayawan Riau Yusmar Yusuf turut hadir dan bersedia pula menyampaikan pidatonya.

Hang Kafrawi selaku ketua panitia mengatakan, semua penyair yang diundang hadir dan ini sebagai bukti bahwa malam tadarus puisi yang dilaksanakan setiap bulan suci Ramadan, selalu dirindukan para seniman di Kota Bertuah Pekanbaru dan sekitarnya. ‘’Alhamdulillah, acara yang digelar secara sederhana ini berjalan lancar dan arti pada kita semua,’’ ujarnya.***
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 24 Juni 2018 - 14:35 wib

Setelah 61 Tahun, Perempuan Arab Saudi Akhirnya Mengemudi

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:32 wib

Berencana Lakukan Aksi Teror di Pilgub Jabar

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:30 wib

Tips Menjaga Kesehatan dalam Perjalanan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:27 wib

Jumlah Pemilih 186.379.878 Jiwa

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:19 wib

Pilkada, 170 Ribu Polisi dan Ribuan TNI Diturunkan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:04 wib

Meksiko Berhasil Atasi Korea Selatan

Minggu, 24 Juni 2018 - 14:02 wib

Xiaomi Mi Max 3 Tampil dengan Layar Lebar

Minggu, 24 Juni 2018 - 13:59 wib

Sofa cushion Bikin Susah Beranjak

Follow Us